Kompasiana
Rabu, 08 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ngurah Beni Setiawan

Antara Ini dan Itu. Tulisan ini hanya kegiatan paruh waktu yang coba ditekuni. Sebagai media tempat curahan pemikiran dan opini pribadi. Mencoba melihat sesuatu dari sisi yang ringan, melihat fenomena dan mengaitkan apa yang terjadi di Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Belajar apa yang diperlihatkan alam pada kita. Berperilaku seperti apa yang diharapkan alam.

Antara Kucing dan Tikus

OPINI | 14 April 2010 | 04:30 376 13 2 dari 4 Kompasianer menilai Inspiratif

Wikipedia

Sumber gambar: Wikipedia

Masih ingat catatan kecil saya tentang Antara Cicak dan Buaya yang sama sekali tidak membahas cicak dan buaya? Sekarang saya sedang girang untuk melihat perilaku kucing dan tikus. Entah apa yang membuat dua hewan, yang sebenarnya lucu, ini selalu berseteru. Anda tentu tahu kartun Tom and Jerry, memang sesekali pernah ada keharmonisan yang digambarkan film kartun itu tapi toh itu hanya beberapa episode saja. Kucing dan tikus tampaknya memang terlahir tidak untuk hidup berdampingan. Eits…jangan salah! Gambar disebelah yang Anda lihat ini bukan rekayasa. Ternyata perseteruan itu tak selamanya bisa dicap antara mereka. Kucing dan tikus.

Sama halnya dengan anjing dan kucing. Jika mereka diajarkan untuk hidup bersama sejak kecil maka harapan mereka untuk hidup dan bermain bersama itu akan ada. Kembali ke kucing dan tikus ya. Sesungguh gambar itu bukanlah seekor tikus, itu sejenis binatang pengerat yang disebut Guinea pig. Lah, tikus kok babi? Salah penamaan atau bagaimana? Bukan sama sekali, hewan kecil berbulu itu memang dikenal sebagai Guinea pig (cavia porcellus). Hewan pengerat ini pun bukan berasal dari Guinea, melainkan dari Andes Amerika Latin. Hewan kecil ini cukup digemari dijadikan santapan loh! maksud saya santapan manusia ya, bukan santapan kucing! Weleh!

Antara Kucing dan Tikus

Catatak kecil saya kali ini sesungguhnya bukan masalah nikmatnya menyantap Guinea pig ini, yang bagi saya lebih cocok dijadikan hewan piaraan dibanding sate. Dulu, sayapun sempat memelihara hewan pengerat sejenis marmut di rumah. Hebatnya, Ia bisa tahu saya akan datang kerumah meskipun masih berjarak lebih dari 200 meter! Buktinya, dia akan langsung ribut saat itu. Bersuara melengking seolah menyambut kedatangan tuannya. Lucu memang. Yang dia harapkan hanya mentimun dan cabutan rumput dari halaman rumah, terkadang wortel pun dilahapnya. Guinea pig ini memang tergolong hewan yang sangat mengenal dan setia pada tuannya, paling tidak begitu pengakuan seorang kawan dari Amerika Latin yang gemar memelihara hewan pengerat ini.

Disisi lain, saya memang penggemar kucing yang sejak kecil selalu berkeliaran di rumah. Sejak kecil memang kucing ini turun temurun selalu beranak pinak sampe akhirnya generasi terakhir saat saya tinggalkan hijrah ke Bandung beberapa tahun silam. Berbeda dengan perilaku marmut, kucing ini memang hewan yang setia pada rumah bukan pada tuannya. Pengalaman saya membuktikan, sejauh-jauhnya anda melepas dia dari rumah, dia akan kembali dengan selamat dan memang berhasil menemukan kembali home sweet home-nya. Sekali lagi, kucing ini tipe hewan yang setia pada rumah bukan pada majikan.

Kembali ke masalah perseteruan tiada akhir tikus dan kucing. Kedua hewan ini memang sulit untuk diharapkan akur. Yang satu takut disantap yang lain. Yang satu hidup dalam buruan yang lain. Yang satu selalu lincah lari dari kejaran yang lain. Tapi toh tidak selamanya seperti itu. Gambar yang saya ambil dari Wikipedia ini menjadi bukti bahwa merekapun bisa diharapkan untuk akur dan sejenak melupakan santap-menyantap. Lah, kok cuma sejenak? Wong namanya juga hewan.

Artinya, jika kebiasaan untuk bersahabat itu bisa dipupuk sejak dini sesungguhnya kehidupan yang damai itu bukanlah omong kosong belaka. Manusia yang tentunya lebih cerdas dari Guinea pig dan kucing tentu bisa memahami hal ini jauh lebih baik. Sesuatu yang diajarkan sejak kecil umumnya akan mudah diingat dan cenderung menjadi karakter seseorang. Tentu saja, proses lingkungan dalam pembentukan karakter ini tetap punya peranan penting. Toh, kita masih bisa berharap bahwa kedamaian itu akhirnya akan muncul ketika penyadaran akan persahabatan itu dipupuk sejak kecil.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan saat ini cenderung membuat segregasi antar manusia. Dinding pemisah dengan dalih aliran politik, kelompok sosial, bangsa, dalih agama bahkan suporter sepak bola kerap dijadikan alat. Hal-hal seperti ini lalu digunakan sebagai ajang galang dukungan dan seringkali berujung bentrokan dan konfrontasi tanpa arah. Entah apa yang membuat mereka melupakan kodratnya sebagai manusia yang seluruhnya adalah saudara lalu lebih mementingkan warna baju yang dikenakan! Anda bukanlah dia jika tidak mendukung Persija, walah! Cilaka kalau sudah begini

Mari kita sama-sama belajar dari Guinea pig dan kucing seperti gambar diatas. Indah bukan? Yang selama ini selalu disangka berseteru ternyata bisa bersahabat. Kita adalah manusia yang punya rasa, maka aneh rasanya jika Guinea pig dan kucing yang seperti itu bisa berperilaku lebih akur ketimbang keseharian kita yang jelas seorang manusia. Yuk kita ingat kembali kenyataan bahwa kita ini adalah makhluk Tuhan yang diciptakan sama dan saling memuliakan. Agar kita bisa hidup dalam kedamaian yang dicita-citakan setiap orang. Jangan tersinggung kalau saya justru ajak Anda belajar dari seekor Guinea pig dan kucing ya. Hehe…

Oia, kalau anda sempat silahkan buka Wikipedia dan cari gambar yang saya pasang itu. Keterangan gambar itu sesungguhnya “A cat which has learned to accept two guinea pigs. Some cats and dogs, depending entirely on the individual animal, may be able to safely interact with guinea pigs. However, leaving cats or dogs alone with guinea pigs is never advised“. Walah, kok tetap ada kata-kata “However, leaving cats or dogs alone with guinea pigs is never advised.” Hehe…yah, namanya juga hewan yang memang nalurinya seperti itu.

Akhir kata, kedamaian bukanlah hanya hak seseorang tapi juga kewajiban. Kedamaian dan kerukunan adalah pekerjaan tiada akhir yang harusnya selalu memiliki makna bagi kita sebagai manusia. Ah, saking semangatnya saya sampai lupa ucapkan salam hangat di awal tulisan ini. Jadi saya sampaikan di penghujung tulisan saja ya. Semoga kedamaian selalu hadir di keseharian kita. Salam sejahtera untuk kawan-kawan yang selalu dalam kedamaian bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

14042010


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012