Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sam_me

Instruktur TIK Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Memiliki minat yang besar terhadap fotografi dan teater, Suka selengkapnya

Penurunan Nilai Uang

OPINI | 19 August 2009 | 10:22 Dibaca: 1532   Komentar: 6   1

Mengapa harga berbagai kebutuhan hidup terasa semakin mahal dan mengapa kebutuhan hidup kian hari kian bertambah banyak saja jumlahnya?  Sebenarnya, bukanlah harga berbagai kebutuhan yang menjadi semakin mahal, tetapi nilai uang di negeri ini yang mengalami penyusutan. Tak usah buru-buru langsung membanding nilai kurs rupiah terhadap dollar penurunan harga-harga yang ada bukanlah terhadap barang impor. Tak usah berdalih adanya penyesuaian terhadap harga-harga di dunia karena dalih ini hanyalah dalih pembodohan.

Semakin tingginya harga-harga kebutuhan hidup di negeri ini lebih disebabkan karena adanya penurunan nilai uang terhadap barang-barang kebutuhan hidup. Namun mengapa penurunan nilai uang ini hanya dialami oleh barang-barang kebutuhan pokok dan tidak terjadi pada barang-barang yang berjenis teknologi? Bahkan barang-barang berjenis teknologi semakin menurun saja harganya. Fenomena apakah ini?

Barang-barang teknologi –yang kian hari kian mengalami penurunan harga– tidak diproduksi di negeri ini alias merupakan barang impor, sedangkan barang-barang kebutuhan pokok yang cenderung mengalami kenaikan harga adalah barang yang diproduksi di dalam negeri. Ini jelas, bahwa yang sebenarnya terjadi bukanlah kenaikan harga-harga yang dirasakan terjadi dengan sendirinya, tetapi ada faktor pemicunya.

Terasanya kenaikan harga yang begitu dahsyat berawal dari momentum krisis di era ‘97. Awalnya memang krisis ini diawali karena turunnya nilai rupiah terhadap dollar. Jika hanya berpatokan pada turunnya nilai rupiah terhadap dollar, maka seharusnya barang-barang kebutuhan pokok yang ada saat ini sudah mengalami penurunan (setidaknya setengahnya) karena rupiah mengalami nilai paling rendahnya di tahun yang sama dengan tahun terjadinya krisis moneter (tahun ‘97, dollar mencapai Rp.16.000).

Namun kenyataan yang kita alami justru berbeda. Meskipun nilai rupiah sudah mengalami perbaikan, yaitu berkisar di Rp.9000-Rp.10.000/dollar AS), kenyataannya, barang-barang kebutuhan pokok yang ada justru semakin membumbung tinggi harganya. Seharusnya, jika hanya berpatokan pada nilai rupiah tergadap dollar, maka sudah sepatutnya berbagai jenis barang yang diproduksi di dalam negeri mengalami berbagai penurunan harga.

Maka faktor yang paling berpengaruh menjadi penyebab kenaikan harga kebutuhan pokok adalah korupsi yang semakin menjadi-jadi saja. Bahkan hingga kini, meskipun bangsa ini sudah memiliki lembaga kenegaraan yang berusaha memberantas korupsi, namun kenyataannya korupsi tetap saja tak bisa dihentikan. Negeri ini memberikan hukuman yang begitu ringannya untuk para pelaku korupsi: penjara yang tidak lama serta denda yang tidak sesuai dengan jumlah uang yang dikorupsinya. Dengan model hukum seperti ini, sudah barang tentu makin banyak saja orang yang ingin menjadi koruptor di negeri ini.

Akibat korupsi, sejumlah dana menjadi tidak teralokasikan dengan benar. Karena pemerintah menginginkan solusi yang cepat, maka akibat-akibat tersebut langsung dibebankan pada rakyat. Apa lagi yang paling dekat dengan rakyat selain kebutuhan pokok? Maka tidak mengherankanlah bahwa hanya kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan harga terus-menerus –dan cobalah bandingkan dengan harga-harga barang impor sekarang dan di era lima belas tahun yang lalu– .

Pemerintah jangan lagi berdalih akibat kompensasi tidak disubdidinya BBM karena sebenarnya BBM Indonesia tidak diimpor, dan amatlah tidak logis jika pemerintah juga berdalih bahwa peminjaman uang dengan IMF membuat konsekuaensi harga-harga harus naik. Dalih dari pemerintah yang (mem)bodoh(kan) padahal rakyatnya cerdas.

Keburukan lain yang menyebabkan harga kebutuhan pokok semakin tinggi adalah terjadinya penimbunan barang jika barang tersebut sedang mengalami kenaikan permintaan yang umumnya terjadi pada masa paceklik. Awalnya hal ini hanya dilakukan oleh oknum-oknum tertentu, namun karena tidak ada tindakan hukum yang tegas, maka oknum-oknum ini terus melakukannya di setiap ada kesempatan, sehingga di mata masyarakat, hal ini menjadi hal yang biasa (boleh) dilakukan dan kemudian masyarakat ramai-ramai menirunya tanpa merasa bersalah.

Sehingga janganlah heran jika di tiap kesempatan selalu saja ada oknum yang melakukan penimbunan barang baik dalam jumlah besar maupun kecil dengan tujuan agar bisa menjualnya dengan harga mahal. Fenomena ini hanyalah menunjukkan bahwa bangsa kita masih suka mementingkan dirinya sendiri ketimbang kepentingan orang banyak. Tidak dipungkiri, sifat seperti ini adalah warisan dari model pemerintahan di masa lalu yang cenderung hanya mementingkan keluarganya dan konco-konconya. Pada era orde baru memang karakter bangsa kita tidak menjadi seperti ini. Namun seiring dengan maraknya pemberitaan di media dengan banyak kasus yang serupa yang tak kunjung ditindak tegas semuanya, maka masyarakat pun menjadi merasa sah untuk menirunya. Maka jika memang pemerintah masih peduli dengan kepentingan rakyat, perlakukanlah hukum dengan seadil mungkin serta berikanlah teladan yang tidak hanya berupa make-up dan gincu semata.

Sudah saatnya pemerintah tidak lagi menipu rakyatnya dengan memberitakan keberhasilannya dengan parameter yang tidak dipahami dan tidak dirasakan rakyatnya. Pemerintah masih saja menjadikan nilai rupiah terhadap dollar dan angka pertumbuhan ekonomi negara sebagai parameter keberhasilan pemerintahannya. Padahal kebanyakan rakyat tidak merasakan apa-apa dengan menguatnya nilai rupiah dan angka pertumbuhan ekonomi negara. Parameter-parameter ini akan menjadi pantas jika yang dituju adalah para investor asing. Sudah jelas, bahwa sistem pemerintahan yang ada belum memihak rakyat sepenuhnya.
Maka jangan heran, jika pemerintah tidak juga bebenah secara menyeluruh di berbagai sektor, maka salah satu akibatnya adalah di era sepuluh haun yang akan datang uang Rp.100.000 akan menjadi sama nilainya dengan Rp.10.000 sebagaimana yang kita rasakan perbedaannya antara nilai uang yang ada sekarang dengan nilai uang yang ada di era sepuluh tahun yang lalu.

Pemerintah juga harus mencontohkan gaya hidup sederhana sehingga masyarakat pun menjadi tidak terlalu menginginkan memiliki kehidupan yang kelewat mewah yang sering diberitakan media tentang gaya hidup oknum-oknum pemerintahan dan pengusaha. Di sini media juga memiliki peranan yang teramat penting untuk tidak mengekspos gaya hidup jet-set yang ada di tengah-tengah kelaparan dan kekurangan yang semakin menggila. Sehingga nafsu ingin memiliki uang berlebih pun dapat dikurangi, dan pada akhirnya para pedagang tidak bernafsu untuk menaikkan harga-harga sehingga nilai uang yang ada pun bisa menjadi (minimal) stabil.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: