Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hendra Sugiantoro

MENGALIR BUKAN AIR: Percikan Spirit Hidup

Menjadi Guru adalah Panggilan Hidup

OPINI | 24 November 2009 | 17:52 Dibaca: 466   Komentar: 2   1

TENTU tak berlebihan jika dikatakan masa depan anak-anak berada di pundak guru. Anak-anak yang sedang tumbuh berkembang bisa diarahkan kemana pun oleh guru yang mengajar dan mendidik di sekolah. Peran guru dalam memberikan jalan hidup bagi anak-anak tentu saja menegaskan sebuah makna yang tak sederhana. Guru tak sekadar masuk kelas dan mengajar, tapi juga dituntut mampu memberikan cahaya bagi anak-anak didiknya untuk bersinar di hari depan.

Guru yang dalam leksikon Jawa sering kali diakronimkan dengan ungkapan “digugu lan ditiru” harapannya memang bisa dipegang kebenaran kata dan bisa diteladani perilakunya. Dari guru, anak-anak didik belajar akan makna hidup, motivasi, semangat, dan mentalitas. Gurulah yang melahirkan sosok-sosok besar yang berpikir dan bertindak besar dalam kehidupan. Kesadaran itulah yang mengilhami Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan untuk mendirikan lembaga pendidikan khasnya. Ada juga Ki Hajar Dewantara yang ingin mendidik anak-anak bangsa melalui Taman Siswa-nya. Saat ditahan di Bengkulu, Soekarno pun mengajari anak-anak sejumlah pelajaran dari berhitung sampai bahasa Indonesia. Pernah juga Jenderal Soedirman menjadi kepala sekolah di SD Muhammadiyah di Cilacap sebelum bergabung dengan Pembela Tanah Air (Peta). Selain mereka, masih banyak tokoh-tokoh bangsa yang mengabdi sebagai guru demi terlahirnya anak-anak bangsa yang bernurani, cendekia, sekaligus memiliki kemandirian dan kemerdekaan.

Pastinya, pilihan menjadi seorang guru tidak sekadar materi yang ingin didapatkan. Guru bukanlah politisi yang terus berburu popularitas atau mencari status sosial terhormat di masyarakat. Menjadi guru adalah panggilan hidup untuk mewujudkan peradaban yang bermartabat. Guru adalah sosok yang memainkan peran memanusiakan manusia muda dan mengangkat manusia muda ke taraf insani—meminjam Driyarkara. Motivasi dan tujuan luhur inilah yang seyogianya mendasari siapa pun ketika membulatkan langkah menjadi guru.

Menjadi guru adalah panggilan hidup. Menjadi guru adalah jalan juang yang menyimpan kemuliaan. Di tangan guru, eksistensi bangsa dan negara dipertaruhkan. Menjadi guru adalah sebentuk keberanian untuk membawa anak-anak bangsa menuju cita-cita. Menjadi guru adalah sebuah bentuk pengorbanan demi terlahirnya manusia Indonesia yang kuasa belajar dari masa lalu, berinteraksi dengan masa kini, dan mampu beradaptasi dengan masa depan.

Tegasnya, menjadi guru adalah kemuliaan untuk tidak meninggalkan generasi lemah di negeri ini. Guru adalah aktor penting pendidikan yang—meminjam Ki Hajar Dewantara—akan menuntun segenap kekuatan kodrat anak-anak bangsa agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Maka, sebuah keniscayaan jika saatnya menjadi guru karena panggilan hidup. Guru yang tulus mengabdi tanpa henti. Guru yang memang layak disebut pahlawan karena berharap ridha dan pahala Tuhan. Setelah itu, pahlawan tak ada salahnya diberi “tanda jasa” oleh pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak bangsa. Wallahu a’lam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 10 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 11 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 13 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: