Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rosaline Halim

Hanya seorang pengembara di dunia yang sedang mengumpulkan bekal untuk perjalanan akhir.

Homeschooling dan Totto Chan

HL | 24 April 2010 | 14:36 Dibaca: 497   Komentar: 9   1

Homeschooling adalah sebuah alternatif pilihan bersekolah bagi siapa saja yang menginginkan pendidikan terutama anak-anak. Aspek legalitas Homeschooling sudah diakui oleh Undang-undang di negeri ini dengan merujuk UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sementara sebuah wadah Homeschooler, disebut juga Umbrella school atau corespondance school yang baik harus memiliki kurikulum yang mengacu kepada Peraturan Mendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan, yang disajikan sedemikian rupa sehingga peserta dapat mengikuti proses pembelajaran dengan cara yang menyenangkan.

Homeschooling sebagai alternatif bersekolah telah hadir di Indonesia sejak tahun 2007 yang dibentuk oleh Kak Seto dengan nama Home Schooling Kak Seto disingkat HSKS.  Seorang Home schooler tidak memiliki jadwal belajar yang baku seperti seorang siswa pada umumnya, sehingga jamak banyak orang tua  pada awalnya terkejut dan tidak siap dengan perubahan pola hidup yang terjadi. Metoda dan cara belajar yang diadopsi seorang Home Schooler ini serupa dengan sistem dan cara pendidikan yang disajikan dalam sebuah novel populer dari Jepang berjudul Totto Chan yang ditulis oleh Tetsuko Kuronayagi.

Novel tersebut bercerita tentang Totto Chan, seorang anak yang ditolak oleh banyak sekolah normal, bukan karena bodoh atau nakal tetapi hanya karena dia adalah anak yang istimewa.  Akhirnya ibu Totto Chan membawanya ke sebuah sekolah dimana kebebasan seorang anak berekspresi diijinkan. Kepala sekolah Tomoe Gakuen, Tuan Kobayashi, menyayangi semua muridnya dan memandang bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan setiap anak adalah istimewa. Di sekolah Tomoe Gakuen akhirnya Totto Chan mendapatkan pengalaman belajar yang berharga , kelak membentuk kepribadiannya dan menjadikannya manusia dewasa yang bertanggung jawab. Walau di kemudian hari pada saat perang dunia kedua merebak, sekolah Tomoe Gakuen dibom dan tidak pernah dibangun kembali.

Apa hubungannya antara Home schooling dan Totto Chan? Hubungannya ada pada mindset pendidiknya dan sistem belajarnya. Di buku Totto Chan digambarkan bahwa pada hari ketika Totto Chan bersekolah, dia dan kawan-kawannya diberikan mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Seorang guru menuliskan setiap mata pelajaran yang harus dikerjakan pada hari itu di sebuah papan tulis, lalu membiarkan si anak memilih sendiri mau mulai belajar dari yang paling disukai atau paling dibenci, yang penting semua jadwal pelajaran yang harus dipelajari, selesai pada hari itu.

Seorang Homeschooler juga melakukan hal yang sama, walau belajar di rumah dan kadang diselingi dengan pertemuan yang diatur oleh umbrella schoolnya, ia tetap harus mematuhi jadwal yang telah disepakati antara home schooler dengan tutornya atau orang tuanya. Home schooler boleh memulai belajar dari jam kapan saja sesuai dengan kesukaan masing masing, dan boleh memulai belajar dari pelajaran yang manapun yang ada pada jadwal hari itu.

Di dalam Homeschooling terdapat kesetaraan antara anak dan tutornya, dan sistem pendidikannya tidak menyamaratakan setiap anak sebagaimana yang berlaku pada sekolah formal. Disana  kebebasan berekspresi diijinkan, disiplin ditegakkan, karena tanpa disiplin tidak mungkin seorang home schooler dapat menyelesaikan tugas yang ada.

Dengan adanya Homeschooling sebagai alternatif sekolah yang memberikan setiap anak baik yang istimewa untuk mendapatkan haknya dalam pendidikan dan kesempatan mengikuti ujian persamaan Paket A,B,C, telah membuka cakrawala yang tadinya tertutup bagi mereka, anak-anak yang senasib dengan tokoh Totto Chan di novel.

( Untuk megetahui lebih detail tentang Homeschooling dapat dilihat di link di bawah ini:

http://listiaji.wordpress.com/2009/03/18/home-schooling-kak-seto-cara-sekolah-yang-mudah-murah-dan-meriah/

http://en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling )

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 12 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 13 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 8 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Jazz Atas Awan, Mendengar Musik Menikmati …

Pradhany Widityan | 8 jam lalu

Indahnya Kebersamaan di Ultah Freebikers …

Widodo Harsono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: