Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Berthy B Rahawarin

berthy b rahawarin, aktivis.

Nilai Penghargaan Menurut Abraham Maslow (Dari Sharing Mariska)

OPINI | 09 December 2009 | 12:23 Dibaca: 1904   Komentar: 8   3

Tulisan ‘teh’ Mariska Lubis “Hargailah Niat Baik Kompasioner” (Kompasiana, 6/12), telah memaksa kita untuk sedikit bermenung pada makna “Suatu Penghargaan” sebagai dikatakan Abraham Maslow sebagai salah satu tingkat hirarki kebutuhan kemanusiaan yang, diakui atau tidak, sadar entah tidak, hidup bersama dengan kebutuhan-kebutuhan lain dalam eksistensi manusia.

Ungkapan Mariska adalah salah satu pencarian eksistensial jati diri manusia dan menjadi bagian penting refleksi psikologis atas kebutuhan dasar manusia, inter dan antar manusia dalam berinteraksi dan bertransaksi. Maslow menyebutkan Kebutuhan akan Penghargaan sebagai kebutuhan di tingkat ke-ekmpat yang juga tetap dibutuhkan oleh manusia, meskipun tampak remeh-temeh. Kebutuhan akan penghargaan itu, dapat berbentuk fisik dinyatakan seperti piagam, tanda, jasa, hadiah, dan banyak lagi yang lain. Tetapi, salah satu yang penting adalah pujian.

Kebutuhan itu ada di antara empat kebutuhan lainnya, yakni kebutuh fisiologis (sandang-papan), kebutuhan akan keamanan dan keselamatan, Kebutuhan sosial (memiliki keluarga, teman, dst); dan kebutuhan terakhir yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan mengaktualisasikan diri (self-actualization).

Catatan ini mungkin menjadi sekedar prolog untuk kita membuka diri mencoba membaca pola komunikasi dalam tulisan-tulisan. Kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan sesama dalam lingkup sosial adalah hal yang melekat dalam keberadaan (eksistensi) manusia sebagai manusia. Demikian halnya, saat seseorang, yag kita, saling mencoba mengungkapkan diri dalam diskusi atau sharing lewat tulisan, kita mencoba mengungkapkan perasaan, pikiran dan pengalaman kita kepada sesama. Kita mengharap, bahwa sesama mendengar dan menghargai. Jika, temanku mengkritisi pendapatku, aku berharap bahwa motivasi yang dibawanya dalah “ia menghendaki aku bertumbuh lebih maju”.

Martin Bubber, salah seorang filsuf eksistensial, merenung lebih jauh tentang “Dialog” sebagai jalan pengaminan kehadiran manusia satu bagi yang lain, sebagai pengakuan, dan bahwa lebih dari sekedar pengakuan mereka membangun diri untuk melampaui dirinya (self-transendene) dan menjadi “sesama-sejati” bagi yang lain. Dikemudian hari kita mengenal nama Jurgen Habermas degan “diskursus”-nya untuk mempertemukan manusia dalam saling meneguhkan cara pandang menuju kebenaran ’sejati’, setidaknya membuka ruang saling mendengar dan mengakui perbedaan.

Mengikuti tanggapan-tanggapan yang susul-menyusul yang begitu seru dan menarik, paska tulisan Mariska, saya segera tergoda cebur dan larut dalam ungkapan hati masing-masing. Kalau, langsung memberi jawaban sekedar  “menyenang-nyenangkan” hati Mariska atau ’supporter’-nya, (mungkin) akan membuka jurang dialog dengan teman-teman yang, suka tidak suka - sadar entah tidak, memposisikan  dalam bahasa rivalitas (kompetisi) bukan dialog kritis.

Meskipun, sebenarnya kesan sedemikian muncul, nilai positif utama yang segera kalau boleh kita sama-sama garis-bawahi adalah “seburuk apa pun seseorang mengatakan sesuatu tentang diriku, ia menghendaki suatu komunikasi dengan diriku”, meskipun dalam suasana belum positif. Karena, keadaan tanpa diskusi dan debat, “ruang kematian” segera menganga di seluruh pojok ruang Kompasiana.

Mengunjungi teman (bloger di blognya) adalah suatu penghargaan (akan perjumpaan). Bila seseorang membaca tulisan si A dengan maksud ingin mencari kelemahannya saja, sementara menutup mata terhadap kelebihan, persoalan memang ada di siapa pengunjungnya, bukan siapa yang dikunjungi.  Sikap menghargai seperti diungkap Mariska, lalu memiliki banyak sisi, yang tidak dapat diterangkan dalam ruang singkat ini.

Tapi, sekedar memberi konteks “Bagaimana sebaiknya kita bersikap di antara diri kita, dan bagaimana kita bahkan bersikap terhadap diri sendiri” (pikiran Thomas A Harris, psikolog). Kalau Mariska masih menjadi salah-satu blogger paling banyak dikunjungi, ia bukan hanya mendapat perhatian dan penghargaan lebih. Ia menerima pengakuan atas aktualisasi atau ekspresi dirinya. Demikian pula teman yang lain, pun bila setiap permenungannya dikunjungi bahkan oleh seorang sekalipun. Anda mendapat penghargaan, ketika Anda dikunjungi.

Kita mungkin perlu mencari seseorang yang telah kita sakiti hatinya, atau orang yang merasa berada dalam keterasingan (alienasi), entah karena diasingkan atau karena dari dalam dirinya terasing. Keterasingan yang sesungguhnya dilakukan orang terhadap orang lain, umumnya bermotif politik, seperti pengalaman Chairil Anwar yang terungkap dalam puisi  “AKU”, “…luka dan bisa kubawa berlari/Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri/Dan aku akan lebih tidak perduli

Kita hanya perlu untuk perduli (care) saja. Pintu penghargaan pada orang lain, dan penghargaan pada diri sendiri. Semakin aku menghargai orang lain (altrosentrisme), semakin aku menimbun (dan akan memanen) penghargaan yang pantas sebagai manusia. Sebaliknya, bila aku hanya memperdulikan diriku dan kebutuhanku (egosentrisme), aku (berpeluang) kehilangan segalanya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 9 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: