Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kusni_siga

bajawa-kota dingin tempat kelahiranku, batam tempatku mengadu nasib...

Tunjangan Profesi…

OPINI | 04 December 2009 | 08:19 Dibaca: 245   Komentar: 4   0

Guru zaman sekarangperlahan-lahan akan meninggalkan sepeda kumbangnya bapak umar bakrie(lagunya:iwan fals), trus menggantikannya dengan honda revo(program bagimu guru).Kenapa?bagai angin segar…pemerintah mulai memberikan perhatian yang serius untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Ya…tunjangan profesi merupakan salah satu wujud bela rasa pemerintah terhadap nasib kesejahteraan guru…yang perlahan-lahan disebut pahlawan tanpa tanda jasa…gambaran pengorbanan tanpa pamrih. Belum terhitung berbagai insentif yang cair buat guru(swasta maupun PNS) seperti insentif pemko, insentif propinsi,tunjangan fungsional dan akhirnya…ya itu tadi…tunjangan profesi.

Dalam lokakarya yang pernah saya ikuti di Batam, syarat untuk memperoleh tunjangan profesi yaitu melalui proses sertifikasi guru. Proses sertifikasi guru ini dapat dilakukan melalui pembuatan portofolio atau pemberian secara langsung dengan syarat tertentu. Dalam proses pembuatan portofolio, profesionalisme seorang guru benar-benar dinilai…mulai dari masa jabatan, peran dalam masyarakat, daya kreatifitas, imajinasi dan inovasi seorang guru dinilai. Ini tidak mudah…karena dalam penilaiannya, ada batas minimum setiap point penilaian.Dan untuk proses ini, saya sendiri merasa yakin bahwa memang faktor profesionalisme seorang guru mendapat tempat yang pas.

Namun yang menjadi pertanyaan saya, adalah sejauh mana pengawasan terhadap pemberian tunjangan profesi ini; pengawasan yang berkelanjutan. Mengapa? Saya pesimis, daya kreatifitas, imajinasi, inovatif seorang guru hanya berhentisebatas berkas portofolio. Setelah mendapat tunjangan profesi yang seharusnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini, toh…mutu pendidikan kita tetap terpuruk. Alasan inilah yang membuat saya pesimis dengan tujuan awal pemberian tunjangan profesi. Bagaimana kalau setiap guru yang telah mendapat tunjangan profesi setahun sekali dievaluasi kinerjanya. Bukan hanya melalui bukti di atas kertas, tapi ada timsus yang turba…melihat dan menilai…secara mendadak…tidak usah dikasih schedule…toh yang namanya profesional pasti dengan sendirinya sudah siap untuk disupervisi…

kalau hasilnya mengecewakan, apa salahnya tunjangan profesi ini dihentikan. Ini sebenarnya bisa memacu semua guru untuk melakukan yang terbaik buat memajukan dunia pendidikan di tanah air kita. Kalau sudah begini, setiap guru yang sudah mendapat tunjangan profesi pasti akan sungguh-sungguh mengabdikan hidup dan dirinya hanya untuk pendidikan. Bukan tidak mungkin masih ada guru yang mencari tambahan di bidang lain…sekalipun sudah mendapat berbagai suntikan dana segar untuk kesejahteraannya…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 6 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 9 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 13 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: