Kompasiana
Sabtu, 04 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Sis12

Usia sudah setengah abad. Semua orang akan mati, tapi tulisannya tidak. Saya Arsitek "freelance" lulusan Unpar-Bandung. Sambil bekerja saya meluangkan waktu untuk menulis karena dorongan dari dalam diri sendiri dan semoga berguna untuk siapapun yang membacanya. Sedang menulis buku serial fiksi "Planet Smarta" untuk menampung idealisme, kekaguman saya terhadap banyak hal dalam hidup ini, bayangan-bayangan ilmu pengetahuan yang luar biasa di depan sana yang menarik kuat-kuat pikiran saya untuk mereka-rekanya sampai jauh dan menuangkan semuanya dengan daya khayal saya.

Siswa Brilian Hijrah Ke Luar Negeri, Bukan Salah Mereka!

REP | 23 April 2009 | 18:54 576 15 Nihil

Ini cerita lama yang baru mencuat kemarin karena dijadikan berita utama Kompas tanggal 20 April 2009 di halaman depan dengan judul: Singapura Buru Siswa Brilian. Ada 12.893 siswa SD-SMA, 3.541 Jenjang S1 dan 1.907 Jenjang S2-S3 yang saat ini belajar di Singapura, terutama di sekolah-sekolah ternama di sana. Sayang yang disorot Kompas hanya para mahasiswanya, padahal mereka banyak merekrut mulai dari tingkat SMP sampai Universitas. Mudah-mudahan sedikit laporan yang saya tulis ini bisa melengkapi laporan Kompas tersebut.

 

Untuk tingkat Secondary School (SMP dan SMA, berijazah “Ordinary” atau “O” Level, biasa ditempuh dalam waktu 4 tahun untuk express dan 5 tahun untuk umum), sekolah top di Singapura antara lain Anglo Chinese School Independent (ACSI) dan Raffles Girls’ Secondary School; sedangkan untuk Universitasnya adalah Nanyang Technological University (NTU) dan National University of Singapore (NUS).

 

Kalau anda masuk ke lokasi Secondary School ACSI di daerah Dover Road - Singapore, anda mungkin akan terbelalak melihat semua fasilitas yang ada di sekolah tersebut: Sekolah seluas sekitar 11 ha dengan bangunan gedung-gedung megah dan lapangan-lapangan olah raga terbaik di dalamnya: Mulai dari Hall utama, ruang-ruang kelas, bangunan asrama, gedung olah raga dengan fasilitas maha lux, berbagai lapangan olah raga serba komplit, beberapa kolam renang berstandar olimpiade, bahkan tahun lalu mulai beroperasi gedung baru ACSI berdiploma IB (International Baccalaureate, setingkatan pra universitas, lanjutan dari “O” level dan berdurasi 2 tahun) dengan standar internasional yang luar biasa elitnya, bahkan termasuk yang terbaik di dunia. Masih ditambah banyak ruang-ruang lain yang melengkapi fungsi sebuah sekolah menengah maha elit: dari laboratorium, ruang pertemuan, auditorium, perpustakaan dll-dll. Pendeknya jangan cari sekolah sekelas itu di Indonesia, tak akan ketemu.

 

Ribuan siswa setingkatan SD-SMA dari Indonesia tentu saja tidak semuanya brilian, mereka rata-rata anak orang kaya dari Indonesia yang memang mencari pergaulan dan sekolah terbaik untuk anaknya. Uang sekolah di sekolah top Singapura jelas tidak main-main mahalnya, sekitar 4 sampai 5 juta sebulan untuk siswa internasional dan setengahnya untuk siswa lokal. Belum termasuk biaya asrama yang bisa mencapai sekitar 70 juta lebih setahunnya. Anda juga masih harus memikirkan biaya-biaya yang lain: uang saku anak, buku-buku pelajaran, seragam sekolah, study tour ke luar negeri, sumbangan-sumbangan, dll.

 

Tetapi memang banyak sekali siswa brilian dari berbagai sekolah di Indonesia yang memperoleh beasiswa di sana, lengkap dengan uang saku tiap bulannya, sehingga orang-tuanya tak perlu pusing memikirkan biaya pendidikan anaknya lagi. Syaratnya: prestasi top di berbagai bidang, bukan cuma pintar di sekolah, tetapi akan lebih diutamakan yang juga jago di luar sekolah: jago olah raga, jago musik, dan para jagoan lainnya (termasuk para juara olimpiade science). Para penghuni asrama itu rata-rata para jagoan. Kalau anak anda cuma biasa-biasa saja, sungguh jangan berharap bisa diterima di asrama tersebut, yang untuk masuk ke dalamnya saja harus punya kartu khusus agar pintunya mau membuka karena anda dikenali. Di sana berkumpul bibit-bibit terbaik dari berbagai Negara Asia Tenggara.

 

Anak Indonesia tak jarang menjadi yang terbaik (siswa teladan) di sekolah-sekolah top tersebut, dan umumnya mereka menerima penghargaan berupa uang kontan juga. Tahun lalu siswa teladan ACSI yang berasal dari Indonesia menerima penghargaan dan uang kontan sekitar Sin $2000 (sekitar 14 juta rupiah), jumlah yang besar untuk ukuran seorang siswa SMA. Anak-anak jenius dari Sekolah “Pra Universitas” berijazah IB bisa diterima di Universitas Top berbagai Negara di dunia tanpa melalui tes lagi, karena standar ijazah IB memang standar yang dibentuk bersama oleh berbagai universitas-universitas top dunia tersebut. Saat ini, berbagai sekolah SMA ternama di Indonesia menjadi langganan penyuplai bibit-bibit siswa top tersebut, dan itu sungguh bukan tindakan yang anasionalis, karena semua orang tua dan guru pasti menginginkan anak-anaknya memperoleh jalan yang terbaik, dimanapun mereka akan meneruskan sekolah dan kariernya. Dan Indonesia memang belum bisa memberikannya, anda bisa membaca pengakuan itu di harian Kompas tanggal 20, 21 dan 22 April 2009 yang baru lalu.

 

Baik, itu kenyataannya: Anak Indonesia, terutama para jeniusnya, banyak yang terbang ke manca Negara. Memandang mereka anasionalis adalah amat sangat salah. Akan lebih baik kalau kita berkaca diri, melihat amburadulnya Negara kita sendiri dioperasikan. Singapura adalah Negara yang sangat tertib. Mereka memiliki planning (perencanaan) yang jelas mengapa mereka berbuat seperti itu (merekrut begitu banyak siswa jenius). Singapura itu ibarat gurita raksasa: badannya memang kecil, tapi tangan-tangannya menjangkau begitu banyak belahan dunia. Perusahaan-perusahaan raksasa Singapura bertebaran di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sebut saja: Sing-Tel, United Overseas Bank, Singapore Airlines, Flextronics International, Caltex, dll. Mereka jelas butuh banyak sekali sumber daya manusia handal untuk mengoperasikan semua perusahaan-perusahaan raksasa dan riset-riset mereka. Tenaga tersebut tidak mungkin bisa dipenuhi dengan hanya mengandalkan tenaga lokal semata, maka cara-cara sistematis telah dirancang dengan gencarnya sejak beberapa tahun yang lalu, dan amat mengherankan bahwa banyak orang baru kaget akhir-akhir ini.

 

Tenaga-tenaga handal ini jelas tidak dibayar murah untuk ukuran standar dunia sekalipun, tetapi sebenarnya tetap kecil nilainya jika diukur dengan keuntungan besar yang mereka raup dari seantero dunia. Ini adalah kecanggihan sistem manajemen moderen yang mereka terapkan dengan konsekwen dan penuh perhitungan. Sebaliknya, Indonesia adalah Negara besar yang masih terus tidur sampai hari ini. Kita umumnya hanya diperhitungkan oleh manca Negara terutama sebagai penyuplai bahan mentah, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia (khususnya yang jenius dan berbakat khusus). Dan sesungguhnya belum ada usaha yang signifikan (terencana dan terarah) untuk mengubah posisi kita yang seperti itu. Untuk rebutan tenaga handal, jelas kita tak bakalan menang. Jujur saja: berapa sih Indonesia bisa menggaji mereka?

 

Tetapi yang paling parah adalah: andaikata seluruh tenaga handal dari Indonesia di luar negeri itu mau pulang semua, maka baik mereka maupun pemerintah hanya akan bisa celangap. Yang pulang akan bertanya: “Saya ini mau mengerjakan apa?” dan pemerintah akan bingung sendiri: “Saya ini mau menyuruh anda berbuat apa?” Secara gampang sekali kita bisa berkaca, bahwa perusahaan nomor wahid Indonesia yang dahulu dibanggakan: PT Nurtanio, sekarang jadi apa?

 

Saya pribadi sebenarnya punya harapan tersendiri untuk lima tahun ke depan. Kita sering melihat pak Habibie menemui pak SBY di kediamannya di Cikeas. Saya berharap, selain calon Wakil Presiden, apa yang mereka bicarakan salah satunya adalah keadaan Indonesia yang seperti ini dan bagaimana harus merubahnya menjadi masa depan yang penuh harapan. Pak Habibie adalah salah satu putra terbaik bangsa ini yang kualitasnya diakui Internasional. Biarpun menurut saya beliau dahulu salah langkah langsung membuat pesawat terbang dengan manajemen produksi dan pemasaran yang begitu rumitnya, tetapi hal itu pasti telah membuatnya jauh lebih berpengalaman dan berhati-hati. Akan amat disayangkan kalau pengalaman yang harganya begitu mahal tidak dimanfaatkan kembali dengan baik, meskipun misalnya beliau hanya duduk sebagai seorang penasehat.

 

Aset Nurtanio, biarpun mungkin tinggal gedungnya, bisa dipakai untuk mengawali sebuah perubahan yang lebih terencana dan terarah dengan prinsip kehati-hatian serta kontrol setinggi mungkin. Dari situ (dan kelak dengan jaringannya di seluruh Indonesia) bisa lahir produksi motor, mobil, kereta api, kapal, alat-alat berat, dan berbagai mesin industri yang merajai pasar negeri sendiri dan menyerap tenaga kerja profesional sampai tenaga kerja paling bawah dalam jumlah yang amat banyak. Kuncinya benar-benar ada dalam perencanaan yang matang dan terarah, karena pasar dalam negeri sendiri sudah sangat mendukung daya serapnya. Kalau harga mobil di Negara seperti New Zealand saja hanya sekitar setengahnya dari harga mobil di Indonesia, itu menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia bisa memproduksi mobil untuk rakyatnya sendiri dengan biaya yang jauh lebih murah lagi. Ini terbukti bahwa Indiapun telah bisa berbuat seperti itu. Jadi mengapa kita harus membiarkan rakyat kita terus menerus membeli produk luar dengan harga berlipat ganda? Momen seperti ini tak akan pernah terwujud kalau tidak direncanakan dengan amat serius oleh pemerintah Indonesia sendiri.

 

Tidak perlu semuanya harus dikerjakan sendiri memang. Komponen industri apapun yang bisa disuplai Negara lain dengan kwalitas sama dan harga lebih murah, adalah wajib diimpor. Pokoknya apa yang terbaik dan termurah (bukan murahan) adalah target produk industri dalam negeri yang harus dikejar. Tanpa kerja keras dan dedikasi, apalagi jika hanya bisa korupsi, maka sungguh-sungguh amat kasihan nasib rakyat Indonesia dan alamnya di hari-hari mendatang, ketika tak ada lagi bahan mentah yang bisa dijual ke manca Negara dan alam rusak semua.

 

Tentu saja bukan hanya sektor Industri yang bisa dikembangkan. Indonesia amat kaya. Dunia pertanian dan kelautan juga siap menanti kembalinya tenaga profesional Indonesia dari luar negeri. Belum lagi sumber hayati tanaman sebagai bahan obat-obatan, berbagai material untuk produk teknologi nano, dan begitu banyak macamnya lagi. Perencanaan yang matang dari ide awal sampai terwujud sebagai barang jadi yang siap pakai adalah kata kunci yang harus dilalui. Para jenius kita itulah yang bisa banyak membantu, setelah pemerintah menyediakan sebanyak mungkin wadahnya.

 

Kalau masih belum mengerti arahnya, jangan malu-malu untuk bertanya kepada begitu banyak orang cerdas asal Indonesia sendiri, tentang apa sebaiknya yang harus dikerjakan oleh Pemerintah di berbagai bidang agar Negara ini memperoleh kemajuan yang berarti. Kalau perlu gelar lomba membuat proposal atau konsep tentang apa saja yang perlu dibuat oleh pemerintah di berbagai bidang dan bagaimana cara-cara yang efisien untuk melaksanakannya. Bayarlah semua ide-ide itu dengan layak jika memang bisa diwujudkan dan mendatangkan hasil yang baik untuk negeri ini. Kalau rakyat hanya dibiarkan menunggu sementara pemerintah terlalu sibuk mengurusi banyak hal yang tidak perlu atau malahan korupsi, aduh, repotlah kita semua.

 

Hal yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana memberdayakan para sarjana lokal yang sudah ada saat ini. Membiarkan mereka menganggur di tengah ketidak-beresan kerja aparat pemerintahan adalah tindakan konyol. Mereka bisa membentuk jaringan kerja yang kuat bersama almamaternya. Para sarjana itu bisa banyak membantu di kelurahan-kelurahan sambil tetap terhubung melalui internet dengan seluruh tenaga pengajar di almamaternya untuk terus berbagi pengalaman dan pengembangan ide. Tugas utama mereka adalah membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di setiap kelurahan dan membuat terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan taraf hidup rakyat di masing-masing kelurahan. Percuma belajar begitu lamanya kalau akhirnya tak ada gunanya. Adalah lebih mending jadi menara gading daripada jadi menara runtuh. Dan tentu akan lebih baik kalau bisa jadi tiang penyangga kehidupan rakyat.

Terakhir, adalah harapan saya untuk seorang calon Wakil Presiden. Alangkah bagusnya kalau dia seorang independen yang bebas dari kepentingan partai politik manapun juga. Pikirannya tak perlu direcoki kepentingan partai dan balas jasa terhadap kelompoknya. Andaikata harus dari partaipun, tak perlu partai yang besar, yang tuntutannya juga tidak sedikit. Diperlukan seseorang dengan latar pendidikan yang memadai, syukur kalau seorang Doktor (S3), sehingga setidaknya memiliki daya analisa yang lebih dari rata-rata. Tugas utamanya adalah membantu Presiden mendisain perencanaan global untuk memajukan bangsa ini: Bagaimana mengefektifkan jaringan pemerintahan yang ada, mencermati data-data penting kebutuhan fital bangsa ini dalam jangka panjangnya dan menerjemahkannya menjadi proyek-proyek penting untuk bangsa ini di berbagai bidang: Mulai dari proyek riset, pendidikan sampai proyek fisik pembangunan. Tidak perlu banyak riwa-riwi menyelesaikan banyak pekerjaan seremonial, karena waktu lima tahun itu sebenarnya amat singkat untuk pekerjaan yang sedemikian besarnya, terbukti bahwa sampai sekarang tidak ada yang mampu melaksanakannya. Tentu saja ia tidak harus bekerja seorang diri, karena banyak menteri yang ada di bawahnya dan Dewan Penasehat Presiden, tetapi kedudukannya akan amat menentukan arah yang dirancangnya. Pendeknya, sebuah pemerintahan yang efektif, bukan seremonial, apalagi gontok-gontokan dan terlalu banyak mengurusi kepentingan diri sendiri atau kelompok, sangat dirindukan oleh rakyat banyak.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012