Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bayu Amus

Menggemari makan enak, tertarik dengan kreativitas, dan hal-hal melebihi ranah logika. Mendalami User eXperience Design, selengkapnya

Kemampuan Mengambil Keputusan

OPINI | 06 January 2010 | 01:39 Dibaca: 701   Komentar: 3   1

Ilustrasi

Ada artikel menarik di Scientific American online mengenai karakteristik dari proses pengambilan keputusan. Dari serangkaian eksperimen yang mereka lakukan, diketahui bahwa ternyata aktifitas pengambilan keputusan, memilih, menahan diri, terhadap hal besar maupun kecil, terhadap hal penting maupun trivial, semuanya tergantung pada suatu resource yang sama dalam otak kita; “executive function”, yang manakala mengalami keletihan, maka kinerjanya tidak akan efektif lagi.

“These experimental insights suggest that the brain works like a muscle: when depleted, it becomes less effective. Furthermore, we should take this knowledge into account when making decisions. If we’ve just spent lots of time focusing on a particular task, exercising self-control or even if we’ve just made lots of seemingly minor choices, then we probably shouldn’t try to make a major decision. These deleterious carryover effects from a tired brain may have a strong shaping effect on our lives”. On Amir, Scientific American.

Bagi mereka yang kelelahan di rumah karena aneka keputusan yang harus mereka buat, maka biasanya di kantor mereka tidak bisa bekerja dengan baik. Jadi jangan dibiasakan untuk diskusi serius di rumah sebelum berangkat kantor di hari yang sibuk, apalagi debat atau sampai berantem. Dan sebaliknya; mereka yang kelelahan mikir dan memutuskan di kantor, begitu sampai rumah maka biasanya akan kelelahan untuk mikir urusan rumah jadi akan sulit terlibat kalau pasangan atau anak mengajak diskusi. Jadi tergantung prioritas anda masing-masing, maka jika ada pekerjaan / kegiatan penting yang melibatkan pengambilan keputusan, lakukanlah di awal, saat kinerja dan energi “executive function” anda masih penuh. Dan manakala kita tahu butuh untuk mengambil keputusan atas suatu permasalahan yang kompleks tapi tidak bisa melakukannya di awal hari; maka jangan paksakan diri untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal kecil juga, karena bisa jadi kemampuan anda mengambil keputusan untuk hal yang lebih penting akan berkurang drastis.
Karena dasar keterbatasan ini pulalah, seorang pemimpin atau manajer yang tahu diri biasanya akan mendelegasikan atau membagi-bagikan tugas dan membiarkan asisten-asistennya untuk membuat keputusan yang kurang vital, serta mengambil referensi ahli daripada ribet mikirin sendiri. Karena ia tahu, daya pikirnya lebih baik dicurahkan untuk hal-hal yang sangat penting yang tak bisa orang lain wakili. Sedangkan seorang individu yang sadar diri, akan menerapkan skala prioritas pada tugas-tugas yang harus ia kerjakan; fokus pada hal-hal yang penting, tanpa terlalu banyak berpikir atau memilih dalam tugas-tugas yang kurang penting.

Di sisi lain, sebagaimana juga karakter dari otot; makin dilatih makin berkualitas, maka sedari dini kita seharusnya terus melatih kemampuan “executive function” kita untuk mengambil keputusan, karena otak yang terlatih dalam mengambil keputusan bisa mengalami beberapa hal:

  1. Memiliki struktur pengambilan keputusan yang efektif dan efisien, sehingga tidak menguras energi alias resource yang dibutuhkan pun lebih hemat.
  2. Memiliki resource sumber energi yang lebih besar untuk pengambilan keputusan, sehingga lebih tahan untuk dipakai terus-menerus.
  3. Memiliki momentum (percepatan) tinggi, sehingga proses pengambilan keputusan bisa berjalan relatif lebih cepat dibanding mereka yang momentumnya rendah, karena tidak terbiasa atau jarang atau lama tidak mengambil keputusan.

Ini juga agaknya, alasan kenapa seorang boss yang baru pensiun akan tak betah di rumah, ikut mengatur ini-itu, dan menjadi super cerewet, karena ia memiliki banyak cadangan energi untuk executive function, namun tidak memiliki penyaluran yang tepat.

Ingin pandai dalam membuat keputusan? Mampu membuat keputusan yang baik untuk hal-hal yang besar? Berlatihlah mengambil keputusan sedari dini, buatlah pilihan-pilihan anda secara sadar, dan jangan biasakan menyerahkan keputusan yang mampu anda buat, ke tangan orang lain. (bay)

Catatan:
Image dari: http://wattsupwiththat.files.wordpress.com
Crosspost kesini: http://multiply.com/gi/kangbayu:journal:1062

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 12 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 13 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 14 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 8 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Jazz Atas Awan, Mendengar Musik Menikmati …

Pradhany Widityan | 8 jam lalu

Indahnya Kebersamaan di Ultah Freebikers …

Widodo Harsono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: