Pernah saya menerima seorang copywriter. Port folionya bagus banget. Begitu bagusnya sehingga saya menerima dia. Walaupun permintaan gajinya lebih besar daripada standar gaji yang di survey oleh finance club, gapapalah….orang sebagus itu kan langka sekali. Siapa tau sumbangsihnya bisa menambah kesejahteraan kantor, siapa tahu kemampuannya yang hebat itu akan menular pada staff kreatif yang sudah lama bekerja di perusahaan kami. Hal-hal seperti itu ga bisa dinilai dengan uang kan?
Tapi seiring dengan perjalanan waktu, ternyata dia tidak perform. Karya-karyanya tidak ada yang sebagus seperti yang ada di pot folionya. Perusahaan saya bukan penganut kantor yang suka memecat orang kalau tidak terpaksa. Jadi orang ini masa percobaannya saya tambah 3 bulan lagi…hasilnya? Tetap tidak perform. Dan akhirnya dengan berat hati terpaksa saya melepas orang tersebut.
Bagaimanakah menilai seseorang itu kreatif atau tidak? Jaman sekarang orang sudah tidak percaya lagi sama port folio. Seringkali karya yang dipresentasikan adalah karya kolektif, sedangkan porsi orang itu ternyata sangat sedikit. Kadang cuma pernah ikut meeting satu kali eh udah dia masukkan ke dalam port folionya. Akibatnya pas orang itu diterima, harapan kita hanya tinggal harapan. Jadi kesimpulannya jangan terlalu mengandalkan port folio.
Sebetulnya menilai seseorang itu tidak terlalu susah. Cukup melihat tindakannya dalam sebuah situasi. Atau bisa juga memperhatikannya dalam interaksi dalam peristiwa sehari-hari. Kita masuk saja ke milis-milis atau blog orang di internet, perhatikan email-email yang masuk ke sana. Di Kompasiana ini misalnya: Dari tulisan dan komentar-komentar, kita bisa mengira-ngira kreativitas orang tersebut. Terlihat dari cara berpikir dan cara mereka menanggapi dan menganalisa sebuah masalah yang sedang dibahas. Seharusnya sih kelihatan kualitasnya.
Contoh lain yang lebih gampang, kalau kita mengirim sms ke orang yang kita sukai/pacar/selingkuhan, terus bunyinya kayak gini, “Jangan lupa makan siang ya? Nanti kamu sakit.” hahahaha…basi amat. Masa tidak ada kalimat lain yang lebih kreatif? Ayo buru-buru membenahi diri. Cari yang lebih orsinil dong.
Dulu jaman Friendster masih booming, saya suka baca testimonial-testimonial yang ditulis kawan kita. Kalau isinya bunyinya seperti begini, “Pertama kali saya bertemu Budiman Hakim, saya kira orangnya galak dan jutek. Pas udah kenal ternyata orangnya ramah, baik banget dan asyik buat dijadiin teman” Huahahahahaha… udahlah. Ga ada cerita. Pasti orang itu ga kreatif.
Dalam percakapan sehari-hari pun kita bisa menilai. Misalnya ada dua orang baru bertemu dan berkenalan. Coba perhatikan! Apakah percakapannya seperti di bawah ini?
A : “Dulu lo SMAnya di mana?”
B : “Oh saya di SMA 4″
A : “Kenal sama si Anto ga?”
B : “Anto? Wah ga tau ya, kalo liat orangnya mungkin tau. Abis banyak sih!”
Gile…! Gimana mau bisa bikin karya yang unik kalo ngomong sehari-hari aja kita pake jurus itu melulu?
Banyak orang baru menggunakan otaknya ketika diberi tugas. Banyak juga yang baru berpikir hanya ketika ada masalah. Seharusnya kan ga gitu. Kita harus memanfaatkan otak kita semaksimal mungkin. Kita udah dikasih Tuhan pancaindera. Bukalah semua pancaindera kita lebar2 lalu biarkan otak bekerja sama dengan pancaindera itu untuk menelaah; apa yang bisa kita manfaatkan dari semua hal yang kita temui. Sikap seperti itulah yang akan membuat kita maju. Kita cenderung untuk berkarya dan berkarya setiap hari, setiap jam, menit dan detik. KREATIVITAS HARUS DIJADIKAN SIKAP HIDUP!
Jangan pernah beranggapan bahwa sebuah karya itu haruslah berupa penemuan seperti listrik, mesin uap atau peswat telepon. Sekecil apapun sebuah karya, pastinya akan berharga. sebuah karya walaupun tidak mempunyai manfaaat fungsional juga gapapa. Sebuah kaya kecil tapi bisa membuat orang lain tersenyum buat saya itu tetaplah sebuah karya yang perlu dihargai.
Di bawah ini ada sebuah kreativitas yang membuat saya tertawa tebahak-bahak.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
