
Usia sudah setengah abad. Semua orang akan mati, tapi tulisannya tidak. Saya Arsitek "freelance" lulusan Unpar-Bandung. Sambil bekerja saya meluangkan waktu untuk menulis karena dorongan dari dalam diri sendiri dan semoga berguna untuk siapapun yang membacanya. Sedang menulis buku serial fiksi "Planet Smarta" untuk menampung idealisme, kekaguman saya terhadap banyak hal dalam hidup ini, bayangan-bayangan ilmu pengetahuan yang luar biasa di depan sana yang menarik kuat-kuat pikiran saya untuk mereka-rekanya sampai jauh dan menuangkan semuanya dengan daya khayal saya.
Dibaca: 251
Komentar: 0
Nihil
Lanjutan 3 tulisan sebelumnya:
http://edukasi.kompasiana.com/2009/02/25/aneka-tips-negara-sehat/
http://edukasi.kompasiana.com/2009/02/26/aneka-tips-negara-sehat-2/
http://edukasi.kompasiana.com/2009/03/01/aneka-tips-negara-sehat-3/
Tips 7: Menciptakan Jaringan Lampu Lalu Lintas Yang Cerdas
Macet telah menimbulkan kerugian yang tak terkira besarnya: pemborosan bahan bakar, waktu, daya tahan fisik dan mental, serta penumpukan polusi udara. Kemarin saya telah memberi satu solusi di tips no. 6, dan sekarang saya menambahkan dari sudut teknis yang lebih spesifik. Sebelumnya mohon maaf kalau tulisan ini agak sulit dicerna karena penuh rumusan matematis. Hal itu tak bisa dihindari.
Seringkali kita dibuat kesal dengan nyala lampu lalu lintas (la-lin) yang asal nyala. Mobil baru jalan sekian puluh meter, eh …di depan lampu la-lin sudah menyala merah lagi, terpaksa berhenti lagi. Kejadian ini bisa berulang berkali-kali dalam jarak yang relatif dekat, sehingga lama-lama terjadi deretan antrian kendaraan yang memicu kemacetan dimana-mana. Kejadian ini masih diperparah dengan durasi(lamanya) waktu menyala lampu la-lin yang seringkali juga asal-asalan. Kalau sudah macet yang kita salahkan adalah “volume kendaraan jauh lebih panjang dari jumlah panjang jalan.” Padahal peran lampu la-lin sendiri sebagai faktor yang melancarkan atau menghambat sangatlah besar. Kalau lampu la-linnya dibuat cerdas pastilah melancarkan, sebaliknya kalau asal nyala ya pasti menghambat.
Bagaimana caranya membuat jaringan lampu la-lin cerdas? Hanya ada satu cara, yaitu cara yang berpedoman pada perhitungan matematika. Selain cara tersebut, biar dengan teknologi tinggi sekalipun (misalnya pakai kamera, monitor dan operator), saya jamin pasti gagal. Pakai kamera, monitor dan operator, misalnya, mungkin bisa mengatasi kemacetan di satu titik pada saat tertentu. Tetapi setelah di sekitar tempat tersebut terjadi macet yang akhirnya juga memaksa membuat macet di titik yang dimonitor, maka operatornya akan angkat tangan alias menyerah. Kamera, monitor dan operator pada akhirnya lebih berperan sebagai pemberi informasi kepada pengguna jalan tentang kondisi kepadatan lalu-lintas di suatu tempat, itupun jika pengguna jalan bisa menerima informasi-informasi tersebut melalui tampilan-tampilan elektronik yang dipasang di sepanjang jalan atau melalui HP yang dibawanya. Bayangkan betapa mahalnya semua teknologi tinggi tersebut dibandingkan dengan fungsinya. Cara pendekatan matematislah yang paling murah dan optimal hasilnya.
Kita pernah belajar di SD sebuah rumus matematika sederhana :
Waktu Tempuh = Jarak (m) : Kecepatan Rata-rata (m/detik).
Jadi kalau jarak antara lampu la-lin (A) dan (B) misalnya 100 m dan kecepatan rata-rata kendaraan di tempat tersebut 5 m/detik, maka dibutuhkan waktu tempuh dari (A) ke (B) = 100 : 5 = 20 detik. Itu artinya, 20 detik kemudian setelah lampu la-lin di (A) menyala hijau, maka lampu la-lin di (B) harus dibuat menyala hijau. Sepintas kelihatan sederhana, tetapi di kota ada ratusan lampu la-lin. Mengaturnya tentu tidak sesederhana dari (A) ke (B) saja. Misalnya kalau kita berjalan dari (A) ke (B) dengan arah utara ke selatan dan sampai di (B) menuntut lampu menyala hijau, mungkin saja orang lain yang berjalan dari Timur ke Barat dan sampai di (B) pada saat yang sama juga menuntut lampu la-lin di (B) menyala hijau. Itu artinya terjadi bentrok di (B), dan pasti kasus semacam ini akan ditemui di banyak titik persimpangan jalan. Tetapi kitapun punya cara untuk mengatasinya, yaitu:
1. Dengan cara mengatur durasi/lamanya waktu menyala (hijau, merah atau kuning) dari keseluruhan lampu la-lin yang ada di sekitar tempat tersebut. Dengan cara menambah atau mengurangi sekian detik lamanya waktu menyala lampu la-lin di beberapa titik pada jurusan utara-selatan atau timur-barat, maka akan ditemukan cara agar kasus bentrok tersebut dapat diatasi. Kreatifitas juga memegang peranan penting bila menghadapi masalah bentrok ini. Pikirkanlah jalur padat mana yang harus diprioritaskan kelancarannya dan jalur mana yang harus mengalah.
2. Variabel lainnya adalah waktu tempuh itu sendiri. Karena perhitungan yang kita buat adalah tiap jam, maka kita punya “range” waktu tempuh dalam jam-jam tersebut. Selama perhitungan kita masih masuk dalam “range”, itu berarti masih bagus.
Di bawah ini akan diuraikan secara lebih urut tentang cara-cara membuat lampu la-lin jadi cerdas:
1. Lakukan survey tentang lamanya waktu tempuh dari satu titik lampu la-lin ke titik berikutnya. Survey ini sebaiknya dilakukan setiap seperempat jam sekali, karena pada jam kosong dan jam sibuk pasti mendapatkan waktu yang berbeda. Cara surveynya adalah dengan cara mengendarai mobil (atau motor, tetapi harus mengikuti kecepatan mobil di dekatnya) langsung dari titik tersebut (A) ke titik berikutnya (B) dan mencatat waktu tempuhnya dengan “stopwatch”. Bila kita sendiri terjebak macet sebelum mencapai (B), perkirakanlah berapa detik sisa jarak yang macet tersebut andaikata ditempuh dengan kecepatan rata-rata terakhir kali kita mau berhenti. Tambahkanlah waktu tersebut dengan waktu yang dicatat oleh “stopwatch” sebelumnya. Hal ini kita lakukan karena nantinya kita berharap bahwa setelah sampai di (B), lampu la-lin menyala hijau, berarti kita jalan biarpun pelan. Survey ini sebaiknya dilakukan mulai jam 05.00 s/d jam 22.00 setiap hari selama seminggu pada hari-hari biasa (bukan pada hari libur khusus). Dari survey ini kita mengharapkan memperoleh data yang mendekati (tidak mungkin tepat persis) tentang lamanya waktu tempuh pada jam 05.00 s/d 06.00; 06.00 s/d 07.00; 07.00 s/d 08.00, dst. Berarti dalam satu hari ada 17 data atau dalam seminggu ada 119 data. Data inipun masih harus diperhitungkan untuk 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan, karena masalah banjir setempat di musim penghujan telah menjadi kendala yang hampir pasti. Yang melakukan survey boleh siapa saja, misalnya : Polantas, DLLAJR, atau tenaga honorer. Melengkapi hasil survey ini haruslah dicantumkan pula :
a. berapa lama sebaiknya lampu la-lin di tempat tersebut harus menyala merah, hijau atau kuning pada jam 5,6,7,dst. Angka ini diperoleh berdasarkan perkiraan melalui pengamatan mata langsung terhadap volume kendaraan yang melewati lampu la-lin itu pada periode jam-jam tersebut. (apakah yang sudah ada perlu ditambah/dikurangi atau tidak?) Tentu saja data ini akan kita ubah (ditambah/dikurangi) sesuai dengan hasil perhitungan kita kelak.
b. Cantumkan jalur dari arah mana yang paling padat dan bagaimana kondisi di jalur yang lainnya (padat, sedang atau sepi). Ini masih berkaitan dengan persoalan di poin (a).
c. Kegiatan apa saja di sepanjang jalan tersebut yang sering menyebabkan macet, misalnya : kegiatan pasar yang meluber ke jalan raya; aktifitas siswa di sekitar sekolah yang belum memiliki tempat parkir memadai atau jumlah siswanya terlalu banyak sehingga keluar-masuk kendaraan di tempat tersebut menghambat kepentingan umum; angkutan kota yang mangkal atau berhenti seenaknya; pengaturan parkir yang salah, dsb-dsb. Data ini kita pertimbangkan sebagai masukan kepada pemda dan usulan cara mengatasinya, misalnya : di sekolah/kampus yang ramai harus dipasang lampu la-lin di gerbang sekolah/kampus sehingga keluar-masuk kendaraan ada batas waktunya dan tidak seenaknya; dengan demikian berarti perhitungan kita semula akan mengalami perubahan karena penambahan satu titik lampu la-lin. Mungkin juga kita mengusulkan untuk merubah rute la-lin. Jangan dilupakan pula, bahwa kelancaran la-lin di satu jalan bisa menyebabkan peningkatan volume kendaraan secara drastis di jalan lain yang kapasitasnya lebih kecil, dan otomatis menyebabkan kemacetan pula. Pengamatan-pengamatan yang jeli memang sangat diperlukan dalam menata la-lin, dan itu mungkin banyak terjadi kalau kita semakin mendalami pola tata-kota.
2. Plot data-data tersebut pada denah lampu la-lin kota (sediakan 119 denah + 1 denah hasil rangkuman) dan mulailah melakukan perhitungan dari titik yang paling sering macet. Yang kita cari dalam perhitungan ini adalah : Kapan atau jam berapa saja dan berapa lamakah lampu la-lin di tempat tersebut harus menyala merah, hijau atau kuning? Lakukanlah perhitungan ini dengan menggunakan cara seperti yang telah diterangkan di atas sampai sedetail-detailnya (detik).
3. Jadikanlah hasil perhitungan tersebut menjadi semacam program komputer yang menghasilkan “timer” (pengatur waktu) menyalanya lampu la-lin di tiap persimpangan di seluruh kota sesuai dengan denah yang kita buat tadi. Dengan demikian tidak ada satupun titik yang memiliki kesamaan waktu menyalanya, kecuali kebetulan. Mereka akan menjadi sebuah jaringan yang akan menjadi salah satu dewa penolong dalam mengatasi kemacetan kota. “Timer” tersebut harus ada cadangannya, sehingga kalau terjadi kerusakan dapat segera diganti. Tidak perlu satu “timer” satu cadangan; mungkin secara keseluruhan kita cukup memiliki cadangan kurang dari 5%, karena satu “timer” akan dengan mudah kita atur sesuai dengan waktu menyala di titik tersebut untuk kemudian menjadi pengganti dari “timer” yang rusak. Dan kalau sudah memakai “timer”, jangan ada lagi tangan jahil yang mengutak-atiknya.
4. Pantaulah hasil kerja jaringan yang telah tercipta tadi untuk memberikan input timbal balik kepada hasil perhitungan kita sendiri. Akan lebih baik kalau dibuat simulasi dengan program komputer animasi sebelum diterapkan untuk memeriksa ulang hasil perhitungan kita. Pada tahap-tahap awal mungkin akan terjadi cukup banyak revisi sampai didapatkan hasil yang benar-benar optimal. Perlu diingat, bahwa kota akan selalu berkembang dengan perubahan macam-macam fungsi di sepanjang jalan. Jaringan yang telah terciptapun harus terus disesuaikan dengan kondisi kota yang baru, sehingga perlu dievaluasi dan direvisi setiap kali dianggap perlu, disamping revisi berkala setiap 1 tahun sekali.
Kita jangan berharap bahwa setelah jaringan pengatur la-lin ini tercipta lalu semuanya jadi lancar tanpa kendala, tentu itu tidak mungkin. Kenyataannya memang volume kendaraan di kota-kota besar cenderung meningkat terus dan aturan yang berusaha menghambatnya sangat minim Tetapi anda bisa berpikir demikian :”Kalau diatur dengan cara seperti ini saja masih banyak kemacetan, apalagi kalau nyala la-linnya asal-asalan!, bisa anda bayangkan runyamnya!”
Apakah semua ini sulit untuk dilaksanakan? Saya rasa tidak. Kita sudah banyak memiliki ahli-ahli matematika, komputer, insinyur-insinyur kelistrikan, tenaga-tenaga surveyor, dll yang kita butuhkan untuk melaksanakannya. Biayanyapun tidak terlalu besar (kecuali kita “mark up” sendiri) karena tidak banyak perangkat ataupun teknologi mahal yang dibutuhkan. Kesabaran dan ketelitian orang yang menghitunglah yang paling harus dihargai. Ini suatu proyek yang sangat dibutuhkan oleh banyak kota. Manfaatnya jelas sangat besar: Berapa banyak waktu yang bisa dihemat oleh warga seluruh kota kalau arus lalu lintas bisa sedikit saja lebih lancar? Kalau diuangkan barangkali hasilnya sudah ribuan kali lebih besar dari biaya yang harus kita keluarkan untuk membentuk jaringan la-lin cerdas ini. Selamat bekerja.
************