
Tergerak untuk mengajukan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada Pemilukada 2012 melalui jalur independen, dengan dukungan penuh warga. Sila juga tengok www.faisal-basri.com
Dibaca: 1564
Komentar: 98
8 dari 9 Kompasianer menilai Aktual
Rasanya hampir mustahil untuk sampai pada kata sepakat bulat tentang apakah penutupan Bank Century akan berdampak sistemik atau tidak sistemik. Saya sekedar ingin berbagi di forum Kompasiana ini tentang apa yang saya sampaikan di hadapan Pansus Century pada hari Kamis malam, 21 Januari 2010.
Pada kesempatan itu saya menyampaikan dua hal. Pertama, kita tidak bisa menilai apa yang terjadi lebih setahun yang lalu dengan acuan keadaan sekarang. Mungkin analogi berikut bisa membantu: pada November 2008 saya terserang gejala demam berdarah. Saya buru-buru ke rumah sakit untuk segera ditangani. Ada sahabat yang mengatakan tak perlu ke rumah sakit, cukup istirahat dan minum obat. Saya tak mengindahkan saran sahabat itu.
Sekarang saya segar bugar. Mungkin, kalau saya tak ke rumah sakit kala itu, saya pun sekarang tetap segar bugar. Kalau benar demikian, saya seolah-olah merugi, buang-buang uang untuk ongkos dokter, rumah sakit, dan obat.
Analogi di atas boleh jadi terlalu menyederhanakan masalah. [Analogi ini tak saya sampaikan di Pansus.]
Yang saya utarakan ialah pemikiran yang diajukan oleh Paul Krugman, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2008. Krugman mengingatkan kembali suasana krisis yang terjadi di Asia tahun 1997-1998 dan di Mexico tahun 1995.
Krugman membuat paralel berikut. Microphone di dalam suatu auditorium selalu menciptakan suatu feedback loop: suara yang disalurkan oleh microphone diperkeras oleh loudspeaker; output dari speaker itu sendiri diteruskan oleh microphone; dan seterusnya.
Apa yang terjadi di Thailand dan Mexico adalah a devastating feedback loop dari pemburukan pasar finansial dan kemerosotan confidence.
Harus diupayakan agar lingkaran ini terputus. Jika tidak, kondisi makroekonomi bisa eksplosif. Kita tidak bisa menghitung berapa besaran ledakan tersebut dan juga ongkos yang harus ditanggung oleh perekonomian.
Bailout merupakan salah satu tindakan untuk memutus lingkaran setan. Dengan bailout, ongkos yang harus ditanggung perekonomian lebih terukur. Dalam kasus Century, sejauh ini dana yang disuntikkan mencapai sekitar Rp 6,7 triliun. Di kemudian hari, paling tidak ada sebagian dana yang kembali jika Bank Mutiara (nama pengganti Bank Century) dijual. Kita belum bisa memastikan berapa nilai neto sekarang (net present value) dari penjualan Bank Mutiara nantinya.
Katakanlah hasil penjualan tak akan mencapai sebesar dana bailout, sehingga “negara” dirugikan. Kerugian itu tentu saja kurang dari Rp 6,7 triliun.
Bagaimana jika pada November 2008 Bank Century ditutup? Karena ada program penjaminan, maka pemerintah harus mengeluarkan dana setidaknya sekitar Rp 5,2 triliun bagi seluruh nasabah yang dananya di bawah Rp 2 miliar sesuai dengan ketentuan program penjaminan.
Ada juga kemungkinan penutupan Bank Century berdampak domino, setidaknya ke bank-bank yang ukurannya sama atau lebih kecil yang juga mengalami masalah likuiditas dan solvabilitas.
Krisis confidence ini berpotensi merembet ke pasar uang, misalnya pemilik dana akan menukarkan rupiahnya ke dollar, lalu menempatkannya di luar negeri (capital flight). Maka confidence makin terkikis.
Selanjutnya, perbankan mengalami pengeringan likuiditas. Penyaluran kredit tersendat. Proyek-proyek yang sedang berjalan bisa terhenti. Kucuran likuiditas yang tersendat membuat pengusaha menurunkan produksi, lalu memecat buruhnya. Loss of confidence memasuki tahap yang lebih dalam. Dan seterusnya.
Semua itu menimbulkan potensi ongkos krisis yang sulit diukur dan diprediksi. Sekali lagi, kita tak bisa menilai keadaan November 2008 dengan acuan keadaan sekarang.
Persoalannya bukan pada untung atau rugi dari bailout. Pengambilalihan Bank Century bukanlah pilihan investasi oleh LPS, sehingga kurang tepat kalau yang dipersoalkan apakah untung atau rugi dan berapa nilainya. Yang lebih relevan adalah membandingkan berapa kerugian menutup Bank Century atau mengambilalihnya.
Bank Century jelas-jelas adalah bank bobrok. Para pejabat dan mantan pejabat BI sekalipun hampir semua mengatakan bahwa pemilik Bank Century perampok.
Pilihannya adalah meminimalisasikan ongkos untuk membayar pembiaran sangat lama yang tak boleh dimaafkan. Harus ada yang bertanggung jawab untuk itu. Tugas KPK membuktikan unsur pidananya.
Ongkos yang sangat mahal harus dibayar dengan perbaikan dan pembenahan seksama agar peristiwa serupa tak terulang kembali.
Kedua, perlu diingat, jika dalam waktu dekat terjadi peristiwa serupa, kita tak memiliki payung hukum. Tak ada protokol tentang apakah penutupan bank bakal berdampak sistemik atau tidak sistemik; dan kalau sistemik, bagaimana prosedur penanganannya. Tak seorang pun yang mau memutuskan lagi karena memang tak ada ketentuan siapa yang berwenang dan bertanggung jawab. Tak terbayangkan apa yang bakal terjadi.