Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ayahnya Asti

Saya seorang praktisi dibidang pelayanan kesehatan (medis) yang saat ini tengah membina sarana pelayanan Independen di kawasan desa Rempoah, Baturraden, Banyumas Jawa Tengah, mempunyai obsesi ingin memajukan mutu pelayanan terdepan bagi semua lapisan Masyarakat tanpa kecuali, mengingat keprihatinan saat ini dengan pelayanan medis yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kecil pada umumnya, saya juga mendedikasikan diri saya didunia pendidikan sebagai pengajar di beberapa institusi pendidikan kesehatan di kota tempat saya bekerja dan kota/negara lain, juga sebagai Konseling dan Motivator di...

Apakah Saya Mencintai Orang yang Tepat?

OPINI | 06 November 2009 | 15:30 864 30 1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif

http://bolammedia.com/files/

Love Heart, dok:http://bolammedia.com/files/

Artikel kali ini adalah hasil dari pandangan mata dari sebuah seminar sehari disebuah acara yang diadakan di sebuah hotel di kota kami, dimana salah satu pembicaranya adalah seorang teman saya saat saya kuliah S1 di UGM Jogyakarta, saya mengambil jurusan Kedokteran dan teman saya ini mengambil jurusan Psikologi, dan saat ini beliau aktif dibeberapa organisasi kewanitaan yang memperjuangkan peranan perempuan dalam berbagai bidang di tanah air, belau ini bernama Dr. Kania Sri Kurniati, S.Psi, M.psi.

Saya selaku sahabatnya diundang dalam sebuah seminar rumah tangga, dan acaranya berjalan sangat sukses.

Inilah laporan pandangan mata saya selaku tamu undangan dan dalam seminar ini ada seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, “Bagaimana saya tahu kalau saya menikah dengan orang yang tepat?”

Ibu Kania menanggapi pertanyaan itu, seraya berkata; Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya, jadi saya menjawab “Ya.. tergantung. Apakah pria di sebelah anda itu suami anda?”

Dengan sangat serius dia balik bertanya “Bagaimana anda tahu?!”

“Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini..”

Inilah jawabannya!

SETIAP ikatan memiliki ‘siklus’. Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan ‘jatuh cinta’ dengan pasangan anda. Telepon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat, begitu menyenangkan.

‘Jatuh cinta’ kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. ‘Jatuh cinta’ merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Tidak perlu berbuat apapun. Makanya dikatakan “jatuh” cinta!

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan “aku mabuk cinta”. Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda. Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi…?

Setelah beberapa tahun ‘perkawinan’, gempita cinta itu pun akan pudar, perubahan ini merupakan ‘siklus’ alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan. Perlahan tapi pasti… telepon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya nggak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada.

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya. Dan pada situasi inilah pertanyaan “Did I marry the right person?” mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya..

Nah lho! Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi. Anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas? Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan diluar.

Berbagai macam cara, bentuk, dan ukuran untuk pelampiasan ini. Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV sampe TVnya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya. Tapi tau ngga?!

Bahwa jawaban atas dilema ini tidak ada diluar, justru jawaban ini hanya ada didalam pernikahan itu sendiri.  Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya. Saya tidak mengatakan kalo anda tidak boleh ataupun tidak bisa selingkuh, Anda bisa!

Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda akan merasa lebih baik. Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda). Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang pernah anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah. Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang..

Itu adalah siklus… Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini) KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN DAN TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan. Cinta TIDAK AKAN PERNAH begitu saja terjadi! Kita tidak akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya. Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari. Benar juga ungkapan “diperbudak cinta”. Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK. Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik.

Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini.. Cinta bukanlah MISTERI. Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya Grafitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa “MEMBUAT” cinta, bukannya “JATUH”. Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN!

Renungkan unkapan tentang ‘Cinta’ dibawah ini;

jika ia sebuah cinta…

ia tidak mendengar…

namun senantiasa bergetar…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak buta…

namun senantiasa melihat dan merasa…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak menyiksa…

namun senantiasa menguji…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak memaksa…

namun senantiasa berusaha…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak cantik…

namun senantiasa menarik…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak datang dengan kata-kata…

namun senantiasa menghampiri dengan hati…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak terucap dengan kata…

namun senantiasa hadir dengan sinar mata…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak hanya berjanji…

namun senantiasa mencoba memenangi…

jika ia sebuah cinta…

ia mungkin tidak suci…

namun senantiasa tulus…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak hadir karena permintaan…

namun hadir karena ketentuan…

jika ia sebuah cinta…

ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan…

namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan…

CINTAILAH pasangan anda, seperti anda INGIN DICINTAI olehnya. SETIALAH pada pasangan anda, seperti anda INGIN MENDAPATKAN KESETIAANNYA.

Inilah pemahaman yang baru saya dapatkan tentang hal yang berkaitan dengan sebuah ‘siklus’ dari sebuah ‘cinta’ dari sisi pandang wanita, sungguh mengagumkan…

Saya sangat mengakui bahwa sahabat wanita saya ini sungguh cerdas dan peka sekali dalam menganalisa siklus cinta ini, salut buat anda ibu Kania.

Dan saya sengaja menuliskan semua ini dalam sebuah artikel, agar dapat diambil manfaatnya, sehingga kehidupan ‘siklus cinta’ anda dalam rumah tangga anda akan lestari.

Salam Sehat dari saya, Anugra Martyanto di Purwokerto


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012