Sejenak saya mengambil waktu untuk melihat sejauh apa tindakan teknis professor Banyu Perwita, mengundang malapetaka bagi dirinya. Tulisan ini mendampingi tulisan saya sebelumnya. Dalam hal ini, saya ingin menekankan pada masalah perbedaan toleransi atau bahkan visi antara budaya lain dan Indoensia dalam melihat kasus yang melibatkan etika dan bahkan hukum, dalam hal ini plagiarisme.
Ada satu komentar di halaman The Jakarta Post yang menyatakan bahwa seseorang dari Inggris pernah menyurati Kompas untuk Profesor yang sama, pada sebuah tulisan yang dianggapnya memlagiat tulisan orang lain. Saya kopi -paste tulisan si anonymous tersebut ‘2 or 3 years ago, I sent an email to the editors of Kompas regarding an article written by Anak Agung Banyu Perwita. I said that the article was not original. The email was ignored. I think the plagiarism in the Jakarta Post is quite rare because this is an English language newspaper. It is easier for them to get caught. If you read the Opinion section in the Indonesian language newspapers (like Kompas, etc), you can read far more articles, which do not have original ideas. Those writers think that it is more difficult to get caught because the articles have been translated to Indonesian.Akan tetapi tidak ada tanggapan. Dia menduga, karena Kompas adalah koran berbahasa Indonesia, maka wajar bila kasus plagiarisme sulit untuk di deteksi. Saya berpendapat serupa.
Jika demikian, kita menghadapi masalah yang serius terkait dengan Plagiarisme, dengan dampak yang jauh lebih serius dari yang di lakukan oleh prof. Banyu Perwita. Pendapat dari anonymous di atas lebih bertujuan untuk menyoroti budaya akademik dan menulis di Indonesia, sekaligus budaya media di Indonesia. Kasus Profesor Banyu Perwita hanyalah sebuah pemicu bagi kasu -kasus lainnya yang mengkristal dan membentuk efek gunung es. Yaitu efek yang membuat kita hanya hanya melihat bagian puncak gunung yang sedikit saja, sementara badan gunung terkubur di bawah permukaan air.
Jadi kalaupun ada yang bisa kita syukuri dari kasus tertuduhnya Profesor Banyu sebagai seorang plagiat adalah, mungkinkah ada kasus lain yang tidak terungkap dari berbagai kalangan? Karena yang kena sial kali ini kebetulan seorang Profesor? . Ini menyerempet ke kasus penulisan dan penerbitan buku, yang bila saya lihat di gramedia, saya tidak yakin bila tidak terjadi kasus plagiarisme. Plagiarisme bukan hanya masalah kopi -paste, tapi juga pengakuan ide orang lain sebagai ide kita sendiri, yang kemudian kita sebut sebagai pelanggaran patent atau hak cipta. Akan tetapi tetap, mereka bersaudara.
Tanpa adanya kelonggaran atas budaya menulis ilmiah di Indonesia, profesor Banyu pasti akan berpikir dua kali untuk main kopi paste. Ini sebenarnya efek dari oportunisme atau aji mumpung. Mumpung nggak pada ngeh, begitu kira -kira. Mengingat Tesis yang beliau selesaikan di universitas di luar negeri, pastilah melalui seleksi ketat.
Yang paling mendasar, kalau kita hanya bicara plagiarisme dalam kaitannya dengan kebobrokan moral atau tidak tahu malunya si pelaku, maka kita tidak akan melakukan perubahan apapun, sebab saya khawatir, bila kita fokus pada bobrok nya sesuatu yang ada di luar kesadaran kita, maka kita tidak mawas diri dan akhirnya mengulang kesalahan yang sama (persis seperti kasus Prof. Banyu Perwita).
Dan tentu saja, mahasiswa yang hobi menyontek dan kemudian berkarir di bidang akademik dan tulis menulis, bila tanpa pengawasan ketat, maka kemungkinan besar akan Aji Mumpung juga. Sejauh ini, Indonesia masih lemah akan sistem pengawasan untuk hal yang satu ini. Maksudnya, tingkat kesadaran masyarakatnya akan apa itu hak cipta. Buktinya, layanan kopi buku yang canggih, yang tidak saya jumpai di Luar negeri, berjamuran di Indonesia. Jadi memang kita punya iklim untuk itu.
PS: Penggunaan judul : Plagiarism; tahu sama tahu?, menganut asas penggunaan tanda baca dari william safire, di mana tanda ; mengindikasikan pernyataan sesuatu yang berlawanan arti atau makna dengan kata sebelumnya tanpa perlu membubuhkan penegasian seperti kata tidak atau bukan. Jika saya ubah menjadi Plagiarism: tahu sama tahu, berarti saya bermaksud menyepakati antara tindakan plagiarism dan ketahuan masyarakat atas fenomena tersebut.
Bulan Februari adalah bulan cinta. Begitu kurang lebih yang dirayakan para kawula muda setiap bulan
