Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Aha

menulis adalah berpikir.

Si Malang Penyandang Tuna Netra

HL | 04 November 2009 | 21:59 265 2 Nihil

shutterstock

shutterstock

Udara Palabuhanratu yang panas mendorong orang-orang mencari tempat yang rindang, termasuk di depan Masjid Agung dan kompleks Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi. Menikmati kesejukan rindangnya pohon beringin, saya kemudian tergiur oleh es kelapa muda.

Es kelapa muda masih tersisa setengah gelas ketika datang dua orang yang naik sepeda motor, satu berkacamata hitam, yang lainnya tidak. Salah satu dari kedua orang itu dituntun untuk duduk di sekitar gerobak kelapa muda. Orang yang berkacamata hitam meraba-raba kursi yang akan didudukinya.

Dari caranya membawakan diri, saya langsung tahu bahwa orang berkacamata hitam itu penyandang cacat netra. Rupanya kedua orang itu kehausan dan akhirnya memesan minuman seperti milik saya.
Penyandang tuna netra itu kemudian ditinggal sendirian menunggu pesanan; orang yang menuntunnya terlihat pergi ke arah masjid. Pesanan minuman mereka selesai. Sang penjual itu memberikan satu gelas es kelapa muda kepada penyandang tuna netra itu.

”Ini pak pesanannya,” kata penjual sambil menyodorkan gelas. Tak juga diambil pesanannya, penjual es kelapa muda berkata agak keras sambil menyodorkan gelasnya lebih dekat. Tangan penyandang tuna netra itu meraba-raba ke arah datangnya suara gelas, sambil berkata, ”Maaf…..”

Duh ternyata penjual es kelapa muda itu baru tahu, pembeli yang dihadapinya adalah penyandang tuna netra. Terlihat penyesalan di wajah penjual es kelapa muda itu. Namun, apa boleh buat. Beras yang ditanak sudah menjadi bubur, tak bisa menjadi nasi. Penjual es kelapa muda itu telanjur menunjukkan sikap yang kurang simpatik walaupun karena tidak tahu.

Jangan-jangan, apa yang dilakukan penjual es kelapa muda itu juga sering terjadi pada kita juga. Para penyandang cacat dan penyandang masalah sosial lainnya begitu banyak di sekitar kita. Namun, keberadaan mereka hampir terabaikan, seolah-olah mereka tak ada di sekitar kita.

Di Sukabumi saja, penyandang cacat pada tahun 2007 berjumlah 5.238. Jumlahnya terus meningkat dari tahun 2005 yang masih 4.621. Ini belum termasuk lansia telantar yang pada tahun 2007 mencapai 10.973.

Jadi, masihkah kita akan menganggap mereka tidak ada di sekitar kita?


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012