Broken English is The Language of Science
HL | 05 April 2010 | 02:43
Dibaca: 463
Komentar: 35
6 dari 9 Kompasianer menilai Menarik
Ilustrasi/Admin (Shutterstock.com)
Ketika mengikuti konferensi sains internasional, saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang yang berasal dari negara-negara yang berbeda. Tiap negara memiliki ciri yang khas ketika bicara dalam bahasa Inggris. Tidak semua saintis dapat dengan fasih berbahasa inggris, namun inilah yang seringkali memudahkan komunikasi antara orang-orang yang bukan “english native speaker”. Bahasa yang digunakan kebanyakan kaku dan terbatas disekitar istilah-istilah yang berkenaan bidang keilmuan seseorang.
Bagi saya, yang sama sekali non-native speaker, ada beberapa kesan mengenai ke-khas-an gaya bicara berdasarkan negara asal, sebagai berikut:
- India: karena di negara ini bahasa inggris menjadi bahasa pengantar antar daerah, mereka berbicara sangat fasih. Sayangnya, intonasi dan gesture dan gaya bicaranya sangat dipengaruhi oleh gaya setempat. Bahkan pelafalan kata pun begitu “medok”, sehingga seringkali sulit dimengerti. Mereka sangat senang menggunakan continuous tense, contohnya: “you should be knowing about this subject”, ketimbang: “you should know about this subject”.
- Jepang: Ketika memberikan ceramah, mereka terdengar bagai putaran pita kaset rekorder. Intonasi datar. Seringkali tidak peduli dengan pertanyaan dari pendengar, sehingga saya punya kesan mereka kesulitan untuk mengerti bahasa Inggris. Apapun yang dikatakan lawan bicara, mereka akan tetap tersenyum dan mengangguk. Beberapa kata memiliki pelafalan yang berbeda dengan aslinya.
- Korea: Kemampuan bahasa inggris saintis Korea sepertinya lebih baik dari Jepang. Mereka berbicara perlahan tetapi dapat dimengerti dengan baik.
- Cina: Satu-satunya pelafalan huruf yang sangat mirif dengan American English adalah “r”. Mereka mengucapkan huruf ini agak cadel seperti native speaker. Kadang-kadang kesulitan mereka adalah dalam tense. Mungkin mirip dengan Indonesia. Namun, secara umum bahasanya dapat dimengerti dengan baik. Apalagi jika pembicara sudah berimigrasi bertahun-tahun ke Amerika.
- Perancis: Bahasa Inggris orang perancis harus didengarkan dengan seksama. Fasalnya, mereka memiliki kebiasaan untuk menyatukan beberapa kata tanpa jeda, misalnya: “I wish you luck” menjadi seperti “Awishouluck”. Pengucapan kata-kata inggris yang diserap dari bahasa Perancis diucapkan dalam bentuk asalnya, sehingga jika tidak tahu terdengar aneh. Misalnya “pardon”. Huruf “r” digetarkan di tenggorokan, sehingga bunyinya khas.
- Jerman: Karena bahasa Jerman fonetik, seringkali pelapalan kata bahasa inggris sesuai dengan hurufnya. Kadangkala kata kerja ditempatkan pada posisi yang tidak patut. Yang sering terdengar aneh adalah kata “angle” (sudut) yang dilafalkan seperti “angel” (malaikat). Mereka lebih suka menggunakan “Ja” ketimbang “Yes”.
- Belanda: Menurut saya bahasa inggris Belanda cukup baik. Walaupun tidak seperti native-speaker, tetapi dari segi grammar dan pronunciation sangat baik. Mungkin karena di Belanda bahasa Inggris umum dipergunakan. Tapi, sama dengan jerman, mereka lebih suka menggunakan “Ja”.
- Rusia: Jelas, mereka sering menggunakan kalimat-kalimat pendek dan tegas. Yang membuat pusing dari pembicara asal Rusia bukan bahasanya, tetapi tulisannya.
- Itali: Setiap kata selalu ada akhiran vokalnya. Mirip juga dengan Spanyol.
Masih ada beberapa ke-khas-an cara bicara dari negara lain yang saya tidak ingat. Dan ini adalah pengamatan subjektif, dan tidak berlaku untuk semua orang. Banyak diantara mereka yang sangat fasih berbahasa Inggris, terutama yang beberapa tahun pernah tinggal di Amerika/Inggris atau mereka yang sudah sering sekali berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bahkan ironinya, kuliah/ceramah dari orang amerika seringkali lebih sulit diikuti, karena terlalu cepat dan sering menggunakan bahasa “slang”. Sayangnya saya jarang bertemu dengan saintis asal Asia Tenggara. Namun dari pengalaman bertemu dan berbicara di kesempatan lain,
- Malaysia: Saya lebih mengerti bahasa Inggrisnya dari pada bahasa melayunya.
- Thailand: Sulit dimengerti, gak tahu mana “l” dan “r”
- Indonesia: kesulitan utama adalah penggunaan tense dan artikel.
Namun demikian, komunikasi saintifik tidak terkendala dengan keterbatasan bahasa. Bahasa bisa dinegosiasikan dengan gambar, gerak, dsb. Yang terpenting adalah gagasannya. Pada umumnya kemampuan tulis lebih baik dari lisan. Karena sains itu bukan hanya milik orang yang berbicara Inggris saja, maka terciptalah peribahasa di kalangan para ilmuwan: “Broken English is the language of science“.