Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wongmuntilan

Saya suka menulis (meskipun kadang isinya tidak penting), suka membaca dan menanggapi tulisan orang lain, selengkapnya

Belajar Memotivasi Anak Didik

OPINI | 06 January 2010 | 08:12 Dibaca: 226   Komentar: 4   0

Salah satu kategori kenangan yang paling manis dalam hidupku adalah saat aku mengajar di sejumlah SD di Jakarta dan sekitarnya. Begitu banyak manfaat yang bisa didapat dari profesi yang satu ini. Apalagi untuk seseorang yang pada dasarnya agak kaku dan sulit berinteraksi dengan anak-anak, seperti si penulis sendiri.

Pada waktu itu aku dan sejumlah rekan guru bertugas mengajar ekstrakurikuler bahasa Inggris di SD Pangudi Luhur, Jakarta Selatan, setiap hari Rabu pukul 14.00 (entah sekarang jadwalnya sudah berubah atau belum). Seperti biasa, pukul 16.00 sehabis mengajar, kami berkumpul kembali di ruang guru, melepas lelah sambil membereskan barang-barang dan bersiap pulang. Pada saat inilah kami biasanya saling bercerita. Cukup banyak memang kejadian-kejadian unik di dalam kelas.

Hari itu misalnya, sewaktu jam mengajar, ada suara lengkingan heboh dari sebuah kelas yang dipegang oleh seorang rekan guru senior. Kelas tersebut mayoritas diisi oleh murid-murid kelas 2 SD. Saking keras, heboh, dan tingginya nada teriakan itu (sekitar 5 oktaf!), sejumlah orang tua dan pengasuh yang menunggu di halaman sekolah sampai menengok ke dalam kelas. Rupanya ada seorang murid laki-laki, sebut saja K, yang marah gara-gara diganggu oleh temannya, dan amarah itu dilampiaskan dengan cara menjerit sekeras-kerasnya, dengan nada yang setinggi-tingginya, disusul dengan tangis berkepanjangan. Seingatku, dalam satu tahun ajaran, kejadian ini berulang beberapa kali.

Saat itu aku bersyukur, tidak ada seorang pun muridku yang berkelakuan seperti itu. Maklumlah, saat itu sebagai guru yunior aku diserahi tugas mengajar murid-murid kelas 3 SD yang notabene sudah cukup besar dan tidak cengeng lagi.

Tahun ajaran berikutnya tugasku masih sama, mengajar murid-murid kelas 3. Murid-muridku badung-badung (seperti biasa), namun kegiatan belajar-mengajar berjalan mulus, tanpa ada satupun masalah yang timbul. Sampai kejadian teriakan itu terulang lagi, kali ini di kelasku.

Rupanya K, murid kelas 2 itu tahun ini sudah naik ke kelas 3 dan masuk di kelasku. Astaganaga, aku sempat kaget. Tak heran waktu melihat wajahnya saat pertama kali masuk kelas, aku merasa lupa-lupa ingat. K tergolong bongsor untuk anak seusianya. Wajahnya manis dan lucu dengan pipi montok, seperti malaikat cilik. Dia salah satu murid terpandai di kelas, dan kelakuannya sangat baik, tergolong alim bila dibandingkan dengan teman-temannya. Hanya saja, ia memang mudah marah kalau diganggu.

Sehabis berteriak, K menangis. Bahunya terguncang-guncang hebat. Terlihat jelas ia berusaha keras mengontrol emosi. Aku menyuruh si biang keladi, sebut saja A, anak paling iseng di kelas, untuk meminta maaf. K menyambut uluran tangan temannya itu sekilas, lalu cepat dilepasnya kembali. Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 15.00, waktunya istirahat. Murid-murid boleh beristirahat selama 15 menit. Setelah aku mengumumkan waktu istirahat tiba, seluruh murid bergegas keluar untuk bermain di halaman. Hanya K saja yang masih tinggal di dalam kelas. Tangisnya sudah agak reda.

Tidak tahu harus berbuat apa, perlahan, kudekati dia. Aku bertanya, mengapa tadi dia marah-marah. Masih terisak, K bercerita. Rupanya si A berbuat iseng. Aku lantas bertanya, apakah A jahat? K menjawab, tidak. Aku berkata (semoga saja benar), kalau ada teman berbuat iseng pada kita, asalkan tidak keterlaluan, itu berarti dia menganggap kita teman. Kalau tidak kenal sama sekali, kecil kemungkinannya dia iseng. Ya tidak? K mengangguk.

Saat itu aku merasa, inilah saat yang tepat untuk memotivasi K. Tapi bagaimana caranya ya? Sebatang pohon besar yang tumbuh tepat di depan kelas memberiku ide. Aku berkata lagi, orang yang suka iseng itu jumlahnya banyaaaaaaak sekali. Kan repot juga kalau setiap kali diisengi kita marah-marah. Nah, coba kamu lihat pohon besar itu. Setiap hari ia ditiup angin, kadang-kadang diterpa hujan dan badai, namun ia tetap berdiri teguh. Kamu harus bisa seperti pohon itu. Toh teman-temanmu tidak jahat, mereka hanya ingin mengajak bermain. Anggap saja mereka seperti angin dan hujan, kamu pohonnya. Tegar dan kuat. Bisa, kan?

K mengangguk. Wajahnya berubah cerah.

Aku menambahkan sambil bercanda, kalau ada yang keterlaluan bandelnya, bilang aja ke Miss. Nanti Miss jewerrrrr…!!!

K tertawa. Senang sekali melihatnya tertawa.

Sejak saat itu hingga tahun ajaran berakhir, tidak pernah sekali pun K marah-marah. Ia lebih ceria, dan karenanya, lebih banyak teman. A dan geng anak-anak badung itu pun menjadi temannya.

Itulah kisah K, seorang mantan muridku yang pandai, baik hati, dan tegar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 11 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 12 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: