“Agama itu ada dalam semua dimensi kehidupan manusia. Dan pada dimensi tertentu, agama tampak lebih menonjol dari aliran manapun. Umpamanya, rakyat dan kekuasaan negara. Realitas ini suka atau tidak, agama memiliki campur tangan yang besar dan dituntut menjadi lebih kritis dan proaktif.
Namun, dalam konteks rakyat dan kekuasaan di Indenesia, tafsir dan otoritas agama sering diposisikan terpisah, bahkan terkesan dimandulkan. Dengan dalil: Indonesia bukan negara berbasis agama. Jika dalil (pemahaman) ini menjadi sebuah rujukan mutlak, maka muncul pertanyaan: Apakah negara yang dibentuk itu tidak memiliki agama? Atau puncuk dari kekuasaan negara adalah politik kamuflasi untuk menguasai umat beragama?
Selanjutnya, pertanyaan yang paling mendasar antar hubungan kekuasaan negara dan umat beragama, yakni: Bagaimana peran dan fungsi negara menumbuhkan potensi agama dalam membangun kualitas kehidupan rakyat agar lebih cerdas, mandiri, sejahtera dan beradab?”
Potongan tulisan diatas merupakan salah satu buah karya dari kang Faissal Assegaf yang saya senangi, karena ulasan tersebut sangatlah cerdas dan sarat dengan berbagai ilmu pengetahuan. Dalam diskusi di forum tersebut saya mengajukan saran dimana saya akan coba memberikan suatu konsep strategi guna beribadah seperti yang kang Faisal Assegaf sampaikan, “melawan rezim busuk adalah ibadah dan jgn gentar menghadapi mrk.” Karena umur ini masih terasa sangat muda, maka saya akan mulai dari agenda yang paling kecil, namun sarat dengan makna dan berdampak sistemik. Pernikahan Dini!
Kelompok Studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (KSKR FK Unair) melakukan penelitian mengenai hal ini. Pada praktiknya, tim peneliti merupakan gabungan dosen dari beberapa bidang ilmu yaitu Bagian Biomedik, Obstetri Ginekologi, Andrologi, Mikrobiologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat Unair, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Pusat Penelitian Kesehatan Reproduksi, Antropologi Kesehatan FISIP Unair, dan MIPA Unipa.
Mengambil sampel 1.098 remaja usia 18-21 tahun di lima perguruan tinggi di Surabaya, penelitian deskriptif ini dilakukan pada pertengahan tahun 2007-2008. Untuk hasil yang lebih akurat, penelitian ini dibedakan antara mahasiswa (533 orang) dan mahasiswi (565 orang). Bertindak sebagai Ketua Penelitian Mahasiswa, dr Aucky Hinting PhD dan Ketua Penelitian Mahasiswi, Prof dr Jusuf Barakbah SpKK (K).
Hasilnya, sangat mengejutkan. Dari seluruh responden laki-laki, 16,3 persen (87 orang dari 533) sudah pernah melakukan hubungan seks atau intercourse. Mahasiswa yang melakukan oral seks 76 orang (14,3 persen), anal seks 27 orang (5,1 persen). Sedangkan yang memilih petting untuk memuaskan nafsu seksual mereka sebanyak 117 orang (22 persen). Sementara, 37 dari 565 perempuan (6,5 persen) sudah pernah melakukan hubungan seks. Oral seks 31 orang (5,5 persen) dan anal seks 14 orang (2,5 persen). Petting juga diminati, sebanyak 55 orang (9,7 persen) melakukannya.
Separo dari mereka juga sering melakukan ciuman di bibir yang memicu terjadinya hubungan seksual, laki-laki 263 orang (49,3 persen) dan perempuan 243 orang (43 persen).
Penelitian ini juga mengungkapkan mulai usia berapa mereka melakukan hubungan seksual. Ternyata, pada mahasiswa, 35,6 persen atau 31 dari 87 orang melakukannya ketika masih duduk di bangku SMP yaitu usia 13-15 tahun. Lebih sedikit di atasnya, 47,1 persen (41 orang) di usia 16-18 tahun.
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.
Yang lebih mengenaskan, semua responden mengaku melakukan hubungan seks tanpa ada paksaan. Semua dilakukan atas dasar suka sama suka dan adanya kebutuhan. Selain itu, ada sebagian responden mengaku melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan dan tidak bersifat komersil.
Bobroknya kondisi pemuda Indonesia tidak terlepas dari beberapa faktor, big why-nya adalah sebagai berikut :
1. Konsep pacaran. Mulai dari perasaan saying yang mendayu, saling berbicara yang indah, sentuhan tangan, saling membelai dan mengalir dari apa yang ada antara perut dan lutut. Konsep pacaran ini mengharuskan pemuda untuk saling menunjukkan yang terbaik kepada pasangannya, sehingga meskipun apa yang bukan kepribadian aslinya, akan selalu tertampilkan yang terbaik. Ketika menikah, 1 – 2 tahun muncullah apa yang ada dibalik topeng tersebut, kebohongan yang selama tertupi oleh topeng kemanisan ala pacaran telah terbuka lebar, menganga.
2. Secara biologis pemuda yang telah matang, menerima tuntutan dari tubuhnya untuk memenuhi insting dari kebutuhan biologis tersebut yang terus mendesak, ditambah konsumsi pergaulan yang menunjukkan minimnya pakaian, penayangan televisi yang memang sengaja dirancang oleh kapitalis busuk yang telah merusak berbagai tatanan kehidupan moral bangsa ini, mulai dari telenovela sinetron yang berjam-jam mendidik pemuda kita untuk hidup dalam angan-angan kosong hingga iklan-iklan pembual seperti yang tercantum dalam buku How to Lie With Statistic.
Sebenarnya masih banyak faktor lainnya seperti pergaulan yang tidak sehat serta faktor internal keluarga, namun big why-nya saya cukupkan dengan dua point di atas.
Solusi :
Pernikahan Dini. Bukan sebuah lagu, bukan juga sebuah sinetron yang menggambarkan arti negative dari pernikahan dini itu sendiri. Bukan, bukan itu!
Satu konsep yang selama ini saya pegang erat dalam menjalani hidup yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Al-Quran mengajarkan kita untuk berpuasa bagi yang belum mampu secara materi, sedangkan Rasulullah mendidik masyarakat untuk menikahkan pemudanya yang telah matang secara biologis.
Mengapa harus menikah dini?
1. Sebab dengan menyegerakan menikah, akan menahan gejolak nafsu, sebab telah ada tempat yang sah dan halal untuk menyalurkannya, kegelisahan yang selama ini dirasakan akan teredam dengan sendirinya dan bahkan tumbuh menjadi cinta yang indah, yang terikat, yang sah secara hukum. Lihatlah bagaimana saran Mba Mariska Lubis, dengan berbagai kenikmatan ala bercinta, dapat membuat bahagia, dimana the big o, mampu membuat endorphin bekerja, yang membahagiakan keluarga, lingkungan sekitar, dan member nafas damai bagi negeri ini.
2. Pernikahan dini mengajarkan tanggung jawab. Disana ada istri yang harus dipenuhi kebutuhannya. Disana ada tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dimana tanggung jawab dari orang tua telah terlepas. Maka pasangan pernikahan muda ini akan dituntut untuk bekerja, walau bagaimanapun kodisinya. Disini gengsi tenggelam ke dasar bumi, sebab dengan bekerja inilah menghilang tongkrongan tak jelas di sudut-sudut gang, suara cemprenk yang meresahkan telinga. Disini peluh keringat yang bekerja, demi belaian lembut kekasih hati yang menunggu setia di rumah dan malam hari, yang menenangkan, yang menentramkan, menyejukkan hati untuk terus hidup lebih baik. Dampak sistemiknya, andaikan sejumlah tamatan SMA menikah, bekerja, maka tambahan tenaga kerja baru menigkat, terbukanya lapangan kerja baru beberapa tahun ke depan, dan pada akhirnya pengangguran menurun, kalikan saja dengan tamatan-tamatan SMA lain se Indonesia, dan ending-nya PDRB Negara ini meningkat! Krisis ekonomi menurun, karena peluh keringat para pemudanya yang telah mendapatkan tenaga hidup dari pernikahan menjadi oase ditengah kegersangan negeri ini yang butuh tulang-tulang perkasa untuk melakukan perubahan!
Bukan yang melankolis, yang mendayu-dayu, yang hanyut dalam hentakan kepala hingar-bingar konser musik yang berakhir dengan kericuhan. Bukan yang mabuk-mabukkan hingga terjerumus narkoba, bukan yang berfoya-foya menghabiskan waktu dan uangnya di mall-mall. Bukan itu! Sekali lagi bukan itu! Bangsa ini tak perlu pemuda seperti itu! Jika memang itu keadaannya, Negeri ini akan tetap terpuruk seperti sekarang! Diinjak-injak dalam kubangan lumpur kerbau! Karena boleh jadi kita menyalahkan kerbau, padahal pemudanya sendiri lambat dan pemalas layaknya konotasi dari kerbau!
Fuh… Ta’aruf, itulah saat yang mendebarkan, begitulah islam ini mengajarkan kepada kita. Hanya untuk melihat sekilas sang calon, dan lebih pendekatan kepada keluarga calon. Banyak cara untuk ta’aruf, bisa lewat keluarga, kerabat, ustadz, atau bahkan lembaga ta’aruf itu sendiri. Salah satu lembaga ta’aruf saya lupa namanya, sudah berdiri di Yogyakarta, disana anda tinggal menyertakan biodata anda, dan kelak lembaga ini yang menjadi jembatan konjungtor antara anda dan pihak calon yang telah mereka persiapkan. Tapi bukan disitu pointnya. Niat, itulah yang pertama kali menjadi dasar untuk menyegerakan menikah di usia dini. Rasulullah saw mengajarkan tentang kriteria diantara harta, keturunan, kecantikan dan agama, maka pilihlah yang terakhir, yakni agama. Istri yang sholeh, yang menenangkan, yang menentramkan yang mampu menjaga harta, yang menjadi madrasah pertama bagi anak.
Maka tunggulah generasi terbaik dari bangsa ini lahir dari buah pernikahan dini antara pemuda-pemudi yang menjaga pandangannya, yang menjaga kesuciannya kecuali kepada pasangan hidupnya!
Pernikahan dini merupakan salah satu konsep awal yang saya pikirkan, masih banyak konsep-konsep perubahan lain yang akan saya tulis. Maka, saran dan masukkan saya butuhkan dari para kompasioners demi perbaikan dan peningkatan konsep-konsep selanjutnya.
Salam!
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
