Edukasi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Kompasianer, untuk sementara saya akan sangat jarang memutakhirkan tulisan di Kompasiana.com karena saya sedang tinggal di Filipina dan sibuk-buk-buk sekali... maaf ya... :-) kalau mau berkirim pesan, silakan lewat e-mail saja.... hireka.eric@gmail.com
Profesor Plagiator: Maling Teriak Maling
REP
Hireka Eric
|  4 Februari 2010  |  22:00
5766
92
3 dari 4 Kompasianer menilai Aktual.
I will note plagiarize

I will not plagiarize

Berkaitan dengan hebohnya artikel Kompasianer Limantina Sihaloho (lih. Professor (Indonesia) Memalukan?) tentang pengumuman dari The Jakarta Post bahwa Prof. Anak Agung Banyu Perwita telah melakukan plagiat di dalam kolom Opini (lih. The Jakarta Post: Plagiarism), saya menemukan juga satu datum yang ironis.

Betapa tidak, Harian Pikiran Rakyat pernah mewawancarai sang profesor dan memuatnya dalam feature (sayang, tanpa keterangan tanggal) di dalam website mereka (lih. Prof. Anak Agung Banyu Perwita: ”Multiple Choice? Enggak Banget”).

==============update 8 Feb ‘10==============
wawancara tersebut dimuat di harian Pikiran Rakyat tanggal 17 September 2008. Tautan alternatifnya ada di sini. terima kasih untuk Kompasianer @Mbak Desi.
========================================

Saya kutipkan bagian akhir feature tsb (efek cetak tebal dan miring dari saya):

Pria kelahiran 6 Februari itu pun harus rela berlama-lama memeriksa hasil kerja anak didiknya. Pasalnya, dia pernah menemukan hasil ujian anak didiknya yang copy paste alias plagiat.

Itu langsung saya delete (hapus) namanya. Mereka tidak punya fighting spirit (semangat juang-red.),” ucap dosen yang kini berdomisili di Bandung itu. Untuk melacak mahasiswa plagiator, tak sulit bagi Banyu. “Ya kita bandingkan saja. Misalkan sumbernya dari buku textbook (berbahasa Inggris-red.), masa yang bahasa Inggrisnya caur bisa bagus dalam waktu secepat itu. Kodok enggak mungkin berubah jadi pangeran donk. Memang harus benar-benar teliti,” kata dia. Baiklah, Pak Dosen!

Tak ayal, saya jadi miris. Sekelebat, teringat pula peribahasa, “Maling teriak maling.”
Kodok barangkali tak mungkin berubah menjadi pangeran. Tapi jangan-jangan kodok bisa mengubah pangeran menjadi sesama kodok pula?

Secara pribadi saya telah meminta klarifikasi via pesan Facebook, apakah yang tertulis di Jakarta Post tsb adalah benar nama beliau. Beliau membenarkan hal itu dan meminta maaf. “I made a stupid mistake…” katanya, “I m so sorry..

Well, saya juga tidak mau ambil pusing terlalu jauh dengan kasus ini. Toh, saya juga bukan siapa-siapa beliau, dan saya tidak bisa mengubah kodok menjadi pangeran. Barangkali, pada 6 Februari ini (hari ulangtahunnya) beliau bisa make a wish bahwa dia, sang pangeran, tidak akan meremehkan kodok-kodok supaya tidak kena kutukan menjadi sesama kodok pula (halahh…..)

[Catatan: Reportase ini tidak bertujuan "menzolimi" siapa pun; karena kita tahu siapapun bisa "khilaf". Saya sekadar mengambil bagian dalam kampanye berkelanjutan bahwasanya plagiarisme adalah bentuk pelecehan semangat ilmiah. Afterall, kita masih bisa memeriksa diri, jangan-jangan kita juga adalah plagiator?]


Tags: plagiat, Banyu Perwita

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
4 Februari 2010 22:13
0

Barangkali titlenya bukan Prof. … tapi Dipl(a) = diploma plagiat ? ……

4 Februari 2010 | 22:32
0

padahal, gelar master dan doktornya diraih di UK dan Australia lho pak…

4 Februari 2010 | 22:40
0

Wah, perlu diteliti lebih lanjut tuh thesis & disertasinya. Jangan-jangan……. ;)

5 Februari 2010 | 02:15
0

@ Tyas

Hehehehe penasaran ye?

Pagi ini saya baru lihat berita di TVNZ mengenai Mary Anne Thompson yang menggunakan gelar PhD palsu dari London School untuk menjadi ‘former’ immigration boss di NZ.

http://www.nzherald.co.nz/politics/news/article.cfm?c_id=280&objectid=10623878

So bukan hanya di Indonesia, gelar palsu beredar dan digunakan. Perbedaannya kalau di NZ sekarang sudah diberlakukan screening untuk mengecek apakah ijazahnya palsu atau tidak tetapi masalahnya hanya mereka yang mempunyai dana yang bisa melakukan screening kalau gak punya dana, gimana dong?

5 Februari 2010 | 04:13
0

Mbak Rosiy,

Thanks linknya. Ibu Mary ini dengan cepat mengaku kalo bo’ong. Kasihan ya … dapat S2 aja enggak, langsung catut gelar S3.

5 Februari 2010 | 06:07
0

Yoi tuh Mary juga menggunakan posisinya untuk kepentingan pribadi, ya kita lihat saja NZ Court akan memberikan keputusan seperti apa yang jelas selain kehilangan kredibilitas dan reputasi, Mary juga harus menjalani hukuman dan membayar denda yang akan ditetapkan oleh NZ Court nanti.

5 Februari 2010 | 06:12
0

@ Markus

Mary gak langsung mengaku dengan cepat lho, karena dia yakin dia punya gelar tsb dan proses pembuktian dengan cara meminta keterangan kepada institusi-institusi terkait cukup lama apalagi proses pengadilan di NZ memakan waktu karena semua harus diteliti dengan baik dan azas praduga tak bersalah harus diutamakan. Kasus ini sudah berjalan kurang lebih setahun dan masih dalam proses pengadilan.

Tapi toh kebenaran juga yang berbicara *_*

4 Februari 2010 22:15
0

Wow…begitu ya ceritanya. Kasihan sekali sebenarnya Pak Banyu, menjelang hari jadinya, dia menderita malu yang amat sangat (mungkin). Semoga peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi beliau & kita semua, agar dijauhkan dari khilaf & nafsu mendapatkan sesuatu (gelar) secara instan atau tidak wajar.

4 Februari 2010 | 22:32
0

bisa jadi ulangtahun paling berhikmah ya ;-)

4 Februari 2010 22:17
0

ha..ha………

4 Februari 2010 22:18
0

Sentilan yang tajam buat para pengajar…..semoga bisa menjadi bahan renungan dan peringatan bagi para pendidik..

salam kenal mas..

4 Februari 2010 | 22:35
0

sama-sama introspeksi :-)

4 Februari 2010 | 23:02
0

Setuju…sama2 emang lebih enak daripada sendiri…hahahas

4 Februari 2010 22:30 via Mobile Web
0

Semoga menjadi pengalaman bagiku juga,

4 Februari 2010 | 23:31
0

dan bagiku juga lho…. mesti disiplin dalam bikin footnote nih ;-)

4 Februari 2010 22:33
0

mhs plagiat ujian, profesor plagiat karya ilmiah!

4 Februari 2010 | 23:30
0

semoga ngga jadi bangsa plagiator aja deh :-)

4 Februari 2010 22:59
0

Prof., sadar ya, Prof.
Profesor itu Guru Besar.
Guru saja seharusnya menjadi figur yang bisa digugu dan ditiru (tentunya, dalam hal kebaikan);
maka Guru Besar, semestinya lebih dari sekedar seoran guru.
Tulisan yang, semoga, menyadarkan kepada kita semua.
Salam.

4 Februari 2010 | 23:30
0

action speaks louder than words, okay…

10 Februari 2010 | 00:39
0

Eric, like your statement : action speaks louder than words.
benar bung Margono. gawsa capek-capek prihatin. biarin aja, mayan jadi rame kan? dan Eric dan teman2 kompasiana lain yang memang sedang melacak jejak plagiat2an ini jadi ada kerjaan..

11 Februari 2010 | 21:13
0

@Putri:
terima kasih buat “suntikan” semangatnya….

4 Februari 2010 23:13
0

aduh apa enaknya sih ya jadi seorang plagiator? yang ada hanya malu bukan?!

4 Februari 2010 | 23:29
0

mungkin karena kepepet dan udah kehabisan ide?

4 Februari 2010 23:24
0

Pertanyaannya berapakali beliau mengcopy past, kalau hanya sekali jangan dicap palgiator (hanya bila benar sungguh disayangkan)! Semoga beliau segera menukarnya dengan karya gemilangnya! Selamat berkarya Prof!

4 Februari 2010 | 23:39
0

Yah, kalau soal istilah, saya serahkan pada KBBI:

pla·gi·a·tor n orang yg mengambil karangan (pendapat dsb) orang lain dan disiarkan sbg karangan (pendapat dsb) sendiri; penjiplak

seorang pembunuh pun tidak harus lebih dulu menghilangkan 2 nyawa kan, baru bisa dicap pembunuh? ;-) demikian juga dengan pencuri, pemerkosa, perampok, dll.

afterall, kita tentu juga menunggu kapan beliau akan berubah…..

4 Februari 2010 23:42
0

hmmm indonesia selalu penuh cerita… aja2 ada

5 Februari 2010 00:09
0

boleh di posting di facebook tulisannya mas?

5 Februari 2010 | 12:25
0

sok atuh… silakan saja….

5 Februari 2010 00:14
0

thanks for posting. Salam kenal mas Eric.

5 Februari 2010 | 13:55
0

sama-sama…. :-)

5 Februari 2010 00:29
0

Degradasi dunia pendidikan kita, eksklusif, semoga ada perbaikan, sayang sekali tiap tahun wisuda terus, namun negara kita lambat majunya dan banyak hilangnya, salam kenal, salam kompasiana.

5 Februari 2010 | 13:56
0

memang kompleks masalah kita…
tapi bukan jadi alasan untuk pesimistis bukan?

5 Februari 2010 05:47
1

Eric,

Terima kasih untuk tulisanmu. Saya perkirakan, apa yang terjadi adalah seperti fenomena gunung es. Salah satu harapan kita yang paling besar untuk membentuk karakter dan watak kita, watak bangsa ini mulai dari pendidikan tingkat TK sampai Perguruan Tinggi adalah melalui pendidikan, termasuk pendidikan formal. Bagi saya, tak ada toleransi terhadap tindakan plagiarisme sebab ini membusukkan mentalitas dan meruntuhkan karakter.

Apa yang terjadi pada professor dengan tulisannya di The Jakarta Post sungguh memalukan karena dengan lihai sang professor mengambil sebagian secara persis tulisan Carl Ungerer.

Sekali lagi trims Eric! Salam!

5 Februari 2010 10:36
1

Apakah sama antara membunuh VS pembunuh! Saya sering mengutip pendapat orang lho (tapi sumbernya di tulis!!!), jadi mungkin beliau sedang khilaf dan kelihatannya sudah mnita maaf koq!

5 Februari 2010 | 11:48
0

Pak Padmono,

Sudah melihat dan membandingkan kedua tulisan yang kita bicarakan? Kalau belum, silahkan lihat dulu Pak. Bapak seorang doktor ini kan, kalau sudah lihat, apa tidak malu sendiri melihatnya? Silahkan Bapak unduh dari sini: http://www.datafilehost.com/download-afce8e79.html

Khilaf? Masa sih seorang professor bisa khilaf dengan cara seperti itu? Khilaf itu tak sengaja kan? Kalau yang professor lakukan dengan tulisannya di The Jakarta Post itu bukan kekhilafan itu Pak! Yang benar sajalah. Yang begituan kita sebut khilaf — nanti korupsi juga bisa kita sebut sebagai sebuah kekhilafan. Bahaya!

Salam, :)

5 Februari 2010 | 11:50
0

Saya malah heran, sebagai seorang doktor, bagi Anda kok malah: “jadi mungkin beliau sedang khilaf dan kelihatannya sudah mnita maaf koq!”

Cara berpikir seorang doktor kok begini ini?

Saya malah bertanya: “Apa betul hanya sekali itu professor itu melakukan hal yang mirip?”
:)

5 Februari 2010 | 11:57
0

Saya dukung Ibu Limantina ach, bukan untuk provokasi lho tapi memang seharusnya ada hukuman buat si professor yang dilakukan oleh institusi terkait.

Si professor masih beruntung gak diseret ke pengadilan karena breaching copy rights, coba kalau kejadiannya di luar negeri gak ngerti deh hukumannya seperti apa tapi kalau seorang murid melakukan plagiarism, murid tsb terancam dikeluarkan dari sekolah.

5 Februari 2010 | 11:58
0

terus terang, semalem saya tidak bisa tidur karena begitu shocked. Jam 5 pagi baru mulai tidur. Ketemu di kampus, omongan dengan seorang kolega pun masih seputar itu. teman saya ini bilang, tampaknya bukan lagi “stupid mistake” lah yang dibuat, tetapi lebih dekat ke “stupid crime”. Karena secara kompetensi intelektual, sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan seorang doktor melakukan kebodohan macam itu dengan sengaja. Apaan sih yang dicari? Uang? Ketenaran? Biar bergaya?

5 Februari 2010 | 14:06
0

@limantina:
saya sih berharap itu kasus beliau yang pertama dan terakhir.
anak2 HI Unpar juga udah pada mulai nge-tweet meminta dukungan buat sang prof

@rosiy:
yah, posisi murid memang terjepit wewenang guru,
sama seperti soal terlambat datang ke sekolah

@markus:
entahlah, mungkin karena kepepet deadline dan udah mau dikumpulin ke redaksi (kya’ ulangan saja…. ;-) )

10 Februari 2010 | 00:46
0

Eric, mungkin kita bisa menyamakan ini sebagai tragedi kemanusiaan nasional (atas nama negara Indonesia yang berhadapan dengan negara lain thoh?)
NB : bencana nasional, yang kalao petugas negara yg berwenang bisa bekerja maksimal seharusnya tak perlu ada kerusakan dan kehilangan nyawa begitu besar. itu lhoh, tsunami dan gempa itu pan sebenarnya sud bisa diprediksi..
sudahlah, saya juga pas sekripsiong KoPi PasTe tuh. aliasss,,, rajin mengutip pendapat sana-sini dan tentu saja daptar-pustaka saya jadi segambreng. pemalas memang..

5 Februari 2010 14:00
0

Yuk! kita mulai dari diri kita sendiri…dari hal terkecil…dan mulai dari sekarang…for better world!

5 Februari 2010 | 16:17
0

ya, kita juga ngga bisa terus-menerus menyalahkan si pelaku. Jangan sampai gajah di depan mata sendiri tak nampak….

5 Februari 2010 18:07
0

Karena dalam mendidik, menghukum sering menjadi tidak efektif, tetapi pendekatan memaafkan diikuti sanksi akan memperbaiki (pasti secara internal dia telah mendapat sanksi, di sini mendapat sanksi moral). saya percaya emosi tak menyelesaikan masalah, justru memperkeruh. dan berpikir positif akan memperoleh berbagai solusi, itu maksud saya bu Limantina, bila dia sudah melakukan lebih dari sekali seharusnya di PTnya mungkin ada pencabutan gelar lho! Nah saya setuju ibu Nina, kita mulai dari diri kita, sekitar kita, sehingga menyebar meskipun perlahan…!

6 Februari 2010 00:26
0

saya agak heran dengan segala komentar yang ada disini. sebelumnya yang saya ingin tanyakan adalah apakah kalian semua yg sudah sangat ‘tajam’ berkomentar adalah orang yang suci dan terlepas dari tindakan semacam ini?
saya yakin tidak, anda munafik kalau anda semua mengatakan bahwa anda semua tidak pernah melakukan hal semacam ini. Setiap orang pasti bisa melakukan atau pernah berbuat salah, tanpa maksud membela AABP, saya disini hanya ingin menekankan bahwa prof. AABP sudah mengakui ia bersalah. memang efek dari perbuatannya tidak akan mudah dihilangkan tapi tolong mari kita semua kembali melihat dalam2 kedalam diri kita sendiri apakah kita sudah bersih dari tindakan2 semacam itu?
khusus untuk beberapa orang yang memberi komentar sangat menusuk dan menjatuhkan kepada AABP, ada pepatah sepandai=pandainya tupaimelompat pastiakan katuh juga dan hidup itu bagai roda, kadang diatas, kadang dibawah..
mungkin akan tiba suatu saat anda yang akan terpeleset dan jatuh dan tiba saatnya anda akan menerima hal yg sama seperti yg AABP terima, jadi semoga kita semua tidak terpeleset dan menjadi bulan-bulanan opini dan pendapat publik seperti yg AABP terima. Terima Kasih

6 Februari 2010 | 03:12
0

Saya tidak suci but at least I always remind myself to do the right thing.

Setiap kali saya mengutip kalimat seseorang saya usahakan untuk mengingatkan diri saya untuk mereferensikan sumbernya.

6 Februari 2010 | 04:54
0

@Adrian: Komentar emosional itu meruoakan campuran ungkapan hati: di satu sisi kagum dengan prestasi seseorang mencapai pengakuan tertinggi dalam bidang akademis. Di lain pihak, hati teriris, berontak, dan kecewa karena harapan tinggi tercederai. Jadi sah-sah saja kan mengungkapkan kekecewaan atas tercederainya suatu idealisme?
Sejauh kita melakukan pekerjaan profesional dengan berpegang teguh pada etika, cita-cita moral murni, dan tujuan kemaslahatan umum, saya yakin, kita tidak akan membiarkan diri kita terjebak ke dalam “stupid crime”.
Terima kasih.

6 Februari 2010 | 21:35
0

Adrian,

Kok sama isi komentar Anda di sini dan di postingan saya? Malas nulis berbeda atau bagaimana? Anda siapa sebenarnya? Baca tidak komentar Nora Hanindita di bawah ini?

11 Februari 2010 | 21:21
0

AdrIan ternyata kamu penipu bila sok suci…MEMALUKAN!!!!!

NORA…PERTANGGUNGJAWABKAN YA…UCAPAMU DI BAWAH INI.

6 Februari 2010 09:10
0

adrian alias bli banyu perwita, selamat ultah ya!

6 Februari 2010 13:53
0

Dan Allah akan menurunkan derajad yang lebih rendah dari orang yang kita rendahkan! Kita berdoa, semoga kesadaran prof membawa hikmah kepadanya untuk memperbaiki diri! Untuk bisa berjalan tegak diawali dengan terjatuh…segera bertobat dengan sungguh2 Allah pasti mengampuni

6 Februari 2010 | 21:36
0

Pak Padmono pintar betul berkotbah!

6 Februari 2010 | 21:36
0

Sudah baca komentar Nora di bawah ini? Benarkah Anda mencatut nama? Kalau benar, kok malah bisa berkotbah ya?

6 Februari 2010 15:16
0

sebenarnya Prof Banyu Perwita melakukan plagiarisme bukan barang baru nih. Saya iseng-iseng nyari tulisan beliau, salah satunya adalah Rising China and The Implications for SE Asia yang pernah dimuat di Jakarta Post online tahun 2008, bisa dilihat di http://www.thejakartapost.com/news/2008/02/04/rising-china-and-implications-se-asia.html

Ternyata itu sudah pernah ditulis sebelumnya oleh Rommel C Banlaoi dalam Parameters Journal vol 33 tahun 2003 dengan judul South East Asian Perspectives On The Rise of China: Regional Security After 9/11. link bisa didapat di http://www.questia.com untuk melihat previewnya, tapi harus daftar dulu jadi nggak bisa dicopas disini.

Jakarta Post jelas kecolongan lagi nih, dan tampaknya modus ini sudah berkali-kali dilakukan sampai baru ketahuan peristiwa kemarin. Rektorat Unpar sendiri kok kayaknya melempem, malah mengirim humasnya untuk ikutan nimbrung seolah membela yang bersangkutan. Belum lagi pencatutan nama Dr Y Padmono (dalam thread sebelumnya ditulis Dr H Y Padmono, MPd) pakar pendidikan yang seolah membela beliau. Pak Padmono yang saya kenal tidak pernah begitu kepanasan menanggapi sesuatu apalagi untuk urusan online seperti ini.

jadi, gimana nih? apa tindakan berikutnya?

6 Februari 2010 | 16:20
0

@ Nora

Ach yang bener ? segitu parahnya kah plagiarism di Indonesia?

6 Februari 2010 17:43
0

ahhhh..yg ky gini niy ga enak di dnger..nyangkut kmana2, padahal mah klo emang ga sempet nulis paper ato karya tulis ya ga usah nulis aja, jadi khan yang kena banyak, institusiny lah, mahasiswanya lah..parraahh oge ckckckck
jadi warning tuh buat semuanyaaaaa klo emang ga sempet nulis paper yah g usah nulis, daripada maksa plagiat dari sana sini….yg malu ntar banyak..hajuuhhhh…..
ckckckckckc sok aya-aya wae ateeuhhhh….

7 Februari 2010 14:22
0

Hahaha… The best thing for this so-called Professor to do is of course not to do harakiri coz that would be too damn intellectual for his kind but to resign and start a new career in the copy-writing industry! Good luck, Prof!

7 Februari 2010 | 22:36
0

Hahaha…. sudah layak dan sepantasnya, ya?

10 Februari 2010 | 00:50
0

bah, kaw ini Saut Situmorang ada di mana-mana? kukira kaw gak gaul dengan Kompasiana. hahaha (gwa yg baru gaul ni ama Kompasiana)

ria
7 Februari 2010 19:12
0

Tradisi dari jaman batu, para dosen nulis untuk mengumpulkan koin, eh kredit poin, bukan utk mengembangkan ilmu dan tradisi intelektual. Akhirnya, kena batunya….

7 Februari 2010 | 22:53
0

Iya tuh Mba, Dosen filsafat saya yang jebolan Muenchen, Jerman, juga pernah cerita.
Ada perbedaan besar gelar Profesor di sini dan di Jerman (persisnya saya lupa, tapi yang jelas ngga seperti Indo—para doktor seperti bermain di TIMEZONE, ngumpulin tiket sebanyak2nya lalu ditukar hadiah: jabatan Profesor.

8 Februari 2010 17:07
0

Kalo menurut artikel ini (http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=33307) feature tersebut bertanggal 17 September 2008 ,diposting jam 17:48:00..

8 Februari 2010 | 18:35
0

Terimakasih, Mas/Mbak akun dadakan (yang baru dibikin hari ini)…. :-)
saya edit sekarang ya….

9 Februari 2010 | 08:05
0

Sama-sama.. Cuman bantuin googling bentar.. ternyata ada artikel yg bertanggal..

9 Februari 2010 04:18
0

sedih dan miris. profesor bo!

9 Februari 2010 14:10
0

Plagiatisme adalah salah satu mental bangsa Indonesia idak diperkenankan krena merke menghargai hak cipta orang. yang mendarah daging dan harus diperbaiki. Hal ini terjadi dri sejak di bangku sekolah, mahasiswa s1, s2, s3 bahkan profesor. Diluar sana masih banyak yang masih melakukannya.Hal itu terjjadi karena kita tidak menghargai karya orang lain. Marilah kita sama-sama memperbaikinya. Jangan saling menyalahkan. Saya pikir apa yang dialami Bapak Anak Agung merupakan pelajaran berharga buat dia.

9 Februari 2010 14:11
1

Plagiatisme adalah salah satu mental bangsa Indonesia yang mendarah daging dan harus diperbaiki. Hal ini terjadi dri sejak di bangku sekolah, mahasiswa s1, s2, s3 bahkan profesor. Diluar sana masih banyak yang masih melakukannya.Hal itu terjjadi karena kita tidak menghargai karya orang lain. Marilah kita sama-sama memperbaikinya. Jangan saling menyalahkan. Saya pikir apa yang dialami Bapak Anak Agung merupakan pelajaran berharga buat dia.

9 Februari 2010 | 20:46
0

dan pelajaran buat kita juga…..

9 Februari 2010 18:19
0

salam buat mahluk hidup pengisi komentar ini : sebelum mengomentari orang lain, lihat lah diri kalian masing-masing, apakah sudah pantas dan layak untuk kasih komentar seperti itu ? itu hak asasi kalian, tapi bagi saya “tak ada gading yang tak retak”…sekalipun orang tersebut menyandang gelar profesor….yah kalo ada kemiripan atau di anggap “copy paste” ..bikin aja Disclaimer : seperti di sinetron…” kalau ada kesamaan watak, peran,lokasi, dsb..itu hanya kebetulan belaka”…selanjutnya kalau profesor dianggap menjiplak hasil karya profesor lainnya, ya itung itung saling menegaskan hasil karya kedua profesor tersebut…kalo mau di blow up ….emang kalian yang kasih komentar atas prof tersebut pernah Beli film DVD berlisensi atau CD berlisensi atau software lisensi ….saya yakin ngak seratus persen kalian melakukan itu….itu sama saja membajak hasil karya orang lain yang jelas jelas berlisensi…..nah ini dari seseorang yang pernah pergi ke Sorong Papua dan Balik lagi Ke Bandung lagi…..silahkan renungkan hal itu….jangan sok suci ah…..hehehehe…

9 Februari 2010 | 19:14
0

la sama lagi???

9 Februari 2010 | 23:04
0

Like this..

9 Februari 2010 | 23:06
1

Orang juga paling lu lu pada pernah ngopi software bajakan,, ngopi film,, bahkan lagu pun juga… Udah lah,, jadi manusia ga usah munafik.. Lagipula kan itu juga di kolom opini,, bukan sebuah tesis seperti yang ditulis penulis aslinya

9 Februari 2010 | 23:15
0

@Aloysius:
Pandangan yang menarik. Mungkin bung Aloy bisa memulai riset dan menulis di Kompasiana, apakah kadar keilmiahan kolom opini lebih rendah daripada sebuah tesis sehingga plagiarisme masih dapat ditoleransi pada kolom opini?

10 Februari 2010 | 01:03
0

lhah, urusannya apa plagiat tesis dengan kemunafikan? urusan software bajakan dan film dan lagu? saya ada opini begini, bisa saja sebenarnya kita tidak membajak. yang ada, satu atau beberapa membayar untuk lagu, film, dan sofwtware (alias piranti lunak) lalu dia justru menyebarkannya pada orang2 secara gratis. nah, gimana tuh?
ada lagi, jangan samakan profesor dengan pedagang glodok atau pedagang2 barang bajakan lain. beda lah tingkat intelektualitasnya (tanpa tendensi merendahkan sesiapa)

10 Februari 2010 | 01:30
0

Putri sarinande : yang saya lihat adalah perbuatan melanggar hak cipta..di situ ada hak ekslusif dari seorang pembuatnya..dan ketika orang akan pake hak eksklusif tersebut..yach ngak bisa sembarangan dong ,,main comot aja…ada aturan main nya..seperti pembayaran sejumlah royalti atau hak untuk menyebarluaskan produk tertentu..jadi kesimpulan nya ada barang ekonomis dan barang non ekonomis…coba hubungkan dengan Prinsip ekonomi dech…selanjutnya…penyebarluasan produk tanpa izin dari Prinsipal mengandung masalah privat juga,,lalu mencatut nama seseorang dengan tidak hormat atau tanpa izin atau menjual nama seseorang ?…nah kalau memang mau fair..Prof Banyu juga harus melihat dimensi hukum dari aspek psikologis, sosiologis dan Normatif….begitu juga kalian dan saya juga…nah kalo gini kan..asik ngak….? gue gitu loch :)

9 Februari 2010 23:30
0

salam kenal dengan saudara Hireka Eric dan semuanya…..yang jelas tanpa sadar kalian semua “DIDUGA” terpedaya oleh Marketing Plan berjalan via dunia maya yang diterapkan oleh Hireka Eric,”diduga” dia lagi membangun kekuatan dalam dirinya lewat komentar kalian semua, dengan mengambil setting factual yang ada,semakin banyak komen yang masuk, semakin tenar lah dia, biasalah dengan Bahasa “Holistik dan sedikit pake Konsep Habermas…”..biasalah sambil menyelam pada kedalam pikiran kalian semua, secara rutin semakin terkenalah dia…..hehehehehehe..auto kritik dari saya…Si BOLANG ( Bocah Ilang )….” mAKLUM SEMUA ORANG PUNYA KEPENTINGAN”…..” THE HIDDEN AGENDA”…

10 Februari 2010 | 01:05
0

jiah elah, die lagi komentar begonoh. tanya : website kompasiana sapa bikin? anak negeri bukan? jika ya, mayan lah. makin rame pengunjung pan makin tenar ni web.. bagus, bukan?

10 Februari 2010 01:07
0

Ya udahlah…dia udah ngelakuin kesalahan fatal, dia jatoh terpeleset, dia menyesal, dia mengakui perbuatannya, dia meminta maaf, dia sudah mengundurkan diri, dan sekarang biarkan dia hidup dengan hukuman moral dia..
He got too much sh*t on his plate already, so cut him some slack..
Jumat minggu kemarin juga dia udah mengakui kesalahan dia di matakuliah Kajian Strategis yang saya hadiri..
Yah, buat saya, dia memang melakukan kesalahan fatal, yang dia pasti tahu kalau dia lakukan bakal memberi dia konsekuensi berat buat hidup dia, apalagi bagi seseorang yang semasa mengajarnya selalu menekankan kreatifitas dan anti-plagiat..
Malu? Pasti..
Bukan malu lagi, kehilangan muka…
Punishment is needed indeed..
Tapi dengan pengajuan pengunduran diri oleh dirinya sendiri, dia masih dapat menyelamatkan sebagian harga diri dia yang sudah rapuh, so I salute him..
Such action need some balls I admit..
Mudah2an untuk ke depannya tidak ada lagi kasus serupa yang terjadi..
Amin..

Regards

10 Februari 2010 | 01:12
0

sangat intelek dan bijak…mari jadikan pelajaran dan rangkul dengan kasih agar tidak semakin terpuruk karena perbuatannya telah diakuinya dengan satria.

saya sangat menghargai cintanya para mahasiswa pada sang Prof…

10 Februari 2010 | 01:31
0

Makasih bu..hanya ingin melihat permasalahan dari berbagai sisi aja..:)
Udah cukuplah dia dicerca. Sekarang tinggal rasa malu yang dia dapat dari cercaan2 itu yang bakal memberi dan mengingatkan dia untuk menjadi lebih baik..

Regards

10 Februari 2010 | 01:37
0

buat postingan balasan untuk sebuah cinta mahasiswa kepada sang dosen…
terkadang ketika hitam bergayut
malam semakin kelam
dingin makin mengigit
tak harus ambil selimut
satuan telapak tangan dengan digosok akan menghangatkan

cobalah hangatkan dengan bahasa cintamu untuk membuat tulisan yang penuh kasih .

11 Februari 2010 | 21:16
0

tentu saja…. kasus ini justru menjadi “lembaran baru” buat kehidupan beliau….

10 Februari 2010 01:33
0

dear all : yang saya lihat adalah perbuatan melanggar hak cipta..di situ ada hak ekslusif dari seorang pembuatnya..dan ketika orang akan pake hak eksklusif tersebut..yach ngak bisa sembarangan dong ,,main comot aja…ada aturan main nya..seperti pembayaran sejumlah royalti atau hak untuk menyebarluaskan produk tertentu..jadi kesimpulan nya ada barang ekonomis dan barang non ekonomis…coba hubungkan dengan Prinsip ekonomi dech…selanjutnya…penyebarluasan produk tanpa izin dari Prinsipal mengandung masalah privat juga,,lalu mencatut nama seseorang dengan tidak hormat atau tanpa izin atau menjual nama seseorang ?…nah kalau memang mau fair..Prof Banyu juga harus melihat dimensi hukum dari aspek psikologis, sosiologis dan Normatif….begitu juga kalian dan saya juga…nah kalo gini kan..asik ngak….? gue gitu loch :)

11 Februari 2010 | 21:23
0

HOEKKKK….

10 Februari 2010 16:58
0

g alumni unpar ikut prihatin… n pemecatan mang dah paling tepat. Tapi bgmana pun org ini berpotensi kan.. sebaiknya diberi ruang untuk mulai berkarya lagi.. kalo perlu biar dia berjuang lagi dari bawah memperbaiki nama baik n karir nya.
kalo mang ga bakat jadi profesor ya jgn dipaksain.. manfaatin otak langsung di lapangan mgkn lbh pas. Di lapangan sih, meniru tidak haram. Segala yg bagus layak ditiru. Ok.. selamat berjuang yah.. anda menabur, sekarang kudu konsekwen menuai. Sabar ye.. Jia You !!
Buat Unpar.. ini bahan sentilan buat kita.. supaya ke depan nya balik ke pendidikan pake hati; bukan cuman mentingin gedung bagus n gelar keren. Akhir2 ini alumni Unpar ga kedengaran gaung pengbadiannya di lapangan.. Yuk kita bangkit bersatu.. Punya ide ajak2 ok

11 Februari 2010 | 21:17
0

betul mba Dewi Ambar…. pendidikan hati dan karakter juga penting.

10 Februari 2010 18:43
0

bung eric, saya juga salut dengan anda yang membuka mata kita semua bahwa di dunia akademik sekalipun, kriminalitas semacam plagiat ini masih dilakukan. thanks

11 Februari 2010 | 21:17
0

sama-sama :-)

11 Februari 2010 23:46
0

skolah ke luar tp balik ke indo hasilnya sama aja…

15 Februari 2010 15:28
0

Adek ku Bayu;
Plagiarism and falsification of data is a major sin in the academic world. Both these sins can not be ignored by said sorry and just as many who do the same. Sin remains sin.
The sentence against the two sins will come from the academic community and themselves. I regret it happened to you, when you have a track record of proud achievement. Well, someone slipped a boulder not stumble, but by the skin of a banana. Everything has happened, and you have been admitted as elegant. This means that you yourself have to consider whether still have the confidence to hold that title after this incident.

Many are caught plagiarism and not getting caught in this country who do not have a great soul like you. Do not look back again. look at the future. A brilliant experience and competence that you have can still be donated to the public through other channels.

Believe me, you still needed there. May God guide and remind you always and you take lessons from bitter experience that has happened. As the Lord guide and protect Pendawas while living in exile due to mistake lust gambling comply with the Korawas. Hom Swasti Astu, Hom Santi, Santi. Rahajeng!

18 Februari 2010 | 14:10
0

wah… bisa dihubungkan dengan mahabarata…
semoga nasehat ini bisa berguna buat anda Proff.. Intinya ini semua bukan titik akhir; ke depan nya mau lbh baik atau malah lbh buruk dari sekarang itu terserah anda.

15 Februari 2010 15:35
0

pepatah Melayu mengatakan:” Tungau di seberang lautan terlihat, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Semoga, ybs dan kita semua yang memberikan komentar tidak seperti itu. Mari kita merenung dan mengambil hikmah dari kejadian ini.

15 Februari 2010 16:09
0

A long journey, tiring and challenging to make people could be caught and slid to make mistakes. Those who are guilty will be punished or to punish himself.

Once enough of our hands swung the hammer, let the act to punish himself and let him reflect on his mistakes and improve. Only once and a bullet fired to a death row inmate, even if he kills more than one person and many times.

Once again a long journey, tiring and full of challenges can make someone change. It could also happen to those who swung the hammer, as he and we did?

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2010