Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Isdiyono Pak Guru

Sebuahperjalanan panjang tanpa batas, untuk mencetak buah pemikiran, dalamsebuah coretan, yang kan menjadi sebuahnoktah dalam selengkapnya

Revolusi Dongeng Kancil

OPINI | 15 December 2009 | 12:58 Dibaca: 704   Komentar: 3   1

Sewaktu kita kecil, dongeng yang paling populer adalah dongeng kancil dengan judul “Kancil Mencuri Timun”. Dikisahkan sosok kancil sebagai tokoh yang memiliki seribu satu cara untuk meloloskan diri dari masalah. Dia selalu menjadi pemenang dalam suatu pertandingan, atau dapat mengelabuhi musuhnya. Bahkan, dia rela mengorbankan temannya sendiri hanya demi meloloskan diri dari parang pak tani.

Namun, sosok cerdik dan licik ini malah menjadi figur pahlawan dan panutan anak-anak. Kecerdikannya telah menginspirasi berjuta anak-anak Indonesia dalam kehidupannya. Menemani setiap pemikiran anak-anak itu dalam kesehariannya.

Padahal, dongeng adalah sebuah sarana yang sangat mudah untuk dicerna anak-anak. Dongeng dapat membius anak untuk masuk ke dalam dunia khayal yang luar biasa. Anak pasti akan tertarik untuk mendengar dongeng karena ceritanya yang menarik dan merangsang anak untuk membayangkan dan berandai-andai.

Kusumo Priyono (2008) berpendapat bahwa dongeng dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan suatu pesan. Di samping itu, dongeng dapat juga digunakan sebagai sarana menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Sebagai sebuah metode yang murah dan efisien untuk memberikan pelajaran berharga bagi anak.

Nah, di samping memberikan kemudahan bagi seorang guru atau orang tua dalam menyampaikan pesan, dongeng juga ada yang terselip pesan buruk. Dalam kasus kancil ini, banyak sekali sifat-sifat yang tidak patut untuk dicontoh anak. Meskipun seorang guru atau orang tua telah menjelaskan bahwa sifat-sifat kancil itu harus dihindari. Bukan berarti anak adalah seorang yang tidak memiliki pemikiran dan hanya mengikuti apa yang dikatakan orang lain.

Pada kenyataannya tidak semua anak dapat mencerna pesan moral yang disampaikan dengan baik. Justru karena dirasa kancil adalah sosok tokoh yang pintar, maka banyak anak kemudian menjadikannya idola. Pemikirannya dalam melakukan kejahatan atau sekedar menghindarkan diri dari masalah menjadi sesuatu yang menarik bagi anak. Secara langsung, efek ini dapat terlihat ketika anak telah mendengar dongeng. Jika anak mulai bisa mencari-cari alasan untuk menutupi kenakalannya, maka efek negatif tokoh kancil telah masuk dalam pemikiran anak.

Efek kecil ini secara tidak sadar akan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi anak untuk mencoba melakukan kelicikan. Jika sikap ini berlanjut, maka bahaya yang besar akan menanti masa depan pendidikan kita. Pendidikan tidak akan terlepas dari nilai-nilai kelicikan sikap kancil. Dalam hal apapun, mulai dari yang kecil dan membesar.

Nampaknya dongeng kancil ini perlu segera diputus sedini mungkin untuk mencegah pembentukan karakter generasi muda yang bermental kancil. Pentingnya perubahan ini adalah demi meningkatkan kualitas pendidikan dari sudut pandang ketokohan. Alasan, karena tokoh adalah suatu hal penting bagi anak dalam mendapatkan nilai keteladanan.

Pendidikan kita sekarang ini sedang membutuhkan tokoh teladan yang mengajarkan perjuangan dan kehormatan dalam meraih suatu cita-cita. Berjuang dengan mempertahankan kehormatan diri, bangsa, negara dan agama dalam menyikapi permasalahan hidup.

Revolusi dongeng kancil adalah salah satu hal mendasar untuk membangun konstruksi pemikiran anak-anak. Sebuah perubahan yang membutuhkan perbaikan dengan segera. Tidak membutuhkan bantahan karena buah dari ideologi kancil mencuri timun ini telah tertanam dalam kasus-kasus korupsi di negeri kita ini. Korupsi adalah salah satu bukti nyata efek negatif dari dongeng kancil. Kecerdikan, tipu muslihat dan menghalalkan cara, bahkan mengorbankan teman pun dilakukan. Sesuai dengan pemikiran sang tokoh,” bagaimana aku dapat selamat?”

Sudah saatnya figur tokoh anak adalah orang-orang yang menebarkan kebaikan. Dan, sayangnya dongeng yang kini sedang merebak di negara kita adalah dongeng tentang Cicak dan Buaya. Sebuah dongeng yang menggambarkan perseteruan antara dua pahlawan dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Tidak jauh berbeda dari dongeng si kancil.

Isdiyono, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

dimuat di Harjo, Suara Mahasiswa

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 13 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 14 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 8 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 9 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Marah, Makian, Latah. Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: