Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abah Yoyok

saya orang biasa-biasa saja. senang membaca dan senang menulis untuk sekedar mengeluarkan uneg-uneg ataupun menceritakan selengkapnya

Fasilitas Jabatan

OPINI | 06 January 2010 | 08:42 Dibaca: 155   Komentar: 2   0

Sekecil apapun yang namanya jabatan adalah nikmat bagi yang mendapatkannya. Karena itu tak heran jika banyak orang memperebutkannya dengan segala daya dan upaya. Kalau perlu dukun ikut bicara.
Cerita tentang nikmatnya fasilitas jabatan ini bukanlah sekedar dongeng. Ini memang kenyataan yang bisa kita lihat sehari-hari di setiap instansi pemerintah. Contoh yang jelas saja adalah fasilitas mobil dinas yang super mewah bagi para Menteri dan pejabat negara lainnya. Satu kendaraan harganya mencapai 1,3 Milyard. Apa nggak bikin orang iri dan gregetan. Itu baru fasilitas modil dinasnya, belum fasilitas rumah dinas, fasilitas kerja, fasilitas gaji dan tunjangan-tunjangan lainnya.

Fasilitas-fasilitas jabatan itu juga tidak hanya dinikmati oleh Pak Menteri tapi juga oleh seluruh pejabat dari tingkat Esselon 1 sampai Esselon 4. Berbeda dengan para bawahan atau staf biasa atau pegawai yang tak punya jabatan. Mereka hanya bisa menggigit jari sambil menahan ilernya agar tidak terjatuh lantaran sebagai manusia biasa kadang-kadang tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya atas segala fasilitas yang notabene hanya bisa dinikmati oleh para pemegang jabatan tersebut.

Tidak hanya cemburu, para bawahan, pegawai non esselon itu seringkali merasa diperlakukan tidak adil oleh yang namanya jabatan. Jabatan ternyata identik dengan kekuasaan. Kuasa atasan terhadap bawahan untuk memerintah: “bikin ini, bikin itu”. Kuasa untuk mengatur ”harus begini harus begitu”. Kuasa untuk melarang ”jangan begini jangan begitu”. Kuasa untuk membagi-bagi rejeki tambahan ”saya segini kamu segitu”. Hebat, kan ?

Dan yang lebih asyik lagi, pejabat itu bukan hanya kekuasaannya saja yang istimewa. Fasilitasnya juga istimewa. Fasilitas jabatan yang disediakan oleh negara untuk para pejabat sesuai dengan tingkat jabatannya.

Yang pertama adalah tunjangan jabatan. Yaitu penghasilan resmi yang setiap bulan diterima sesuai dengan tingkat jabatan. Fasilitas ini sudah diatur dari “sono”nya dan tak bisa diatur sendiri oleh sang pejabatnya.

Apa ada fasilitas jabatan yang bisa diatur sendiri oleh sang pejabatnya ? Jawabnya buanyak ! Kendaraan dinas misalnya. Idealnya setiap pejabat itu cukup dapat satu saja. Kenyataannya banyak pejabat yang kendaraan dinasnya lebih dari satu.

Pejabat tingkat menengah ke atas biasanya dapat fasilitas kendaraan roda 4. Pejabat tingkat paling bawah sebagian ada yang dapat roda 4 ada juga yang hanya dapat roda 2. Staff biasa juga banyak yang dapat fasilitas kendaraan roda 2 yang biasanya diberikan atas dasar kebaikan pimpinan.

Seluruh kendaraan dinas tersebut diberi fasilitas bahan bakar setiap bulan dan biaya perawatan per tahun. Entah berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh negara untuk membeli dan memfasilitasi ribuan kendaraan dinas setiap tahunnya.

Untuk para bawahan cukup fasilitas bus jemputan yang tidak gratis. Kata Pak Supir jatah bahan bakar nggak cukup buat sebulan. Jadi terpaksa para penumpang harus iuran setiap bulan untuk tambahan beli bensin dan honor supir.

Enak ya punya jabatan ? Hidupnya tak jauh dari fasilitas. Sudah punya kendaraan pribadi misalnya, masih juga dapat kendaraan dinas. Sudah punya rumah pribadi masih juga diberi fasilitas rumah dinas lengkap dengan sarana AC, telepon, listrik dan air. Kalau perlu ditambah lagi dengan TV, komputer, kamera, handycam, dsb, yang pada akhirnya bisa jadi milik pribadi.

Hampir setiap pejabat di samping meja kerjanya ada komputer tapi untuk mengetik selembar surat saja lebih sering menyuruh anak buahnya. Mereka lebih banyak sibuk mengetik laporan perjalanan dinasnya sebagai pelengkap agar bisa mengajukan rencana perjalanan berikutnya.

Setiap kali ada pengadaan komputer baru, misalnya. Pasti boss duluan yang minta. Apalagi kalau pengadaan laptop. Langsung dipegang Boss, dibawa pulang ke rumah. Hanya sesekali saja dibawa ke kantor. Alasannya faktor keamanan.

Di antara sekian banyak fasilitas yang tersedia ada yang paling enak dan istimewa. Tidak kelihatan tapi manfaatnya jauh di atas lumayan. Namanya kewenangan. Saking enaknya maka banyak pejabat yang keenakan sehingga lupa diri dan bertindak sewenang-wenang di ruang lingkup jabatannya.

Cisauk, 06.01.10

Pecinta Seni-Budaya Tangerang Serumpun

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 8 jam lalu

Saatnya Import Substitution Strategy untuk …

Ahmad Mikail | 8 jam lalu

Jangan Bakar Jembatan …

Bonekpalsu | 9 jam lalu

Kios Pasar Pon Diperjual Belikan Oknum …

Fajar Agustyono | 9 jam lalu

Kuda-kuda yang Terluka …

Feri Sapran | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: