Bulan lalu, minggu lalu, kemarin, tadi pagi,tadi malam, dan mungkin esok hingga minggu depan, berita yang akan ditayangkan oleh media televisi (RCTI, SCTV, ANTV, METRO, TRANS 7, TRANS TV, GLOBAL TV, TPI, dll) tetap terfokus pada satu kasus yang sama………
Disadari ataupun tidak, ini merupakan sebuah kegiatan produksi informasi yang tidak sehat dan cukup melelahkan bagi masyarakat sebagai konsumen informasi. Bila disimak baik-baik, secara bergelombang masyarakat “penonton” dihantam oleh berbagai berita yang sama secara berkala. Cakupan informasi yang disampaikan tidak cukup baik untuk dimengerti dan dipahami sebagai bahan pembelajaran dan ilmu pengetahuan, sehingga berita-berita penting dan relevan akhirnya bergeser menjadi lelucon dan hiburan ringan. Akibat lebih lanjut masyarakat akan sulit menanggapi berbagai problem sosial serius dengan cara yang sepantasnya, karena telah digiring, didikte oleh media televisi untuk menjadi biasa saja pada hal-hal yang serius. Tidak tahu lagi kapan harus serius dan kapan waktunya bersantai.
Media televisi sebagai salah satu ujung tombak pewarta berita, harus menjadi lebih SMART. Banyak hal penting lain yang masih bisa dijadikan berita utama di hari-hari mendatang. Itu yang seharusnya menjadi tekad dan menu utama dari pelayanan media televisi terhadap masyarakat, dengan tidak menganak emaskan sebuah KASUS menjadi “makanan pokok”, yang membuat masyarakat lupa, jika mereka sebenarnya membutuhkan hal lain untuk melanjutkan perjuangan mengatasi krisis. Ingat, selain sebagai pewarta, televisipun harus mewakili sebuah situasi konkrit yang terjadi di ranah realita kehidupan bangsa ini.
Saya masih ingat dulu, ketika televisi swasta belum menjamur seperti saat ini. Sebagai satu-satunya media televisi, TVRI mampu mengangkat aspirasi masyarakat kecil dengan berbagai acara yang baik. Sederhana, konkrit, tepat sasar dan tidak mengada-ada. TVRI dengan berbagai programnya waktu itu, telah menanamkan sebuah identitas kebangsaan pada saya yang waktu itu masih di bangku SD, bahwa negara ini, adalah negara agraris. Sama seperti ketika orang menyebut Brazil, yang tertangkap oleh seluruh orang di seluruh belahan dunia adalah Negeri jagonya sepakbola.
Semoga, sebagai konsumen berita dan penikmat saluran televisi, masyarakat sadar bahwa apa yang ditampilkan oleh media televisi, tidak semuanya layak “dimakan dan diminum”. Dan Media televisi pun harusnya sadar bahwa kecepatan update berita sudah dapat diakses oleh sebagian besar masyarat melalui internet di berbagai situs berita, sehingga media televisi tidak perlu mengulang dan mengulang apa yang pernah disajikan. Bukan hanya makanan yang bisa menjadi basi dan beracun, beritapun demikian bukan ?.
Akhirnya, kita berharap agar televisi mampu menghidupi salah satu sisi kehidupan ini dengan gairah dan kualitas yang tinggi. Memberikan porsi yang sama terhadap mereka yang terlupakan. Tetapi jika tidak, maka matikan TV mu, sebelum Tv mematikan kepekaanmu terhadap realitas yang sesungguhnya sedang terjadi. Media Televisi Harus SMART !!!…..(waduhhhh tidurrrr dulu aahh)
Rutinitas masyarakat urban biasanya berkutat di meja kantor. Dari situ, banyak cerita menarik dan inspiratif
