Kompasiana
Rabu, 08 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ngurah Beni Setiawan

Antara Ini dan Itu. Tulisan ini hanya kegiatan paruh waktu yang coba ditekuni. Sebagai media tempat curahan pemikiran dan opini pribadi. Mencoba melihat sesuatu dari sisi yang ringan, melihat fenomena dan mengaitkan apa yang terjadi di Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Belajar apa yang diperlihatkan alam pada kita. Berperilaku seperti apa yang diharapkan alam.

Antara Stefanía Fernández, Model dan Kesederhanaan

OPINI | 16 February 2010 | 22:06 116 9 2 dari 2 Kompasianer menilai Inspiratif

Google search

Sumber gambar: Google search

Saat ini jam menunjukkan angka jam 5 sore. Saya ingin menyapa anda dengan Selamat pagi! Mungkin anda bertanya, jam 5 sore tapi salamnya kok selamat pagi. Alasan pertama, saya selalu menganggap setiap waktu adalah pagi yang penuh semangat untuk mengisi hari, ketika matahari mulai mengintip jendela kamar, ketika udara masih segar. Kedua, ya suka-suka saya saja. Saya ingin ucapkan selamat pagi kek, selamat malam kek, selamat tahun baru kek, asal jangan selamat tinggal. Wong saya baru mulai nulis kok sudah selamat tinggal. Hehe..

Catatan saya hari ini ingin menyoroti Stefanía Fernández dan makna kesederhanaan. Miss Universe 2009 yang (pastinya) berdarah merah namun keturunan Rusia, Polandia, Ukraina. Saat ia terpilih, untuk pertama kalinya wakil dari satu negara (Venezuela) terpilih dua kali berturut-turut, mahkota ratu sejagat tahun sebelumnya dipegang oleh Dayana Mendoza yang juga berasal dari Venezuela. Tak ada yang unik dari sosok Stefanía, dia hanya cantik dan punya brain. Wah, gaya bahasa saya cukup tinggi juga menggambarkan si Stefanía. Hihi…

Wanita-wanita yang tampil di ajang inipun bisa dibilang bukan orang sembarangan dan cukup punya andil membawa nama baik negaranya. Menjadi Miss Universe bukan semata masalah predikat wanita ideal alam semesta (Universe) tapi juga sederet fasilitas dan kontrak yang bernilai jutaan dolar. Dan predikat ini embel-embelnya universe, bukan cuma dunia! gilee! Ini kan sudah menyalahi hukum kompetisi, makhluk dari planet lain saja tidak diundang, tapi predikatnya seolah-olah ini adalah kontes ratu sejagat yang pesertanya tak hanya manusia tapi juga allien! diluar galaksi Bimasakti, The Milky Way. Singkatnya, sosok seperti Stefanía ini adalah model-model manusia yang dianggap ideal, paling tidak oleh dewan juri.

Dalam sains, model bisa dikatakan sebuah penyederhanaan dari suatu realitas. Pengertiannya sama saja dengan model dalam ekonomi, hukum, pasar modal, kedokteran, dll. Model diciptakan untuk menyederhanakan masalah dan bukan membuatnya menjadi masalah baru. Melalui penyederhanaan ini, model selanjutnya digunakan untuk mencari jawaban atas suatu masalah.

Bicara tentang model, saya selalu ingat dengan teori Occum’s Razor. Intinya begini, jika ada dua teori (model) yang mampu menjawab satu masalah yang sama, maka yang lebih baik adalah teori yang paling sederhana. Itu sebabnya ada kata razor yang mengikuti Occum. Razor (alat cukur) disini dimaksudkan pemangkasan semua hal yang tidak berguna, semua asumsi yang terlalu berlebihan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang paling sederhana. Saya termasuk orang yang menggemari cara berpikir Occum Razor ini.

Itu sebabnya Einstein menjadi tersohor dengan E = mc^2 nya. Sederhana, tapi cukup baik dalam menjelaskan fenomena alam tentang kekekalan energi. Sama halnya dengan model atau teori Black-Scholes dalam ekonomi, begitu penting bukan?! karena asumsinya yang sederhana namun ampuh untuk menjawab masalah. Di Indonesia dan dunia, nama Johannes Surya sangat dikenal sebagai pencetak model-model manusia unggul dalam bidang fisika. Anak didiknya kerap kali menghiasi panggung kompetisi fisika, tak hanya di Asia tapi juga dunia. Tak hanya penggembira, tapi pemenang! Luar biasa!

Antara Stefanía Fernández, Model dan Kesederhanaan

Kawanku, apa yang dipertontonkan dalam ajang Miss Universe ataupun apa yang diperjuangkan Johannes Surya dengan deretan manusia jenius “temuan”nya tak lain adalah untuk mencari dan membentuk model-model manusia yang sederhana lahiriah dan batiniah. Yang satu mengandalkan kecantikan fisik, yang satu menggali potensi intelektual. Hakikat mereka adalah untuk menjadi model, mereka pun harus paham apa itu model. Sekali lagi, model adalah penyederhanaan dunia nyata. Model diciptakan untuk menyelesaikan persoalan.

Saat perhelatan PEMILU silam, sekelompok orang berkoar tentang keberpihakan lembaga survey. Tidak independent-lah, tidak akurat-lah, tidak reliable-lah dan banyak lagi tuduhan yang, menurut saya, non-scientific tapi lebih karena rasa iri akibat “diprediksi” kalah. Lah, wong kalau mereka mengerti bahwa metoda hitung cepat itu adalah berangkat dari sebuah model dengan sederet asumsi, ya harusnya mereka akan berkoar dan mempertanyakan apa modelnya kan? dan bukan menyalahkan dengan membabi buta. Haha….

Tak ada yang salah dengan mereka (lembaga survey), barangkali yang salah adalah model mereka yang mungkin terlalu njelimet atau kelewat sederhana. Mirip seperti sekelumit orang yang sempat protes  karena Indonesia ikut serta (lagi) dalam ajang Miss Universe karena two-piece swimsuit. Lah, masih untung diminta memakai swimsuit, kalau benar-benar lepas bagaimana? Hehe…

Saya selalu berpegang pada pemikiran bahwa kontes-kontes semacam ini hanya ajang untuk mencari model yang (kiranya) nantinya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif. Tidak ada bedanya dengan kontes burung yang mencari model kicau terbaik kok. Tapi ini pendapat saya pribadi loh, kalo panjenengan punya pandangan berbeda yang monggo.

Akhir kata, saya selalu teringat dengan pesan orang tua yang kerap menasehati untuk menjadi manusia sederhana layaknya sebuah model. Artinya dalam sekali loh! maksudnya, jadilah sederhana bukan hanya dalam perkara finansial atau cara berpakaian. Bukan perkara rupawan atau sekedar jenius, tapi untuk menjadi orang yang tak rumit dalam berpikir tapi bisa menyediakan solusi. Karena ada juga orang yang cara berpikirnya boros tanpa solusi. Salah satunya ya saya ini. Hehe…

Mudah-mudahan anda jauh lebih baik dari saya dan mudah-mudahan kelak saya bisa menjadi seperti nasehat orang tua saya.

Satu hal lagi, Einstein pernah berkata “Everything should be made as simple as possible, but not simpler” yang maksudnya kira-kira begini; Sederhanakan tapi jangan terlampau sederhana.

160210


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012