Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Puspita Wulandari

Saya seorang guru di sebuah sekolah pinggiran tepatnya di SMK Negeri I Kertosono kab Nganjuk selengkapnya

Sekolah = Berjuang

OPINI | 15 March 2010 | 04:24 Dibaca: 100   Komentar: 10   1

Alkisah di sebuah rumah ada seorang ibu yang malu karena anaknya mendapat nilai jelek di sekolah. Ibu tersebut merasa malu karena anaknya hanya mendapatkan nilai 70,  bukan 100. Ibu tersebut merasa anaknya bodoh karena teman-teman anaknya banyak yang mendapatkan nilai 90 dan bahkan ada beberapa yang mendapat nilai 100.

Suatu hari anaknya pulang dengan nilai ulangan 85, si ibu masih mengomel lagi, “Aduh kamu ini gimana sih, masa teman-temanmu mendapat nilai 90, 95 dan 100, kok kamu hanya mendapat nilai 85. Ini kan soal yang gampang. Ibu kan malu kalau ditanya sama mamanya Budi dan Santi.” Anak tersebut hanya diam kemudian masuk ke kamarnya.

Pada malam hari, ketika si anak selesai belajar untuk menghadapi ulangan keesokan harinya, dia mendekati ibunya dan menyatakan, “Ibu besok saya ndak usah ke sekolah saja ya?” Si ibu bingung dan balik bertanya, “Ada apa kamu ndak masuk sekolah?” Si anak dengan wajah ketakutan menjawab,’ besok ada ulangan Bu, dan saya takut mengecewakan Ibu lagi kalau nilainya tidak bagus.”
Ibu tersebut langsung syok, dan tidak tahu harus menjawab apa …?

Kasus ini banyak terjadi di Indonesia. Mindset orang tua di Indonesia, sudah terlanjur percaya bahwa tolak ukur kepandaian anak hanya dinilai dari pencapaian nilai akademik semata sehingga nilai-nilai yang lain terabaikan.

Anak yang mendapatkan nilai tinggi yang dianggap sukses. Sehingga nilai kejujuran dan perjuangan untuk mendapatkan nilai akademik menjadi terbaikan. Orang tua hanya mengharapkan nilai yang baik dan nilai sempurna, tanpa melihat proses mendapatkan nilai anak-anaknya. Nilai kejujuran di Indonesia seringkali diletakkan di bawah nilai harga diri (pride), akibatnya nilai perjuangan dan nilai proses menjadi terabaikan.

Saat ini banyak sekali anak-anak Indonesia yang sedang bingung, akibatnya terjadilah kebiasaan menyontek di sekolah. Kebiasaan ini diakibatkan oleh tuntutan keadaan, baik orangtua, sekolah dan masyarakat. Kondisi memprihatinkan ini berdampak luar biasa buruk pada kelangsungan kehidupan masyarakat berbangsa dan berbudaya.

Namun kelihatannya kondisi ini akan terus berkelanjutan tanpa pernah ada penyelesaiannya. Kecuali ada kerjasama antar orangtua, guru/sekolah dan masyarakat. Pemegang kendali utamanya adalah orangtua.

Ada kebiasaan orangtua di beberapa negara yang tidak menjadi kebiasaan orangtua di negeri kita tercinta, yaitu: membekali anak dengan keyakinan bawa sekolah itu adalah berjuang. Luar biasa bukan, “Sekolah = berjuang”, sehingga pada saat mengalami kesulitan atau kegagalan, mereka tetap memiliki keberanian untuk berjuang, berjuang untuk bisa dan berjuang menjadi dirinya sendiri. Dan yang terpenting berjuang agar menjadi orang yang sukses.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Diskon Menginap untuk Kompasianer di Wisma …

Gapey Sandy | | 25 January 2015 | 10:48

25 Januari, Selamat Hari Gizi Indonesiaku! …

Listhia H Rahman | | 25 January 2015 | 10:14

Fenomena Video Parody, Youtube Legalkan …

Sahroha Lumbanraja | | 25 January 2015 | 10:38

Yang Baru di Formulir SPT PPh Orang Pribadi …

Andre Jayaprana | | 25 January 2015 | 08:15

[Video Promo] Selamat Datang di …

Kompasiana | | 09 January 2015 | 02:18


TRENDING ARTICLES

Surat Terbuka kepada Megawati Sukarnoputri …

Ilyani Sudardjat | 5 jam lalu

Dewasanya Polri, Liciknya Oknum KPK …

Ar Kus | 5 jam lalu

Saran Urgent agar Jokowi Tidak Tumbang di …

Teguh Sunaryo | 8 jam lalu

Sikap Jokowi Menang Tanpa Menyakiti Lawan …

Bagoes Triatmojo | 10 jam lalu

Kekeliruan Hendropriyono dan Tedjo soal …

Muslihudin El Hasan... | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: