Artikel

Edukasi

Trecy

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Hai! Senang rasanya bisa menyapa kompasianer lagi setelah sejenak menenggelamkan diri dalam aktivitas lain. Kali ini, saya ingin merasa lebih dekat dengan Kompasianer. Dan mungkin ini akan merubah sedikit format tulisan saya menjadi lebih personal. Enjoy:)

Kasus Plagiarism dan Sikap Ilmiah


HL | 10 February 2010 | 17:52 Dibaca: 1066   Komentar: 43   3 dari 4 Kompasianer menilai Bermanfaat

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Akhirnya, saya ikut nimbrung juga bicara soal pendidikan. yah, hitung -hitung kembali ke asal. Maksudnya, saya bicara dalam kapasitas saya sebagai seseorang yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan.

Masih segar dalam ingatan saya, seorang teman di kampus menyusun tugas akhir dengan cara mengopi -paste seenaknya saja, dan setelahnya mendapatkan nilai yang tinggi. Ah, itu mungkin 7 tahun silam. Pada saat itu, dunia maya belum marak dengan berbagai open-software yang memungkin kasus plagiarisme di deteksi dalam hitungan menit, setelah teks demi teks di luncurkan di perangkat deteksi tersebut.

Di tempat saya bersekolah, maklum di Eropa. Plagiarism dianggap kasus serius dan berpotensi mengancam kelanjutan studi mahasiswa yang terlibat skandal. Yang pertama, setiap tulisan di cek di mesin software bebas yang akan memberikan laporan berapa prosentasi kopi-paste. Ini faktor tehnik. Artinya, kendati di teks yang di kopi-paste tersebut tercantum sumbernya secara jelas, kalau prosentasenya melebihi yang di syaratkan universitas, ya habis sudah!. Jadi, universitas ingin mahasiswa lebih banyak menyadur. Dan dengan teknik penulisan sumber ilmiah yang semakin berkembang, tugas ini sebenarnya menjadi semakin sederhana. Misal, bila menggunakan gaya MLA, kita bisa hanya mencantumkan nama saja : ….(Fisher, Helen,2002). Akan tetapi tetap, bukan hasil kopi paste satu paragraph penuh.

Namun, akar dari apa yang di sebut sebagai ‘bobrok’ dunia pendidikan, dalam kaca mata plagiarisme sebenarnya lebih terdapat pada kultur ilmiah dan akademis masyarakat Indonesia. Berapa banyak masyarakt Indonesia memahami apa itu berpikir ilmiah?  dan karenanya, kultur ini tidak berkembang bahkan di remehkan.

Apa kaitannya berpikir ilmiah dengan plagiarisme? Kalau kita melihat kasus profesor yang di duga terlibat plagiarisme dengan disiplin ilmiah yang antara lain harus mencari tahu sebelumnya, pernahkan satu tulisan di tulis atau satu ide di kemukakan sebelumnya, sebagai satu faktor sebelum seorang ilmuwan meng-klaim hasil kerjanya sebagai original, sebagai inovatif, inventif dan sejenisnya. Tapi ini penelitian murni. Dunia akademis, sering lebih toleran di banding dunia penelitian sebenarnya yang hasil penelitian tersebut lebih dimanfaatkan untuk pengembangan industri.

Satu hal, sikap terbuka. Saya berpikir, apa susahnya bagi seorang profesor untuk menulis dari hati tentang apa yang telah ditulisnya hingga artikel tertuduh itu lahir? kalau jawabannya, “ya itu semata-mata hasil kopi paste, karena saya tidak menyangka bahwa reaksi masyarakat akan sedemikian itu, mengingat itu toh hanya sekilas pendapat atau pemikiran dan tidak saya publikasikan di jurnal ilmiah“. Berarti kasusnya bisa menjadi serius.Dan kenapa tidak tanya om google?. Bagi seorang profesor dengan akses ke berbagai publikasi ilmiah dan hubungan yang luas dengan berbagai cendekiawan dibidangnya, sebenarnya  ‘googling’ seringkali di sepelekan. Ada benarnya juga, banyak dosen meremehkan hasil googling karena dianggap tidak akademis, kendati tidak seluruhnya demikian.

Saya berpikir lagi, apabila artikel tersebut tidak di muat di koran berbahasa inggris, apakah akan mendapat kecaman serupa? bukan barang baru kalau budaya barat senang mencari kesalahan dan mendikte orang terhadap apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh orang lain, tapi bukan berarti tidak mereka (budaya barat) lakukan. Double standard nya Amerika adalah contoh “maling besar teriak (keras) maling!”. Dalih -dalih meneriaki plagiarisme terhadap tulisan di sebuah artikel (bukan jurnal ilmiah-tapi karena keluar dari pemikiran seorang professor, maka norma yang mengikat menjadi lebih keras), banyak kasus penelitian original di dunia kesehatan, misal yang justru di nihilkan oleh mereka yang memiliki kepentingan menjaga produk Industri (nanti kapan -kapan saya cerita).

Jadi, apa yang dilakukan oleh si professor tersebut, masih sangat manusiawi. Sebab, saya banyak membantu seorang professor di poland untuk saran-tulisan yang dengan khidmat dia dengarkan, dan analisis, dan ketika tulisan tersebut di gunakan, jelas dia tidak perlu mencantumkan nama saya yang bukan siapa -siapa. Atau begini, dalam sirkulasi penerbitan makalah ilmiah, adalah hal biasa, ketika ada nama seorang ilmuwan atau scholar yang menelpon rekanan lain di bidang yang sama untuk meminta izin menggunakan nama yanag bersangkutan di makalah yang sedang di susun oleh ilmuwan lainnya, tanpa ilmuwan tersebut (yang namanya di minta) perlu bekerja keras untuk menyusun makalah di maksud. Praktek sedemikian ini wajar, demi alasan produktifitas, yah semacam konvensi antar ilmuwanlah.

Dalam kasus profesor yang sedang hangat ini, saya dukung para mahasiswa dan universitas yang tetap menginginkan beliau bertugas. Pendidikan Indonesia miskin profesor, kita butuh lebih banyak dari yang kita punya sekarang. Dan mendengarkan profesor bicara atau mengikuti kuliah seorang Professor itu, sangat mengasyikkan. Jadi, kendati profesor ini memang telah khilaf melakukan aksi plagiarism, toh tetap, kita bagian dari keluarga besar masyarakat Indonesia masih tetap bisa meminjam prinsip kumbokarno, “biar salah, kalau dia darah dagingku, tetap ku bela”.

Tentu sanksi adalah wajar bagi si Prof, setelah tentunya proses penyidikan dilalui dengan manusiawi. dilain pihak, si profesor harus tetap berkarya. Terlebih dengan berubahnya arah hubungan Internasional selama 20 tahun kebelakang dan Indonesia baru mulai bangkit dengan studi hubungan internasionalnya.  Masih banyak ketinggalan yang harus kita kejar. Seperti orang jawa selalu lakukan ” kita maafkan kamu, tapi bukan berarti tidak kita awasi”. Begitu?

Dunia akademis, adalah dunia yang sombong, begitu profesor saya pernah bilang. Di situ, kami hidup dalam kesombongan akademis (saya profesor, anda siapa?). Oh di dunia barat lebih parah, bicara apa kamu? astrologi? maaf, saya sangat ilmiah!. Nah!

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: