Solusi Akses Pendidikan yang Terbatas

HL | 23 November 2009 | 01:45
585 3 2

Fasilitas Gedung dengan kelengkapannya harus menjadi Fokus Depdiknas
Fasilitas Gedung dengan kelengkapannya harus menjadi Fokus Depdiknas

Membaca Kompas cetak edisi, Senin 23 November 2009, tentang telah terjadinya kesenjangan akses pendidikan antardaerah masih menjadi persoalan utama. Penyebabnya, antara lain,  lokasi terlalu jauh akibat pengaruh topografi wilayah berupa perbukitan dan permukiman yang tidak merata. Salah satu cara mengatasi persoalan itu adalah dengan mendekatkan sekolah kepada masyarakat. Persoalan utama, alokasi anggaran untuk pendidikan juga menjadi problematika.

Pendidikan Satu Atap

Bila kita bicara alokasi anggaran, maka disinilah peran penting pemerintah dalam hal ini pejabat di depdiknas untuk berpikir keras agar akses pendidikan antardaerah tersebar merata. Solusi yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Timor Tengah Selatan Nusa Tenggara Timur Hendrik Paut untuk menyiasati kurangnya bangunan sekolah dengan satu atap adalah tepat. Membuka ”pendidikan satu atap” dengan menggabungkan SD dan SMP di satu bangunan selain meringankan biaya, dapat juga membuat sekolah menjadi saling melengkapi. Pendidikan satu atap ini mulai dijalankan di Desa Nualunat, Kecamatan Kot’Olin.

Bagi saya solusi itu sangat tepat untuk kondisi di daerah. Membuat sekolah dalam satu lokasi dan menjadikan pendidikan satu atap dengan mengedepankan mutu dan kualitas. Seperti apa yang pernah dilakukan sekolah labschool dulu (1968), dimana TK, SD, SMP, SMA menyatu dalam satu atap dan diberi nama sekolah laboratorium kependidikan, dan dibina oleh lembaga pendidikan seperti Universitas negeri Jakarta (UNJ), dulu namanya IKIP Jakarta. Dengan bergabung dalam satu atap, akan terasakan kebutuhan yang holistik dari setiap jenjang tingkatan sekolah. Para peserta didik pun bisa dengan mudah melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tanpa harus berpindah lokasi sekolah.

Akses Internet di sekolah

Dengan pendidikan satu atap, lebih memudahkan pemerintah dalam menyediakan akses internet. Apalagi dalam program 100 hari mendiknas, semua sekolah diharapkan terkoneksi dengan internet. Dengan adanya pendidikan sata atap, pemerintah bisa menyediakan satu server lokal di setiap sekolah dan lengkap dengan jaringan LANnya sehingga bisa tertata dan terkelola dengan baik, sehingga program JARDIKNAS yang telah dicanangkan pejabat depdiknas sebelumnya berjalan sesuai harapan.

Letak geografis dan jumlah penduduk kita yang tersebar tidak merata, dan banyak berkumpul di kota-kota besar, menyebabkan akses pendidikan menjadi tidak merata. Untuk meratakannya, akses internet bisa menjadi solusi, dimana sekolah diberikan fasilitas internet cepat yang dapat memberikan pendidikan jarak jauh kepada para peserta didiknya. Apa yang telah diterapkan oleh Universitas Terbuka, nampaknya bisa juga diterapkan untuk SMA, dan SMP terbuka yang keberadaannya teras termajinalkan. Bahkan oleh semua sekolah yang berada dalam naungan depdiknas yang rata-rata telah memiliki fasilitas komputer yang terhubung ke internet, dan banyak juga yang telah menjadi sekolah standar Nasional (SSN) bahkan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) .

Gerakan Melek ICT

Bagi saya secara pribadi, memang tidak mudah dalam pelaksanaannya. Sebab dalam dunia pendidikan kita masih banyak guru yang belum bisa mengoperasikan komputer dan internet. Gerakan melek ICT harus gencar dimulai dari sekarang. Bila guru telah melek ICT, maka rencana pemerintah untuk bisa mengkoneksikan semua sekolah yang ada di seluruh indonesia melalui JARDIKNAS akan berjalan sesuai rencana dan bukan program pemborosan. Saya usulkan, pemerintah bisa bekerjasama dengan pengasuh kompasiana.com, karena di sini banyak orang ICT berkumpul dan mereka akan dengan senang hati “tanpa dibayar” membagi ilmunya kepada sesama, seperti apa yang telah kami lakukan dalam berbagai blogshop kompasiana. Menyadarkan kepada masyarakat tentang pentingnya nge-blog sebagai sarana promosi, berbagi, dan konektivitas. Bila semua sekolah sudah connecting and sharing, maka akan terjadi proses berbagi yang berujung kepada peningkatan kualitas pendidikan di sekolah itu. Pendidik dan peserta didik saling berinteraksi dalam dunia maya yang online 24 jam.

Akses pendidikan yang terbatas memang menjadi dilema dalam dunia pendidikan kita. Namun adanya ICT, dan pelayanan fasilitas transportasi akan mempermudah akses itu. Jarak yang ditempuh oleh para siswa dari rumah ke sekolah yang ditempuh antara 2 sampai 3 jam menjadi bisa diperpendek waktunya bila tersedianya akses jalan. Bila siswa terpaksa tak bisa pergi ke sekolah dengan berbagai alasan, maka sekolah telah menyediakan modul jarak jauh, sehingga proses pembelajaran tidak terjadi hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Namun, itu semua hanya mimpi bila kita tidak saling berbagi dan hanya mementingkan diri sendiri. Apalagi bila pejabat yang ditunjuk untuk membenahi ternyata hanya memperkaya diri sendiri. Cuek dengan kondisi yang ada dan hanya pasif melihat keadaan itu.

Penyediaan laptop murah, dan akses internet dengan kecepatan tinggi yang dibiayai oleh pemerintah dan bekerjasama dengan penyedia jasa internet seperti telkom dengan program goes to schoolnya akan memperkuat dan mempercepat gerakan melek ICT di sekolah. Dimana guru dan siswa sama-sama terhubung ke internet, dan pada akhirnya guru dan siswa aktif dalam berinteraksi di dunia maya. Internet adalah guru yang tak pernah marah.

Salam blogger persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Menyiasati Kejenuhan Menulis

Memasuki tahun ke 4 di Kompasiana pernah dalam satu tahun ...

Menulis, Bukan Untuk Menutupi Status Pengangguran

Menulis itu hak siapa saja. Bahkan burung-burungpun menulis ketika ia ...

Kompasianer, Mari Belajar Menulis dari Bu Anni  

Ada seorang penulis di Kompasiana belakangan ini yang fenomenal. Namanya ...