Kompasiana
Rabu, 08 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Unangmuchtar

lahir 2 Nov. di Bogor Sejak 1974 bekerja di Lembaga keuangan Bank dan non Bank. Hobby, olah raga, membaca dan menulis. Silakan kritik tulisan saya, karena prinsip saya, orang yang menghindari kritik adalah orang yang tak berbuat apa-apa, tak berinisiatif apa-apa, dan akan menjadi orang yang bukan apa-apa. Saya ingin menjadi teman bagi semua orang, bukan mencari teman. Olah raga membentuk jiwa sportifitas dalam setiap langkah dan gerak saya. 3 anak saya, bagai anak-anak panah yang harus saya lesatkan dan harus jatuh disasaran yang tepat.

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana..

REP | 25 October 2009 | 10:10 953 11 1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif

Tentang “Kejujuran” rasanya tak perlu didefinisikan dalam tulisan ini, buat saya kejujuran adalah nurani (bukan Nuraini lho…), Nurani adalah symbol kejujuran.   Saya juga tidak akan berteori di tulisan ini, Saya akan tulis  hal-hal atau kejadian sehari-hari di lingkungan kita, lingkungan keluarga, masyarakat dan lingkungan kerja tau lebih sempit lagi di lingkungan rumah sehat Kompasiana.

Kemarin seorang teman lama menemui saya, lebih kurang sudah 10 tahun saya tak pernah bertemu dengan saya.   Ia seorang sarjana, pernah sama-sama bekerja dengan saya di sebuah Bank Swasta, pangkat terakhirnya Manager.   Saya ingat dan tahu persis ia dikeluarkan dari Bank karena melakukan manipulasi, tindakannya ini menyebabkan Nasabah dan Bankdirugikan secara materi dan non materi (nama baik bank di mata nasabah).   Sanksi yang dijatuhkan kepada kawan saya pada waktu itu adalah pemecatan dan mengganti kerugian yang diderita Bank dan Nasabah atau berurusan dengan pihak kepolisian/hukum.   Dia memilih mengganti kerugian dan saya ingat dia sampai harus menjual rumahnya untuk itu.   Sisa hasil penjualan rumah dipakai untuk usaha sendiri.   Kenapa dia harus usaha sendiri ? karena untuk bekerja lagi di Bank lain, sangat sulit dengan kondisi dia keluar seperti itu.   Biasanya pihak bank yang akan menerima seseorang selalu melakukan konfirmasi kepada Bank asal dia bekerja, menanyakan konditue yang bersangkutan selama bekerja di Bank asal.    Bank adalah lembaga kepercayaan, bank harus menjaga citra, sangat riskan orang yang pernah melakukan kejahatan dapat diterima bekerja di Bank.    Kawan saya ini pernah mencoba bekerja di daerah, disalah satu bank lokal, tetapi cuma sampai 6 bulan dia bekerja, kenapa ? dia jawab :”Saya tidak konsentrasi bekerja, saya dihantui kekhawatiran bahwa boss suatu saat akan tahu apa yang telah saya lakukan”.   Berat memang dan saya mengerti perasaan dia, menyesal dan merasa bersalah.   Sampai sekarang dia tidak bekerja, biatya hidupnya hanya sebagai makelar, ngobjek sana ngobjek sini, beruntung isterinya masih bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit.    Saya punya beberapa kawan yang seperti ini, dan rata-rata tidak bekerja lagi, kalaupun bekerja bukan di bank atau lembaga keuangan, tapi hanya perusahaan-perusahaan kecil biasa, itupun tidak dalam posisi yang baik dan lebih kepada “asal gua ngak nganggur”.

Pernah suatu saat, saya dengan berat hati harus memberhentikan seorang teller yang baru satu minggu bekerja, karena saya mendapat konfirmasi bahwa teller yang bersangkutan mencuri uang bank pada saat dia bertugas sebagai teller di bank pemberi konfirmasi, pasti tak ada kata maaf untuk masalah ini, ia harus keluar.

Kebalikan dari cerita diatas adalah, tidak sedikit saya mencari dan mencari teman-teman lama, yang dalam bekerja sangat baik dan sangat jujur, kita ajak dia bergabung tanpa reserve, enak toch, asyik toch.   Buah dari tindakan kita, kita jugalah yang akan menikmati, bisa pahit dan bisa manis.   Maka berhati-hatilah kita, pupuklah jiwa dan raga kita dengan pupuk kejujuran, Insya Allah kita akan mendapatkan buah yang manis-manis, mungkin tidak kita yang menikmati kemanisan itu, bisa juga anak-anak kita kelak.      Seorang teman datang, dia minta tolong saya untuk menerima anaknya bekerja setelah lulus D3, karena saya kenal Bapaknya, tidak bertele-tele, saya minta anaknya datang untuk test, oke ! hasil testnya baik.    Tentunya awalnya saya melihat bapaknya lebih dahulu, yang saya kenal sangat baik dan jujur waktu sama-sama bekerja, kebetulan anaknya pandai, jadi tidak memerlukan proses yang berbelit-belit, enak toch, asyik toch… itulah buah kejujuran.

Nah ini sisi lain lagi dalam kejujuran.    Sebagai Kompasianer, mari kita menulis dengan jujur, kosongkan pikiran kita, kosongkan hati kita, bersihkan hati kita dari kepentingan pribadi pada saat akan menulis, sehingga hasil tulisan kita benar-benar bisa objektif.   Hasilnya pasti tidak akan ada pesan sponsor atau kepentingan pribadi yang muncul dalam tulisan kita.   Mau contoh, di zaman Orba, berapa banyak buku-buku pelajaran sejarah yang ditulisa yang sangat subjektif dan banyak pesan sponsor, buku seperti ini tak abadi, dia akan hilang dengan sendirinya.   Buku itu akan dicampakkan orang banyak.

Di Kompasiana, orang yang menulis karena punya kepentingan pribadi, juga tidak akan mendapat tempat untuk dibaca oleh orang banyak, cepat atau lambat tulisan-tulisan seperti ini juga akan hilang dan penulisnya akan malu sendiri, seperti teman saya diatas, yang malu kalau harus bekerja kembali,  karena merasa dihantui terus menerus oleh kesalahan yang dibuatnya sendiri.

KEJUJURAN ADALAH MATA UANG YANG BERLAKU DIMANA-MANA


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012