Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Noni Nandini

Lahir di Jakarta, tumbuh di Kalimantan Timur, kuliah di Yogyakarta dan Solo, kerja di Jakarta…..(Koes selengkapnya

Antara Saya, Film, TV dan Pelajaran Sejarah

OPINI | 08 March 2010 | 08:47 Dibaca: 349   Komentar: 6   2

Mungkin kalau DNA saya bisa bercerita tentang saya, maka salah satu yang akan dia ceritakan adalah dalam DNA saya ada gen-gen penyuka film dan televisi yang diturunkan oleh Bapak saya. Jadi sejak saya masih belum ngerti apa-apa ingetan pertama saya yang sampai sekarang saya inget banget adalah film Six Million Dollar Man yang diputar TVRI tahun 1980-81 ketika saya masih berumur 2 tahunan lebih. Waktu itu TV di rumah saya masih hitam putih dan menggunakan Aki sebagai sumber listriknya.

Kalau fillm pertama saya, saya kurang ingat tapi dalam ingatan samar-sama saya, saya sudah nonton film Ben Hur waktu TK atau SD kelas 1, adegan yang paling saya ingat adalah balapan kereta kuda. Sambil nonton film itu Bapak saya cerita (tentu saja saya nonton dengan Bapak saya) kalo adegan tersebut monumental banget, karena selain memang keren banget juga banyak memakan korban jiwa stuntman-nya.

Jadi bisa ditebak kesukaan saya nonton film secara tidak langsung didukung sekali oleh Bapak saya. Sejak saya kelas 1 SD, setiap akhir pekan ditayangkan film-film Indonesia di TVRI. Saya hampir tidak pernah ketinggalan. Walalupun film-filmnya sebenarnya tidak sesuat dengan umur saya tapi orang tua saya tidak pernah melarang. Ada untungnya juga sih karena ternyata hobi saya itu berguna dalam pekerjaan saya yang sekarang.

Dari nonton film dan TV juga lah saya yang gak suka belaja (saya belajar dalam arti yang sebenarnya hanya pada saat-saat tertentu) selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran sejarah. Sebenarnya saya gak pernah belajar serius setiap ujian sejarah. Hanya saja sering kali saya sudah menonton filmnya sebelum saya mendapatkan pelajaranya. Contohnya ketika membahas penyerangan Pearl Harbour wakatu SMA, jauh sebelumnya waktu saya SD saya sudah nonton film Tora, Tora, Tora. Jadi ketika guru sejarah saya menjelaskan tentang penyerangan itu, di kepala saya seperti ada layar tancap yang menayangkan film Tora, Tora, Tora. Sehingga pas ujian tinggal saya ceritain aja film Tora, Tora, Tora, jadi tanpa baca buku pelajaranpun saya sudah mengerti inti dari penyerangan Pearl Harbour….hehehehehehe…

.(untung pada saat itu ujian selalu Essay).

Ketika pelajaran tentang sejarah Jepang, saya tinggal main “layar tancap” di kepala saya tentang film-film Samurai, Serial Laion Maru dan anime Ikkyu-san. Ketika bicara tentang sejarah wilayah kekuasaan Jepang di Asia Tenggara, saya tinggal memilih film Bridge Of River Kwai, tentang POW dari Inggris yang ditawan Jepang di Myanmar. Atau ketika saya belajar tentang perang saudara Amerika saya tinggal memilih film Huckleberry Finn. Saya juga suka mempelajari sejarah negeri-negeri Arab gara-gara nonton film Lawrence Of Arabia (yang dengan bodohnya diputar di TV-TV Indonesia ketika hari-hari besar Islam padahal sebenarnya film itu awal mula barat khususnya Inggris bisa dengan mudah campur tangan urusan nengara-negara timur tengah…hehehehehehehe).

Saya juga belajar Revolusi Rusia dari film DR. Zhivago yang saya tonton ketika saya masih SD. Mengerti ajaran Mahatma Ghandi gara-gara saya nonton film Ghandi-nya Ben Kingsley ketika SMP. Saya belajar perang Vietnam, John F Kennedy dan Flower Generation sampai Martin Luther King dan Malcom X dari serial Tour Of Duty waktu saya SMP, jauh sebelum kesadaran akan pentingnya peristiwa tersebut pada dunia dan nilai-nilai sejarah saya…hehehehehehe….

Untungnya di kepala saya punya banyak koleksi film-film yang saya butuhkan. Walaupun saya lupa judulnya namun banyak adegan film-film tersebut tertanam di kepala saya. Contohnya waktu belajar tentang sejarah Korea, saya selalu ingat film yang dibintangi Marlon Brando tentang prajurit Amerika yang ditugaskan di Korea ketika perang Korea tahun 50-an, yang ketika dia liburan ke Jepang, dia jatuh cinta dengan seorang Geisha. Saya juga selalu ingat adegan sebuah film lama yang saya lupa judulnya tentang pertarungan gladiator di Colleseum, ketika saya mempelajari sejarah Romawi.

Jadi dalam sejarahnya saya belajar sejarah di SMA, nilai sejarah 7 ketika pelajaran sejarah Indonesia sedangkan sejarah dunia selau diatas 7. Mau tau kenapa nilai sejarah Indonesia saya hanya mentok di 7, bukan karena saya gak menghormati sejarah sendiri apalagi menyepelakan tapi pada saat itu saya belum pernah nonton film sejarah Indonesia yang membuat saya terhanyut….kecuali film Cut Nyak Dien, saya ikutan nangis pas ngelihat Cut Nyak Dien ditangkap….tapi sayangnya Cut Nyak Dien jarang banget keluar dalam sejarah SMA.

Dari semua pelajaran sejarah, sebenarnya paling mudah saya pelajari adalah sejarah Jepang. Karena big fan of Oshin, tinggal saya ingat-ingat saja bagian-bagian film itu sesuai dengan momen sejarahnya, maka secara otomatis semua tentang Jepang pada saat itu seperti ingin saya muntahkan.

Sayangnya ketika saya sekolah, film-film tentang matematika, biologi, fisika dan kimia gak ada atau mungkin saya tidak menemukannya. Lucunya setelah saya mau pindah ke Jakarta sehabis ujian SMA, saya nonton film tentang Marie Curie di TNT Network. Jadi nilai-nilai saya di pelajaran-pelajaran tersebut yaaaaaahhhhh gitu deeeeeeehhhhh…memalukan abis. Coba kalau saya SMA sekarang mungkin saya jadi sangat tertarik dengan pelajaran-pelajaran tersebut karena banyak sekali film dan serial yang didasari oleh matematikan seperti Beautiful Mind dan Numb3rs, lalu fisika seprti Star Trek dan Quantum Leap, Biologi seperti Jurassic Park dan Heroes dan juga CSI dan Bones yang didasari oleh matematika, biologi, fisika dan kimia. Dan mungkin saja saya sekarang gak jadi broadcaster tapi jadi anggota CSI…..hahahahahahahahaha…………..Jadi gak selamanya nonton film dan TV itu buruk kan????

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Lima Edisi Klasik 16 Besar Liga Champions …

Choirul Huda | | 17 December 2014 | 21:54


TRENDING ARTICLES

Sadisnya Politik Busuk Masa Pilpres di …

Mawalu | 5 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 5 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 6 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 6 jam lalu

Hanya Butuh 22 Detik Produksi Sebuah Motor …

Ben Baharuddin Nur | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

7 Cara Ajaib! Memenangkan Lomba Vote di …

Giant Sugianto | 8 jam lalu

Aristan : Audit Dinas PU Sigi …

Geni Astika | 8 jam lalu

100 Hari Menuju Sakaratul Maut …

Ivone Dwiratna | 9 jam lalu

Dulu Soekarno Mengusir Penjajah, Sekarang …

Abdul Muis Syam | 9 jam lalu

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Suharyadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: