Artikel

Edukasi

Wijaya Kusumah

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Teacher, Motivator, Trainer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Dosen STMIK Muhammdiyah Jakarta, dan Guru TIK SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan ...

Kenapa Siswa Suka Mencontek? (1)


OPINI | 09 December 2009 | 10:07 Dibaca: 1442   Komentar: 19   1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat

Saya tertegun sesaat ketika ketika tadi pagi pimpinan sekolah mengatakan hampir 100% anak-anak SMP suka mencontek. Bagi saya yang suka meneliti, ini menjadi masalah menarik untuk dijadikan masalah penelitian. Kita bisa menggunakan metode action research untuk memecahkan masalahnya. Melakukan penelitian tindakan dan menentukan langkah-langkah kongkrit agar siswa tidak mencontek.

Pimpinan sekolah saya juga mengatakan, peran pengawas itu sangat penting. Pengawas berperan mengawasi anak-anak agar tidak mencontek. Oleh karenanya, pengawas diminta untuk tidak meleng pada saat mengawasi anak-anak. Memperhatikan gerak-gerik siswa dengan seksama, memperkecil peluang siswa untuk tidak mencontek. Oleh sebab itu, panitia Ulangan Akhir Semester (UAS) melarang pengawas untuk mengobrol, membaca buku, membaca koran, mengoreksi ulangan, dan aktivitas lainnya yang tidak ada hubungannya dengan tugas sebagai pengawas.

Apa yang disampaikan oleh panitia dan pimpinan saya di atas, ada benarnya, tetapi ada juga salahnya. Pengawas adalah seorang guru yang juga memiliki kelemahan dan keterbatasan. Selama hampir dua jam mengawasi siswa, tentu ada semacam kejenuhan menghinggapi diri. Adalah wajar apabila kemudian ada pengawas yang mengobrol dengan pengawas lainnya. Sekedar say hello atau ngobrol-ngobrol hal penting lainnya. Sepanjang itu masih bisa ditolerir, dan mata tetap awas mengawasi siswa, bagi saya secara pribadi itu sah-sah saja.  Rasanya kasihan juga anak-anak kalau diplototin terus oleh dua orang pengawas, bisa stress mereka.

Kadang-kadang pengawas perlu juga sedikit humor dan mengeluarkan joke-joke segar yang membuat mereka tertawa. Sehingga suasana kelas menjaditidak terlalu tegang. Misalnya, pengawas mengatakan bahwa kalau UAS kali ini, pak SBY-Budiono ikut juga mengawasi UAS loh!. Coba kalian perhatikan, mereka selalu tersenyum melihat kelakuan kalian, apalagi bila melihat kalian mencontek. Mereka akan tetap tersenyum melihat kelakuan kalian mencontek, hehhehehe.

Pengawas memang garda terdepan dalam suksesnya UAS. Di tangan merekalah keberhasilan UAS terjadi. Bila mereka tegas dalam mengawas, dan selalu menekankan nilai-nilai KEJUJURAN kepada anak-anak, maka anak-anakpun akan segan untuk mencontek. Mereka akan berpikr ulang bila ingin mencontek.

Anak-anak kita sebenarnya adalah anak-anak yang lugu dan polos. Mereka mencontek karena tidak belajar yang berujung kepada ketidakmampuan siswa mengerjakan soal-soal. Bila guru mampu membimbing mereka dengan baik dan benar, maka mereka akan memegang teguh nilai KEJUJURAN itu. Mereka akan tetap berusaha mandiri dan tidak mencontek pada teman, walaupun mereka tidak bisa menjawab soal-soal itu dengan benar.

Adanya siswa yang suka mencontek, sebenarnya bukan saja karena siswa itu tidak siap dengan penguasaan materi, tetapi ada juga siswa yang memiiki keinginan berbagi yang tinggi, tetapi salah cara berbaginya. Berbagi tidak pada saat ulangan. Kalau itu terjadi, contek-mencontek menjadi hal biasa ketika guru tanpa sadar memberi peluang kepada mereka. Disinilah lagi-lagi pengawas harus jeli dalam melihat kegiatan mereka dalam menjawab soal-soal.

iseng-iseng saya pernah bertanya kepada anak didik saya, kenapa siswa suka mencontek. Jawaban mereka bervariasi. Ada yang bilang karena tidak belajar, merasa tidak siap, terpengaruh teman, tidak percaya diri, dan lain-lain sebagainya. Tapi intinya, mereka kurang pede dengan hasil pekerjaan mereka sendiri karena proses belajar mereka yang kurang. Mereka terkadang sering mencocokkan jawaban dengan temannya. Keragu-ragan itulah yang akhirnya membuat mereka kurang pede dan terpaksa mencontek dengan temannya yang lebih pintar.

Ada lagi yang mengatakan, karena adanya kesempatan atau peluang. Pengawas memberikan waktu yang cukup untuk mereka berinteraksi dan melakukan kreativitas dalam mencontek. Mereka sering kali memanfaatkan kelemahan pengawas.  Bila pengawas lemah, maka di situlah para setan-setan berkeliaran mempengaruhi mereka, dan membuat goyah iman anak-anak. Mulailah mereka beraksi, bertanya kanan-kiri, depan belakang, atau mengeluarkan catatan kecil di tempat tersembunyi yang hanya mereka saja yang tahu. Di situlah kreativitas yang salah terjadi. Anak-anak menjadi kreatif dalam mencontek. Guru pengawas harus mengetahui gaya mereka ketika mencontek. Bila saja di setiap ruangan dipasang alat perekam video, maka akan termehek-meheklah para pengawas itu. (mungkin kita juga pernah melakukan hal itu ketika kita sekolah dulu, ayo ngaku??? (hehehehe)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: