
Saya seorang praktisi dibidang pelayanan kesehatan (medis) yang saat ini tengah membina sarana pelayanan Independen di kawasan desa Rempoah, Baturraden, Banyumas Jawa Tengah, mempunyai obsesi ingin memajukan mutu pelayanan terdepan bagi semua lapisan Masyarakat tanpa kecuali, mengingat keprihatinan saat ini dengan pelayanan medis yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kecil pada umumnya, saya juga mendedikasikan diri saya didunia pendidikan sebagai pengajar di beberapa institusi pendidikan kesehatan di kota tempat saya bekerja dan kota/negara lain, juga sebagai Konseling dan Motivator di...
Dibaca: 802
Komentar: 23
4 dari 5 Kompasianer menilai Bermanfaat
Pada kesempatan yang lalu saya pernah membahas tentang ‘Potensi Diri’ dalam artikel yang berjudul Membunuh Potensi Diri, dan kali ini saya akan melanjutkan lagi pembahasan yang masih ada kaitannya dengan ‘potensi diri’ ini dan akan saya bahas dengan sederhana saja dan juga saya masukkan illustrasi yang memungkinkan memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari tulisan ini.
Suatu saat pernah computer di klinik saya mengalami kerusakan yang berkaitan dengan system operasionalnya (OS= operating system) dan software pendukung lainnya akibat terkena virus, apa dampak yang ditimbulkannya?, ya komputer ini tidak bisa digunakan lagi. Akibatnya, walaupun seluruh komponen (hardware) komputer tidak ada yang rusak, tetapi karena kena ‘virus’ maka tidak dapat berfungsi alias macet.
Virus telah mengakibatkan komputernya gagal berfungsi dengan benar dan semua data data yang berkaitan dengan catatan medis dari semua pasien kami yang jumlahnya sudah ribuan itu hilang/rusak seketika dan hal ini membuat saya sangat sedih sekaligus menjengkelkan, bagaimana tidak, data semua pasien saya dinyatakan hilang/rusak oleh teknisi yang memperbaikinya, akibatnya sempat menghambat kerja kami dalam memberikan pelayanan medis di klinik kami.
Demikian juga ada banyak orang yang mengalami ‘kegagalan’, bukan karena tidak memiliki ‘potensi’ untuk berhasil, karena pada dasarnya Tuhan telah memberikan banyak potensi dalam diri setiap orang dan sangat bergantung pada orang itu sendiri, apakah mau mengenali potensi dirinya dan menggalinya sehingga menjadi sebuah kekuatan bagi dirinya. Tetapi karena kemasukan ‘virus’, seringkali potensi-potensi besar yang terpendam ini tidak bisa muncul.
Salah satu virus yang paling mematikan yaitu virus ‘mencari-cari alasan’. ( baca juga artikel saya yang lain: Alasan, Dalih dan Belenggu Diri, Apakah Anda Sering Mengeluh?, Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri, Apa Arti Tantangan Buat Anda?, Type watak dan karakter seseorang, Sukses dan Prestasi )
Orang yang terkena virus ini akan mempunyai 1001 macam ‘alasan’ untuk menyatakan mengapa mereka tidak berhasil. Itulah yang membedakan orang ‘berhasil’ dan ‘gagal’. Orang yang gagal tidak akan kemana-mana dan tidak mempunyai rencana untuk kemana-mana karena ia selalu mempunyai setumpuk alasan di dalam hidupnya.
Perhatikanlah hidup orang ‘sukses’, maka kita akan melihat bahwa mereka tidak menyediakan ‘alasan’ untuk tidak berusaha mengatasi ‘kegagalan’ dalam hidupnya. Orang sukses adalah mereka yang sudah pernah berkali-kali mengalami kegagalan tetapi tidak menjadikan kegagalannya sebagai alasan untuk tidak bangkit dan maju lagi.
Ada sebuah pemahaman yang sangat bagus tentang sebuah sukses ini, kadang sebagian besar orang mengangap ‘sukses’ adalah sebuah ‘target’ pencapaian, dan ‘kegagalan’ adalah hal yang sangat memalukan.
Apakah analisa/pemahaman ini benar adanya?
Mari kita ulas dengan sederhana saja…
Anda semua pernah belajar mengendarai sepeda ?, pasti pernah!, apakah saat Anda ingin belajar mengendarai sepeda ini dengan spontan bisa dan langsung mahir? tanpa adanya proses jatuh dan bangun lagi?, apa target pencapaian yang Anda inginkan? dan apa proses yang Anda alami dalam belajar mengendarai sepeda ini?. Semua pasti sudah tahu jawabannya.
Kalau seandainya saja definisi Anda tentang “sukses” untuk mengendarai sepeda ini adalah Anda menjadi bisa dan mahir dalam mengendarai sepeda, maka Anda salah besar…
Sukses yang sebenarnya adalah Anda bisa bangkit dan bangkit lagi dari proses Anda belajar saat jatuh dari sepeda itu, yang pastinya akan mengalami luka dan kesakitan yang tak bisa dipungkiri, tapi apakah Anda kapok?, dan langsung meninggalkan sepeda Anda dan berkata,”ugh!, dasar sepeda tak tahu diri, tak ada gunanya saya belajar sepeda ini, kau selalu saja melukai dan menyakiti aku!!!.
Apakah ini yang Anda lakukan?, kalau jawabnya ‘Ya!’ berari Anda sudah masuk kategori orang yang gagal.
Namun saya yakin Anda tidak melakukan itu, tapi Anda tetap semangat dan mengambil sepeda itu dan terus belajar dan belajar hingga Anda bisa menjaga keseimbangan tubuh Anda sehingga Anda bisa mengendarai sepeda ini. Ya memang pada awalnya Anda akan jatuh dan jatuh, hingga luka dan sakit, namun Anda akan bangkit dan selalu bangkit serta terus berusaha untuk bisa mengendarai sepeda ini dengan baik, dan akhirnya Anda bisa!.
Dimana letak ‘kesuksesan’ itu?, apakah sukses itu adalah Anda bisa naik sepeda? Atau serangkaian proses dari belajar mengendarai sepeda ini?
Ya…, sukses itu adalah ‘proses’ dari belajar mengendarai sepeda ini yang digambarkan dalam ‘Semangat Anda’ yang selalu bangkit dan bangkit dari jatuhnya Anda dari sepeda saat belum menemukan keseimbangan itu, walau diwarnai dengan luka dan kesakitan, tanpa adanya rasa kapok dan putus asa, ya Anda selalu mau mencoba dan mencoba lagi, inilah “Kesuksesan” yang sesungguhnya, yang Anda dapat raih dari ritual proses belajar itu.
Sudah jelas ya…, apa yang dimaksud dengan ‘sukses’ ini, jadi sukses bukan sebuah ‘target’ pencapaian, namun sebuah ‘proses’ pencapaian.
Ini saya akan sampaikan juga sebuah perjalan hidup seorang yang sudah kita kenal dalam meniti proses menuju kesuksesan ini.
Presiden Abraham Lincoln adalah salah satu contohnya. Ia lahir dari keluarga miskin dan hidupnya penuh dengan kegagalan, tetapi akhirnya dia berhasil menjadi presiden Amerika.
Berikut ini adalah daftar kegagalannya:
1831 - Bangkrut dalam usahanya
1832 - Kalah dalam pemilihan lokal
1833 - Kembali mengalami kegagalan dalam usahanya
1835 - Istrinya meninggal dunia
1836 - Ia mengalami stress & menderita tekanan mental sehingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa
1837 - Kalah dalam lomba pidato
1840 - Gagal dalam pemilihan anggota senat Amerika
1842 - Kalah untuk duduk sebagai anggota kongres Amerika Serikat
1848 - Kalah lagi di kongres
1855 - Kalah lagi di senat Amerika Serikat
1856 - Gagal dalam pemilihan Wakil Presiden Amerika Serikat
1858 - Gagal lagi di senat Amerika Serikat
1860 - Akhirnya berhasil terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat
James T. Adam berkata bahwa, “Lincoln menjadi besar bukan karena dilahirkan di pondok kayu, tetapi karena dia berhasil keluar dari pondok kayu”.
Contoh lainnya adalah Lance Amstrong yang menderita sakit kanker prostat, tetapi ia bisa menjuarai balap sepeda Tour de France lima kali berturut-turut. Mengapa? Karena ia tidak menjadikan sakit kanker prostatnya sebagai ‘alasan’ untuk tidak berjuang lagi.
Seperti penyakit lainnya, virus mencari-cari ‘alasan’ akan menjadi semakin buruk bila tidak ditangani dengan baik. Ia akan menggerogoti kehidupan seseorang sampai akhirnya tidak berfungsi lagi. Karena itu jika selama ini Anda termasuk orang yang suka mencari-cari ‘alasan’, ubahlah sikap Anda. Jangan suka mencari-cari ‘alasan’ lagi, tapi sebaliknya carilah ‘jalan keluar’ dengan pertolongan Tuhan. Bangkitlah dari’kegagalan’ karena ‘kegagalan’ hanyalah merupakan ‘batu loncatan’ menuju ‘keberhasilan’. Selamat meraih kesuksesan!
Sekian dulu tulisan saya kali ini, semoga saja bisa diambil mafaanya.
Salam sehat dari saya, Anugra Martyanto di Purwokerto
catatan: tulisan ini didedikasikan buat ananda Fawaizzah Watie, tetap semangat ya ananda…