Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Good Things

♥ Mamak Ketol ♥ PEREMPUAN bersarung yang suka gonta-ganti nama sesuai judul tulisan terbaru ♥ selengkapnya

Sudahkah AMIU Anda Ber-sertifikat?

REP | 25 February 2010 | 00:30 Dibaca: 377   Komentar: 29   6

Air Minum Isi Ulang (AMIU) ©Mamak Ketol™

Air Minum Isi Ulang (AMIU) ©Mamak Ketol™

Air Minum Isi Ulang (AMIU) mungkin sudah mulai dibisniskan sebelum tahun 2000. Akan tetapi, menurut Tempo, baru di awal tahun 2005 lah setiap DAM (Depot Air Minum) harus memiliki sertifikat layak konsumsi dari Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Kota Madya.

Di Depok, sertifikat laik sehat berbentuk stiker. Fungsinya sebagai bukti bahwa air minum tersebut bebas dari kandungan bakteri e-coli yang merupakan penyebab diare. Selain stiker atau sertifikat, setiap DAM wajib mengantongi TDI (Tanda Daftar Industri) dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang musti diperbaharui setiap lima tahun.

Pentingnya air bersih dan “murahnya” AMIU dibandingkan dengan air mineral dengan merek paten membuat semakin menjamurnya DAM. Suatu bisnis yang cukup menggiurkan dengan modal yang relatif kecil.

Tidak semua depot memiliki sertifikat. Tahun lalu (12/10/2009) KOMPAS mencatat di Kota Gorontalo terdapat sekurang-kurangnya 29 DAM yang tak memiliki izin. Usaha yang tidak sah ini mungkin masih bisa “dimaafkan”. Tapi bagaimana apabila air tersebut tidak memenuhi syarat hygiene air minum olahan dan memakan korban?

Sosialisasi tentang perlunya stiker dan bahaya nya kandungan bakteri dalam air sepertinya belum begitu bergema ke pelosok Nusantara. Departemen Kesehatan pernah melakukan penelitian mengenai proses pengolahan AMIU, kualitasnya, kondisi kesehatan lingkungan DAM dan jajak pendapat konsumen tentang kualitas AMIU. Sampel AMIU diambil dari 38 depo yang tersebar di Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Air yang diuji tak hanya air minum hasil olahan, tetapi bahan (air) baku nya juga. Tak ada informasi kapan penelitian itu dilakukan. Namun, untuk parameter bakteriologi, dalam hal ini total coli dan fecal coli, dari 38 sampel AMIU (saya kutip langsung) “terdapat 11 sampel (28,9%) tidak memenuhi persyaratan kandungan total coli dan 7 sampel (18,4%) tidak memenuhi persyaratan kandungan fecal coli menurut Kepmenkes 907 tahun 2002.” Bagaimana pandangan awam mengenai aman tidaknya AMIU?

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh tim peneliti DepKes dengan konsumen AMIU, ditemukan bahwa lebih dari 90% menyatakan AMIU aman dikonsumsi. Sementara itu lebih dari 60% responden “tidak mempercayai pemberitaan media massa yang menyatakan bahwa air minum dari depot tidak memenuhi persyaratan kesehatan.” (Tidak ada keterangan apakah responden yang diwawancarai berdomisili di sekitar depot yang diambil sample nya atau tidak, dan apakah responden benar-benar mengerti perbedaan antara AMIU dengan air mineral.) Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masih ragu akan kelayakan higienis AMIU?

Ultraviolet dan Ozon dalam AMIU? ©Mamak Ketol™

Ultraviolet dan Ozon dalam AMIU? ©Mamak Ketol™

Bagaimana dengan ultraviolet dan ozon? Apa peran ultraviolet dan ozon dalam AMIU? Iklan AMIU dengan merek ***** (disamarkan) ini mempromosikan lima kelebihan produknya. Poin nomor dua (ultraviolet) dan tiga (ozon) cukup membuat kening saya berkerut. Bagaimana dengan (kening) Anda?

Tanpa mengurangi “ke-otentik-annya”, selebaran fotokopi-an berukuran 10cm x 12,5cm ini sengaja difoto dan di-cropped sedemikian rupa. Produk air minum olahan ini “menjual” sertifikat LAYAK KONSUMSI yang disertifikasi OLEH SEGALA UMUR. Terlepas apakah bunyi iklan ini hanyalah kesalahan diksi semata, pastikan AMIU Anda disertifikasi oleh DepKes dan memiliki stiker yang masih berlaku.

Catatan:
Kalau Anda tertarik untuk mengetahui sekilas tentang perlindungan hukum terhadap konsumen AMIU di daerah tertentu, silahkan klik Sleman dan Bandar Lampung.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 2 jam lalu

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 5 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 5 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 10 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: