
Lahir di Bandung, besar di Cilegon Banten, nakal di Bandung, merasakan pedih nya menuntut ilmu di Sydney Australia, bercinta di Bandung lagi, belajar hidup mandiri di Jakarta sampai akhirnya mencari rejeki di Kramatwatu Banten... oiii Rejeki, where are youuuu ??
Dibaca: 375
Komentar: 23
2 dari 5 Kompasianer menilai Menarik
Seperti hari-hari lain saya mengawali hari dengan minum secangkir kopi diteras rumah. Sekedar menikmati suasana pagi yang sejuk dengan sesekali merawat tanaman koleksi dihalaman rumah memang sudah menjadi kebiasaan saya semenjak saya menikah. Toh ini adalah saat dimana saya bisa santai dan ngobrol dengan istri sebelum kami semua beraktivitas.
Tapi pagi ini kenikmatan kami agak sedikit terganggu dengan munculnya orang yang meminta sumbangan. Saya hafal benar orang ini, setiap pagi dia berkeliling kompleks perumahan untuk sekedar meminta sumbangan. Beras ataupun uang dia terima dengan senang hati. Pernah saya berikan sumbangan berupa beras dan setelah itu setiap pagi dia selalu datang ke rumah untuk kembali meminta sumbangan.
Melihat perawakan dan postur tubuhnya, pemuda ini masih sehat dan masih mampu untuk bekerja. Tapi kenapa dia memlih untuk menjadi ‘ Pengumpul dana ‘ ( sebutan halus dari peminta2 )?
Setelah beberapa kali pertemuan yang selalu berujung penolakan dari saya untuk memberikan sumbangan, sepertinya pagi itu dia kembali memberanikan diri untuk kembali meminta. Kali ini saya juga memberanikan diri untuk bertanya kepada pemuda tersebut tentang kenapa dia memilih menjadi ‘ pengumpul dana ‘ daripada mencari kerja.
Jawaban dia pendek saja…
“Karena saya miskin pak.”
Percuma saya coba meyakinkan pemuda tersebut untuk mencari kerja, bahkan tawaran untuk bekerja di bengkel milik saya pun ditolaknya mentah2.
Pendek cerita permintaan untuk memberikan sumbangan pun saya tolak mentah2 dengan alasan masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan daripada seorang pemuda tegap dan sehat seperti dia.
Saya mempunyai prinsip untuk lebih mengutamakan memberi sumbangan kepada panti asuhan dan sedekah kepada orang yang sudah tidak mampu bekerja.
Kopi saya pagi ini terasa hambar…. Sudahlah saya lupakan hal itu. Saatnya berangkat mengantar istri ke kantor.
Ditengah jalan ada kemacetan walau tidak panjang tapi cukup mengganggu. Ternyata disebabkan oleh pembangunan sebuah masjid yang ada dipinggir jalan. Pembangunannya sih tidak mengganggu badan jalan, tapi entah DKM atau warga nya berdiri disamping dan ditengah jalan dengan dilindungi oleh beberapa drum bekas mencoba untuk mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid tersebut.
“Ini cermin masyarakat muslim kita.. “, keluh istri saya sambil sesekali melihat jam karena takut terlambat datang ke kantor. Sambil menunggu antrian melaju iseng saya bertanya kepada seorang ibu yang berdiri disamping saya..
” Bu maaf, kenapa meminta dana pembangunan ke orang2 dijalan ? “
“Karena warga kampung ini mayoritas orang tidak punya pak.”
” Ya kalo belum mampu ya jangan dipaksakan toh bu.. “
“Kalo gak begini kapan kampung saya bisa maju pak?”
Untuk sekedar informasi, sebagian masyarakat Banten ( tidak semua, tapi mayoritas yang saya lihat sih begitu ) cenderung memaksa pembangunan masjid lebih diutamakan daripada pembangunan yang lain. Hal ini sering dimanfaatkan oleh pihak2 politik dalam mengumpulkan perolehan dukungan.
Sambil melanjutkan perjalanan, kembali pikiran saya berputar2 kedalam kalimat:
“Karena saya orang miskin pak..”
Maaf jika ada yang tersinggung. Ini hanya sekedar kritik dan hanya untuk menjadi bahan renungan saja.
Peace ah !