Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad_jauhari

Ahmad Jauhari, penulis.

Sopan Santun

OPINI | 07 February 2010 | 10:16 Dibaca: 239   Komentar: 2   0

Ustadz Muhammad Lutfi, guru ngaji anak-anak saya, pada Minggu sore ini menerangkan tentang bersuci. Beliau mengajarkan untuk memilih perkataan dan perilaku yang sopan dan santun meski berhubungan dengan buang hajat dan kamar mandi atau WC. Beliau mengatakan lebih baik menggunakan istilah BAB (buang air besar) atau BAK (buang air kecil) atau “pergi ke belakang” dari pada kata lain yang terkesan lebih jorok.

Di sekolahan, istilah BAB dan BAK sudah popular digunakan oleh para siswa ketika mereka meminta izin kepada gurunya untuk buang hajat ke belakang. Istilah BAB dan BAK lebih sopan dari pada siswa mengatakan “minta izin mau kencing” atau “minta izin mau buang kotoran”.

Selain sopan, ketika memasuki kamar WC juga harus berperilaku yang santun. Di situ juga ada makhluk lain yang menyaksikan perilaku kita, seperti jin. Seharusnya kita akan merasa malu kalau berbuat tidak sopan dan tidak santun meskipun sendirian di dalam kamar WC.

Saya tidak membahas lebih lanjut pelajaran apa saja tentang bersuci yang disampaikan Ustadz Lutfi kepada anak-anak saya. Mengapa harus melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu ketika memasuki pintu kamar WC, bagaimana do’anya dan lain sebagainya. Dari sedikit pelajaran bersuci tersebut dapat saya tangkap betapa indahnya ajaran agama, yang mengatur umat manusia agar berperilaku terpuji di muka bumi ini.

Sejenak kemudian, pikiran saya tiba-tiba teringat kepada banyaknya demonstrasi yang digelar akhir-akhirnya. Demonstrasi sebagai ungkapan kekecewaan masyarakat terhadap perilaku dan kinerja petinggi negara yang tidak menepati janjinya atau telah menyelewengkan kekuasaannya atau telah melakukan pelanggaran terhadap tatanan hukum dan sebagainya. Kita dapat menyaksikan dan melihat banyak pilihan kata-kata atau kalimat serta perilaku dalam demonstrasi tersebut tidak sopan dan tidak santun.

Saya yakin sebenarnya banyak pilihan kata dan kalimat serta perilaku yang lebih sopan dan lebih santun dalam berdemonstrasi. Kita masih tetap dapat berbuat sopan dan santun meskipun kekecewaan telah mengoyak hati dan perasaan kita. Kita boleh marah dan memang harus marah melihat kekacauan di negeri ini, tetapi hati dan perasaan kita harus tetap tenang.

Di dalam kamar WC saja kita harus sopan dan santun, apalagi di depan orang banyak, di jalan raya, atau bahkan di depan istana negara. Kesopanan dan kesantunan sebenarnya merupakan cerminan dari diri kita sendiri.*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 9 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 10 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 11 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: