Artikel

Edukasi

Sis12

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Usia sudah setengah abad. Semua orang akan mati, tapi tulisannya tidak. Saya Arsitek "freelance" lulusan Unpar-Bandung. Sambil bekerja saya meluangkan waktu untuk menulis karena dorongan dari dalam diri sendiri dan semoga berguna untuk siapapun yang membacanya. Sedang menulis buku serial fiksi "Planet Smarta" untuk menampung idealisme, kekaguman saya terhadap banyak hal dalam hidup ini, bayangan-bayangan ilmu pengetahuan yang luar biasa di depan sana yang menarik kuat-kuat pikiran saya untuk mereka-rekanya sampai jauh dan menuangkan semuanya dengan daya khayal saya.

Aneka Tips Negara Sehat (1)


OPINI | 25 February 2009 | 12:24 Dibaca: 457   Komentar: 2   Nihil

Tips 1: Cara Melawan Korupsi

Korupsi identik dengan yang serba sembunyi-sembunyi, maka kunci untuk melawannya adalah keterbukaan. Maka buat saja semua BUMN dan semua lembaga yang dibiayai uang rakyat membuka diri kepada rakyat melalui media internet, baik menyangkut pembukuannya, kinerjanya, tender-tender proyeknya dan segala sesuatu yang menyangkut semua aktifitasnya.

Jadi seluruh rakyat bisa meneropong dengan jelas aset miliknya sendiri. Tinggal dikerahkan orang-orang pintar untuk mengeceknya: setiap mahasiswa diberi tugas untuk menilai kinerja satu BUMN yang data-datanya bisa diakses via internet; dan semua orang pintar di negeri ini bisa mengecek juga. Keuntungannya jelas: Pejabat akan berpikir seribu kali kalau mau korup, bahkan kalau kinerja perusahaan atau lembaga yang dipimpinnya jelek. Kerugiannya: tak ada lagi rahasia perusahaan. Tapi, mengapa pula harus dirahasia-rahasiakan kalau memang semuanya serba wajar?

Saya percaya, suatu saat di seluruh dunia tidak ada lagi yang bisa membendung prinsip keterbukaan ini. Krisis global yang sekarang terjadipun diakibatkan oleh banyaknya ketertutupan sistem di seluruh dunia. Kesalahan fundamental manusia adalah kebiasaan menyembunyikan yang tidak seharusnya disembunyikan, bahkan menyembunyikan dosa dari matanya sendiri.

Tips 2: Cara Menanggulangi Kemiskinan

Sekarang terkenal istilah Bantuan Langsung Tunai. Siapa diantara kita yang tidak ingin menyantuni orang miskin jika kita mampu? Semua ingin jika itu tepat guna dan tepat sasaran. Masalahnya adalah ketika tiba-tiba banyak orang yang mengaku miskin dan amat perlu dibantu. Kita sudah cukup banyak menyaksikan tipuan “orang miskin” di jalan-jalan raya. Orang sehat yang berdandan mengenaskan biar dikasihani. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya merampok rejeki orang yang benar-benar miskin. Itupun masih dalam skala kecil. Dalam skala besar tentunya orang-orang yang berkedok menolong tapi malahan menggelapkan bantuan untuk orang miskin dan menderita karena bencana.

 

Kita bisa saja bilang:”Ah, biar saja, itu kan dosa mereka sendiri. Niat kita baik koq.” Tetapi masalahnya kan bukan andanya yang mampu memberi, melainkan kemiskinan itu sendiri yang harus diperbaiki. Kalau orang miskin ditipu terus oleh orang sehat yang tidak miskin, lalu kapan mereka benar-benar terjangkau oleh niat baik kita dengan macam-macam program santunan itu? Sekali lagi: menyantuni tidak salah, tetapi harus terus dicari upaya untuk memberdayakan.

 

Ada satu cara yang cukup cerdik, yang idenya berasal dari Nabi Isa ketika Beliau membuat perumpamaan sebagai berikut: “Ada bibit yang baik, tetapi bibit itu jatuh di tanah gersang dan segera mati sendiri. Sebagian jatuh di tanah berhumus tipis, ketika matahari menerpanya ia segera mati karena akarnya tidak dalam. Dan sebagian lagi jatuh di tanah subur lalu tumbuh kuat dan berbuah lebat dari puluhan hingga ribuan kali lipat!”

 

Di dunia ini tidak ada bangsa yang tidak dikaruniai bibit-bibit baik di dalamnya. Bibit itu bisa berupa sumber daya manusia yang cerdas dan berbakat, sumber daya alam, dan macam-macam lagi. Tetapi yang banyak terjadi adalah: banyak bibit-bibit baik itu mati sendiri atau tidak berkembang karena tidak ada yang menyentuhnya.

 

Para orang cerdas dan berbakat banyak yang mati karena tak berdaya oleh kemiskinannya atau tak mendapat kesempatan untuk berkembang atau karena tak mampu mengembangkan dirinya sendiri. Juga banyak yang terpaksa lari ke luar negeri karena pemerintah tidak bisa menjamin mereka dengan pekerjaan yang layak, sementara di luar negeri mereka sangat dihargai. Dengan tidak adanya konsep yang memadai dari pemerintah bagaimana harus memanfaatkan sumber daya manusia yang hebat ini, maka sebenarnya pemerintah telah berlaku seperti lahan tandus untuk para bibit baik ini. Padahal sumber daya manusia hebat ini bisa menjadi tumpuan dari rakyat kebanyakan yang rata-rata tidak hebat tapi selalu bisa mengerjakan sebuah pekerjaan tertentu yang minimal bisa menghidupi dirinya sendiri. Ini sebenarnya sebuah kerja besar yang perlu direalisasikan dengan benar. Tetapi selama para pemimpin cuma bisa mengiklankan dirinya sendiri, jangan harap masa itu akan segera datang.

 

Pemerintah sendiri sebenarnya bisa menjadi bibit baik tetapi juga bisa sebaliknya. Begitu juga dengan pengelolaan sumber daya alam, semua butuh konsep matang dan realisasi yang terarah. Ide sudah diberikan oleh Nabi sendiri, tinggal bagaimana manusia yang berakal budi melaksanakannya. Ada banyak ide lain, kebetulan saya hanya tahu itu yang sudah jelas bisa segera dikerjakan dan benar arahnya.

 

Kemiskinan tumbuh ibarat deret tambah, mengatasinya harus dengan konsep yang hasilnya tumbuh seperti deret kali. Tanpa konsep dan kerja yang terarah serta dedikasi yang memadai, kita akan terus berputar-putar berjalan dalam lingkaran setan kemiskinan, sampai ajal menjemput kita sebagai kaum duafa lahir-batin.

 

Tips 3: Cara Mengatasi Banjir

 

Ini langganan kita. Hukum alam itu amat sederhana: air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, meluber kalau disumbat, mengalir deras dari gunung kalau gunungnya gundul! Bagaimana hukum alam sesederhana itu bisa membuat kita tenggelam oleh banjir selama bertahun-tahun? Siapa yang salah? Kita, bukan cuaca! Cuaca hanya kadang-kadang buruk, tapi sikap kita lebih buruk dan terus menerus.

Perusakan lingkungan dan kebiasaan buang sampah sembarangan adalah salah satunya. Sungai-sungai dibiarkan tersumbat dan menyempit oleh kegiatan di sekitar bantaran sungai yang tak terkontrol. Lalu coba anda cari: di RT mana di seluruh Indonesia yang parit-parit rumahnya benar mengikuti hukum alam sederhana di atas? Mengapa yang populer setiap 17 Agustus adalah lomba panjat pinang dan semangat ngemis sumbangan di jalan-jalan raya? Mengapa tidak ada lomba bikin parit benar se RT dengan dana bantuan pemda serta hadiah besar kalau perlu? Setelah paritnya benar, mengapa tidak mengajari bagaimana membuat resapan air hujan yang baik di setiap rumah atau bahkan di dalam struktur parit itu sendiri? Setelah bisa mengurus rumah se RT, pasti bisa diharapkan mengurus masalah banjir se RW dan akhirnya se Kota.

Kenapa kita malas melakukannya? Salah satunya adalah: karena tidak ada yang menggaji ketua RT dan tidak ada dorongan yang terarah dari pemda, baik berupa dana, peralatan pengukur ketinggian tanah dan tenaga ahli yang setingkatan mahasiswa sekalipun! Memangnya orang disuruh kerja bakti terus? Coba benarkan dulu struktur admisnistrasi pemerintahannya sehingga masing-masing pimpinan kelompok kecil masyarakat bisa dimintai pertanggung-jawaban hasil kerjanya.

Sekarang jangan tanggung, andaikata anda jadi Tuhan dan melihat sikap orang-orang di bawah sana yang begitu bandelnya dikirim banjir terus menerus tapi tetap cuek, apa yang akan anda lakukan? Merasa kasihan dan membatasi hujan? Wahh…, Sori, kalau saya mah malahan kirim banjir bandang sekalian, paksa untuk berubah! (Untung Tuhan tidak sekejam saya, sehingga kita masih setengah selamat, tapi anda boleh mencobai Dia terus sampai habis kesabaranNya dan anda merasakan akibatnya)

Bersambung ke:  http://edukasi.kompasiana.com/2009/02/26/aneka-tips-negara-sehat-2/

                            http://edukasi.kompasiana.com/2009/03/01/aneka-tips-negara-sehat-3/

                            http://edukasi.kompasiana.com/2009/03/02/aneka-tips-negara-sehat-4/

 

**********

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: