Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad_jauhari

Ahmad Jauhari, penulis.

Sopan Santun

OPINI | 07 February 2010 | 10:16 Dibaca: 240   Komentar: 2   0

Ustadz Muhammad Lutfi, guru ngaji anak-anak saya, pada Minggu sore ini menerangkan tentang bersuci. Beliau mengajarkan untuk memilih perkataan dan perilaku yang sopan dan santun meski berhubungan dengan buang hajat dan kamar mandi atau WC. Beliau mengatakan lebih baik menggunakan istilah BAB (buang air besar) atau BAK (buang air kecil) atau “pergi ke belakang” dari pada kata lain yang terkesan lebih jorok.

Di sekolahan, istilah BAB dan BAK sudah popular digunakan oleh para siswa ketika mereka meminta izin kepada gurunya untuk buang hajat ke belakang. Istilah BAB dan BAK lebih sopan dari pada siswa mengatakan “minta izin mau kencing” atau “minta izin mau buang kotoran”.

Selain sopan, ketika memasuki kamar WC juga harus berperilaku yang santun. Di situ juga ada makhluk lain yang menyaksikan perilaku kita, seperti jin. Seharusnya kita akan merasa malu kalau berbuat tidak sopan dan tidak santun meskipun sendirian di dalam kamar WC.

Saya tidak membahas lebih lanjut pelajaran apa saja tentang bersuci yang disampaikan Ustadz Lutfi kepada anak-anak saya. Mengapa harus melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu ketika memasuki pintu kamar WC, bagaimana do’anya dan lain sebagainya. Dari sedikit pelajaran bersuci tersebut dapat saya tangkap betapa indahnya ajaran agama, yang mengatur umat manusia agar berperilaku terpuji di muka bumi ini.

Sejenak kemudian, pikiran saya tiba-tiba teringat kepada banyaknya demonstrasi yang digelar akhir-akhirnya. Demonstrasi sebagai ungkapan kekecewaan masyarakat terhadap perilaku dan kinerja petinggi negara yang tidak menepati janjinya atau telah menyelewengkan kekuasaannya atau telah melakukan pelanggaran terhadap tatanan hukum dan sebagainya. Kita dapat menyaksikan dan melihat banyak pilihan kata-kata atau kalimat serta perilaku dalam demonstrasi tersebut tidak sopan dan tidak santun.

Saya yakin sebenarnya banyak pilihan kata dan kalimat serta perilaku yang lebih sopan dan lebih santun dalam berdemonstrasi. Kita masih tetap dapat berbuat sopan dan santun meskipun kekecewaan telah mengoyak hati dan perasaan kita. Kita boleh marah dan memang harus marah melihat kekacauan di negeri ini, tetapi hati dan perasaan kita harus tetap tenang.

Di dalam kamar WC saja kita harus sopan dan santun, apalagi di depan orang banyak, di jalan raya, atau bahkan di depan istana negara. Kesopanan dan kesantunan sebenarnya merupakan cerminan dari diri kita sendiri.*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 11 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 11 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Tulus Jokosarwono | 11 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 11 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: