Kompasiana
Sabtu, 04 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Hireka Eric

I am a student in philosophy. a learner of English, French and German. an English-newspaper proofreader. an English-Indonesian dictionary co-author. a phonetics enthusiast. | Je suis étudiant en philosophie. apprenant d'anglais, français, allemand. correcteur d'un journal anglais. co-auteur d'un dictionnaire anglais-indonésien. passionné de la phonetique.

Profesor Plagiator: Maling Teriak Maling

REP | 04 February 2010 | 22:00 6512 92 3 dari 4 Kompasianer menilai Aktual

I will note plagiarize

I will not plagiarize

Berkaitan dengan hebohnya artikel Kompasianer Limantina Sihaloho (lih. Professor (Indonesia) Memalukan?) tentang pengumuman dari The Jakarta Post bahwa Prof. Anak Agung Banyu Perwita telah melakukan plagiat di dalam kolom Opini (lih. The Jakarta Post: Plagiarism), saya menemukan juga satu datum yang ironis.

Betapa tidak, Harian Pikiran Rakyat pernah mewawancarai sang profesor dan memuatnya dalam feature (sayang, tanpa keterangan tanggal) di dalam website mereka (lih. Prof. Anak Agung Banyu Perwita: ”Multiple Choice? Enggak Banget”).

==============update 8 Feb ‘10==============
wawancara tersebut dimuat di harian Pikiran Rakyat tanggal 17 September 2008. Tautan alternatifnya ada di sini. terima kasih untuk Kompasianer @Mbak Desi.
========================================

Saya kutipkan bagian akhir feature tsb (efek cetak tebal dan miring dari saya):

Pria kelahiran 6 Februari itu pun harus rela berlama-lama memeriksa hasil kerja anak didiknya. Pasalnya, dia pernah menemukan hasil ujian anak didiknya yang copy paste alias plagiat.

Itu langsung saya delete (hapus) namanya. Mereka tidak punya fighting spirit (semangat juang-red.),” ucap dosen yang kini berdomisili di Bandung itu. Untuk melacak mahasiswa plagiator, tak sulit bagi Banyu. “Ya kita bandingkan saja. Misalkan sumbernya dari buku textbook (berbahasa Inggris-red.), masa yang bahasa Inggrisnya caur bisa bagus dalam waktu secepat itu. Kodok enggak mungkin berubah jadi pangeran donk. Memang harus benar-benar teliti,” kata dia. Baiklah, Pak Dosen!

Tak ayal, saya jadi miris. Sekelebat, teringat pula peribahasa, “Maling teriak maling.”
Kodok barangkali tak mungkin berubah menjadi pangeran. Tapi jangan-jangan kodok bisa mengubah pangeran menjadi sesama kodok pula?

Secara pribadi saya telah meminta klarifikasi via pesan Facebook, apakah yang tertulis di Jakarta Post tsb adalah benar nama beliau. Beliau membenarkan hal itu dan meminta maaf. “I made a stupid mistake…” katanya, “I m so sorry..

Well, saya juga tidak mau ambil pusing terlalu jauh dengan kasus ini. Toh, saya juga bukan siapa-siapa beliau, dan saya tidak bisa mengubah kodok menjadi pangeran. Barangkali, pada 6 Februari ini (hari ulangtahunnya) beliau bisa make a wish bahwa dia, sang pangeran, tidak akan meremehkan kodok-kodok supaya tidak kena kutukan menjadi sesama kodok pula (halahh…..)

[Catatan: Reportase ini tidak bertujuan "menzolimi" siapa pun; karena kita tahu siapapun bisa "khilaf". Saya sekadar mengambil bagian dalam kampanye berkelanjutan bahwasanya plagiarisme adalah bentuk pelecehan semangat ilmiah. Afterall, kita masih bisa memeriksa diri, jangan-jangan kita juga adalah plagiator?]


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


    KULINER UNIK

    Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah


SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012