
Dibaca: 759
Komentar: 23
1 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif
Mungkin pernah mendengar atau menyanyikan lagu, balonku ada lima. ….. Rupa-rupa warnanya, hijau kuning, kelabu, merahku dadar biru, meletus balon hijau dorrr, hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat.
Mendengar lagu itu, saya seperti tengah mendengarkan percakapan di DPR antar anggotanya. Percakapan antara anggota DPR dengan eksekutif. Atau mendengar pula percakapan antara eksekutif dengan eksekutif. Selama sepuluh tahun, kita selalu disuguhkan warna-warna yang tidak bermakna sama sekali dalam kehidupan umum.
Mungkin juga hanya bermakna bagi orang-orang tertentu yang sudah merasakan manfaat untuk pribadinya dari warna-warna itu. Kita mengenal warna merah, kuningan, hijau, biru, hitam, putih dan seterusnya. Seperti kejadian belakangan yang ramai menjadi pergunjingan yakni meletus balon kuning, dorrr…. hatiku sangat kacau.
Begitu pun meletusnya balonku warna merah, dorr …. hatiku pun semakin kacau. Meletusnya balon merah dalam century sangat lah wajar. Wajar karena posisi sebagai oposisi, meksi dalam konstitusi di Indonesia tidak mengenal oposisi. Sebab belum dikenalkan baik melalui diktat perkuliahan, buku-buku maupun perundang-undangan.
Justru yang aneh adalah meletus balon kuning, dor ….. hampir semua orang tertawa terbahak-bahak. Semua orang yang mengenal dengan balon kuning, merasakan kelucuan yang tiada bandingnya. Sungguh, saya pun ketika mendengar tertawaan mereka sangat tidak mengerti. Namun setelah berlama-lama tersungkur baru lah memahaminya.
Tahun 99, semua orang tidak terkecuali sangat alergi dengan balon kuning. Jika sebelumnya memuji setinggi langit karena kiprahnya yang mendapatkan dukungan hampir 90 persen penduduk di Indonesia. Pada tahun itu, hancur berantakan. Orang menertawakan, mencaci memaki bahkan mengategorikan sebagai partai hitam.
Namun, sikap militan yang dibangun selama tiga puluh dua tahun. Tidak membuatnya goyah. Tidak membuatnya terlempar seperti PNI, Partai Moerba, Masyumi, NU dan seterusnya. Balon kuning terus melambung dan menjadi kompetitor partai mana pun yang didirikan oleh orang dan mengaku tokoh nasional.
Namun selama itu pula hasil suaranya jarang sekali mengungguli secara mutlak. Balon yang menguasai hidup dan hajat sejak tahun 70-an tetap mendapatkan dukungan dan tidak pernah ke luar dari lingkaran kekuasaan. Selalu dan selalu memasuki wilayah itu tanpa ada yang mendedahkannya. Celakanya selalu diakomodir.
Mereka begitu lihai dalam memainkan jurus-jurus politiknya. Sehingga siapa pun yang menelan dan mengunyahkan, seperti berada di surga. Terbebas dari hiruk pikuk pelbagai persoalan. Sebab mereka mengatakan paling benar dan paling hebat diantara politis lainnya dari balonku ada lima. Hebatnya lagi sekarang, mereka mampu mencuci otak siapa pun tak terkecuali.
Kenapa balon kuning berperilaku seperti itu? Jika diamati ada beberapa persoalan yang menyelimutinya. Sebagai partai nomor dua, tentu tidak ingin kehabisan energi mencari simpati dari rakyat dengan menjual rakyat. Desain pembina balon kuning ini sangat manjur. Tidak mau ditekan dan terus menekan sampai ada titik kesepahaman.
Kesepahaman apa? Pembina balon biru berkoar-koar sejak awal mari kita berangus mapia hukum. Pengemplang pajak, pembenahan di jajaran polri, kejaksaan agung dan mengoptimalisasikan peran KPK. Hal ini tidak diinginkan balon kuning. Balon kuning ini hidup normal tanpa ada pertikaian di ranah hukum yang kemudian awaknya banyak terseret ke dunia itu.
Kepiawaian dalam lobi melobi adalah keunggulannya. Sehingga siapa pun yang memimpin bangsa ini. Apabila, tidak bersentuhan secara umum di bidang jasa, hukum, dan pengamanan akan mendapat tantangan lebih hebat. Bahkan bisa mungkin si pemimpin itu yang akan jatuh dan terpermalukan dengan hal remeh temeh.
Contoh kecil, pemimpin redaksi Tempo. Harus mendekam selama tiga tahun karena bersinggungan dengan ranah jasa (dagang). Padahal posisi mereka sudah benar, tapi oleh pengadilan dinyatakan tidak benar. Sehebat-hebatnya orang berjuang demi keadilan dan kebenaran. Ketika berhadapan dengan mapioso ala Indonesia takan pernah berhasil.
Begitu pun pemimpin negeri ini, ketika berhadapan dengan mapioso yang lebih dahulu berkiprah. Tidak akan berhasil. Justru sekarang tengah menjadi bulan-bulanan mapioso itu sendiri. Mapioso secara kasat mata tidak dapat dilihat. Tapi secara naluri dan hati nurani pertumbuhan mapioso ala Indonesia ini semakin tumbuh subur.
Sehingga tidak bisa lagi membedakan mana rakyat dan mana bukan rakyat. Sebab semuanya mengatasnamakan rakyat dan Indonesia. Padahal gejala dan kejadian sangat lokalitas tapi selalu di atasnamakan Indonesia. Seolah-olah Indonesia merupakan wilayah sempit dan kecil dengan tokoh masyarakat yang banyak.
Sementara ketokohan itu diangkat bukan oleh masyarakat namun dirinya sendiri lah yang mengakuĀ tokoh.***
*). meminjam judul lagu anak” karya NN (abis gak tahu sih)