Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nurul

The land before time cartoon lover!

Moralitas dan Humanitas dalam Menulis

HL | 03 April 2010 | 07:47 Dibaca: 439   Komentar: 59   14

Ilustrasi (shutterstock)

Ilustrasi (shutterstock)

Banyak orang mengatakan bahwa menulis itu merupakan hobi, aktualisasi diri, sarana berbagi (sharing)—berbagi informasi atau berita—, dan lain-lain. Menulis juga menjadi sarana mendapatkan sahabat—tentunya di dunia tulis menulis. Selain itu, menulis juga dapat menjadi bentuk tertulis dari sebuah kritikan, protes, saran dan puji-pujian yang subyektif.

Tidak hanya itu, menulis juga melatih untuk selalu mengabadikan suatu momen atau kejadian seputar kehidupan yang telah dan akan terjadi, yang nantinya akan menjadi sebuah bukti sejarah. Menulis tentunya perlu keahlian tersendiri, yaitu dapat mentranformasikan sesuatu ke dalam bentuk tulisan. Sebenarnya semua orang dapat menulis, tapi entah karena tak ada kemauan atau apa, menulis menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Menuliskan apa yang ditulis tentu punya koridor etika dan aturan-aturan yang wajib dipatuhi bagi setiap penulis bak Undang Undang yang mengatur suatu negara. Baik dari sisi bahasa yang digunakan, subyektifitas atau objektifitas tulisan, kejujuran tulisan dan sebagainya.

Nah, tentunya dengan begitu, sebagai penulis—amatiran atau profesional— harus memiliki dan mengedepankan moralitas dan humanitas dalam setiap tulisannya. Terlebih jika tulisan itu dimuat di sebuah wadah yang dapat diakses dan dibaca khalayak ramai. Di sinilah sisi humanitas dan moralitas penulis diperlukan.

Moralitas

Bagi setiap penulis, lumrah dan sangat wajar jika tulisannya ingin dibaca banyak orang, entah itu hanya sekedar ingin narsis—popularitas— ataupun ingin berbagi suatu hal yang informatif dan bermanfaat. Namun, di balik itu semua, masih banyak penulis yang mengenyampingkan sisi moral. Hendaknya, jika tulisan seseorang ingin dibaca banyak orang, sang penulis juga harus memiliki tanggung jawab moral yang tinggi atas dampak—posisif dan negatif— atas isi tulisannya itu. Terlebih si penulis memuat tulisannya pada media massa ataupun elektronik sehingga mudah diperoleh oleh masyarakat.

Seorang penulis tentunya harus bisa menerka dampak yang akan ditimbulkan dari tulisannya itu dan melihat seberapa jauh manfaat yang dapat diterima dari si pembaca.

Sebisa mungkin seorang penulis tidak menuliskan hal yang vulgar—tidak pada tempatnya dan tanpa ilmu terrkait yang memadai dari si penulis—, kekerasan, kebencian dan apapun bentuknya yang berdampak negatif dan buruk.

Humanitas

Selain moral, sisi kemanusiaan (humanitas) penulis juga wajib dimiliki dan dijunjung tinggi. Memandang dan menilai apapun dalam kacamata pemahaman dan penghargaan terhadap manusia adalah hal mendasar dari sisi humanitas. Dalam menulis, biasanya sisi kemanusiaan seseorang akan luntur ketika menuliskan sebuah kritikan atau protes, dengan segala bahasa antah-berantah—caci maki, tertuang semua dalam tulisan sehingga tak jarang menimbulkan antipati bagi pembacanya sendiri. Bahkan dampaknya sangat buruk baik bagi penulisnya sendiri, pembaca maupun orang atau lembaga yang dikritik atau diprotesnya. Seorang kritikus akan mendapatkan tempat di mata sasarannya jika menyampaikannya dengan cara yang elegan—sopan dan humanis. Pemilihan bahasa yang baik dan sopan juga akan mendukung terbentuknya moralitas penulis

Kita tak mau lagi mendengar ada pelaporan tentang pencemaran nama baik di sebuah social media, seperti yang marak terjadi belakangan ini. Pelapor merasa dirinya dirugikan dan dicemarkan nama baiknya oleh seseorang melalui tulisan hingga dapat membawa si pelaku ke meja hijau. Karena memang,  hal ini masih dipandang sepele oleh banyak orang, mencaci orang lain atau lembaga lewat tulisan yang dapat diakses khalayak ramai.

Moralitas dan Humanitas, layaknya sudah harus diterapkan dari sekarang, khususnya dalam dunia tulis-menulis, karena dengan begitu akan tercipta suatu masyarakat madani yang benar-benar berkualitas, bukan lagi hanya karena pendidikan tinggi, seseorang dikatakan madani.

Satu hal lagi, pendidikan seseorang tidak menjamin kualitas tulisan. Banyak orang yang berpendidikan tinggi namun kulitas menulisnya rendah karena tidak moralis dan humanis, di situ pembaca akan menilainya sendiri. Dan yang paling penting tentunya dengan banyak membaca dan memiliki pengalaman hidup yang luas, akan menopang seorang penulis menjadi berkualitas di samping sisi moralitas dan humanitas yang wajib diterapkan.

NuruL

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 3 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 6 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 9 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: