Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Arifin Basyir

jujur aja n terus terang sebenarnya aq ini gaptek asli. awalnya ngenal komputer itu sebagai salah satu mainan anak (komidi puter). demikian juga tentang internet, dulunya ngenal itu sebagai makanan (instan mi, telur dan kornet). awal belajar ngenet didaftarin teman jadi anggota jamaah feisbukiyah (belakangan baru tahu kalau istilah yang bener feisbuker). ketika jadi feisbuker tiap buka akun koq ada tulisan apa yang kau pikirkan dan tuliskan sesuatu di dinding. iseng-iseng belajar nulis disitu. nulis lagi di dinding feisbuker artis tentang surat cinta dan puisi cinta. belajar terus baca koran ...

Insting Perilaku Seksual Para “Bangsawan’ (2): Forplay Lebih Lama dan Teratur

REP | 29 October 2009 | 20:55 841 1 Nihil

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 14.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Insting Perilaku Seksual Para ‘Bangsawan’ (2) : Forplay ML Lebih Lama dan Teratur

Sebagaimana cerita tentang perilaku seksual klik disini (www.mariska lubis) bahwa terdapat perbedaan perilaku seksual diantara makhluk hidup yang ada dimuka bumi ini. Pada hewan hanya berdasarkan insting untuk fungsi perkembang biakan, demikian salah satu pernyataan dalam tulisan tersebut. Selain untuk fungsi perkembang biakan, ‘ada kemungkinan’ perilaku seksual pada hewan juga ada untuk ‘melampiaskan hawa nafsu’ seperti pada manusia, bahkan harus melewati pemanasan seni permainan cinta (foreplay) yang cukup lama……………

Dalam menjalankan fungsi reproduksi atau perkembang biakan pada hewan diawali dengan adanya siklus birahi atau memasuki masa perkawinan. Pada hewan klas mamalia (menyusui) yang juga dikenal sebagai makhluk heteroseksual, pada musim perkawinan dapat menjadi homoseksual atau tepatnya lesbian (mengacu pada istilah saling ketertarikan perilaku seksual sesama jenis perempuan pada spesies manusia). Secara umum pada hewan klas mamalia terdapat 4-5 tahapan siklus birahi yang sangat bervariasi lama waktunya tergantung pada masing-masing spesies (4 tahap pada bangsa hewan ternak dan 5 tahap pada hewan liar, hewan kesayangan atau hewan piaraan). Masing-masing tahapan itu adalah birahi proestrus, estrus, metestrus dan diestrus, serta anestrus.

Tahapan birahi proestrus dapat dipandang sebagai semacam forplay pada spesies manusia sebelum terjadi perkawinan yang sebenarnya. Tanda-tanda spesifik pada hewan ternak yang mudah diamati, pada tahapan forplay ini hewan berkejaran berusaha saling menaiki (jumping heat) dan menjilat atau mengendus alat kelamin bagian luar (labia vulva) meski sesama betina dan berlangsung sampai beberapa hari. Aroma erotis dari suatu zat hormon veramon dari alat kelamin betina menimbulkan daya rangsang sensual , bahkan sampai berjarak ratusan meter masih dapat terendus oleh patner maupun sparing partner seksualnya.

Perilaku homoseksual ini patut dapat diduga sebagai pelampiasan nafsu birahi, selain sebagai rangkaian fungsi reproduksi. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa betina itu tidak mendapat kesempatan pelayanan pejantan pada sistem kawin alami. Pada hewan yang hidup berkelompok menganut poligami, yaitu satu jantan menguasai sejumlah betina yang ada kalannya tidak mampu merata dalam pembagian hubungan seksual. Juga mungkin dapat dipandang sebagai penyaluran kepuasan seksual pada proses kawin suntik (insemenasi buatan) yang karena tidak melibatkan pejantan secara langsung.

Pada tahapan birahi proestrus hanya terjadi forplay saja, betina belum bersedia dikawini. Sehingga tidak mungkin terjadi kawin paksa atau pemerkosaan. Secara insting masing-masing fihak jantan maupun betina memegang teguh disiplin dapat mengendalikan diri hawa nafsunya untuk kawin. Boleh jadi tahapan ini dapat disejajarkan dengan berpacaran pada spesies manusia yang berlaku azas boleh dilakukan dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada penyelewengan oleh oknum tertentu terjadi ‘perkawinan’ (diluar pernikahan) dengan dalih dipengaruhi oleh naluri (bukan insting) perilaki seksual

Tahapan berikutnya adalah birahi estrus, adalah puncak kesiapan ‘mental’ dan fisik untuk melangsungkan perkawinan. Tanda-tanda spesifik yang jelas pada tahapan puncak kepuasan ini adalah keluarnya lendir jernih seperti putih telur dan si betina siap dan diam untuk dinaiki (standing heat) baik oleh lawan jenis maupun sesama jenisnya. Disinilah kemungkinan terjadinya orgasme, dapat diketahui dengan terjadinya ketegangan (ereksi) pada bagian organ kelamin terutama leher rahim (servik uteri) yang berlangsung beberapa saat saja. Indikator ini mernjadi salah satu kunci keberhasilan bagi tukang kawin suntik (insemenator) melalui pemeriksaan perabaan jalur anus (palpasi perektal), untuk melaksanakan tugas membuntingkan.

Selanjutnya memasuki masa peralihan (birahi metestrus) sebelum memasuki masa tenang memelihara pertumbuhan janin bila terjadi kebuntingan. Puncak kenikmatan terkadang masih tersisa bukan oleh perilaku seksual, tetapi mekanisme neuro endokrinologis dengan keluarnya darah mirip menstruasi pada spesies manusia sehingga juga disebut mens semu (pseudo menstruation). Seperti pada tahap forplay maka pada tahapan ini (overplay?) tidak akan terjadi perkawinan atau pelecehan seksual terlebih lagi pemerkosaan. Secara insting kedua belah fihak tetap disiplin mempertahankan ‘harga dirinya’ meski ada kesempatan, karena memang selalu hidup kumpul bersama sepanjang masa hidup produktifnya.

Tahap terakhir adalah birahi diestrus, masa tenang untuk memelihara pertumbuhan janin bila terjadi kebuntingan sampai saatnya nanti dilahirkan. Untuk sementara siklus birahi berhenti, sama sekali tidak mau berperilaku seksual sehingga tidak ada kejadian kawin suka sama suka maupun, kawin paksa, terpaksa dan perkosa.

Tidak terjadi aktivitas perilaku seksual sama sekali atau tahapan anestrus, hanya terjadi pada hewan liar atau selain hewan ternak dengan periode waktu yang cukup panjang beberapa bulan sampai setahun bahkan lebih tergantung masing-masing spesiesnya. Pada masa-masa ini betul-betul istirahat total dari kegiatan yang berbau seksual maupun sensual atau erotis dan sebangsanya..

Pada hewan ternak tidak ada tahapan siklus birahi anestrus atau dengan pengertian lain siklus reproduksi berjalan terus menerus, istirahat sejenak hanya sekitar 2 bulan pada masa nifas (involusi uteri). Barangkali ini suatu bentuk anugerah alam ‘pengabdian hewan ternak’ kepada manusia, setelah sekian ratus tahun gaul kumpul bersama manusia dalam proses domestikasi. Karena bertanggung jawab dalam penyediaan bahan pangan manusia, yaitu sebagai salah satu sumber protein hewani.

Secara kodrat alami derajat mereka memang dibawah, tetapi secara insting mempunyai disiplin tinggi dalam berperilaku seksual. Kesempatan pasti selalu ada karena mereka hidup berkelompok yang bebas, tetapi tidak mengenal perilaku penyimpangan atau pelecehan seksual, free sex, perkosaan, dsb. Itulah kehidupan seksual para ‘bangsawan’,……….bangsa hewan

tengok juga M.Arifin Basyir,www.vet-indo.com


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


    CINTA PERTAMA

    Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,


SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012