Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Gufron

bekerja di Lembaga Kemanusiaan ESQ.

Kecerdasan Emosi dan Spiritual

OPINI | 05 June 2010 | 23:55 Dibaca: 2330   Komentar: 9   2

Ciri umum orang yang cerdas intelektual dan emosionalnya yaitu orang itu bisa sukses dalam kehidupan, sukses dalam pekerjaan, mampu bekerjasama dengan orang lain, mampu mengendalikan emosi, mampu mencari harta yang banyak dan berlimpah. Dia juga biasanya pintar menarik hati orang lain, bisa memahami sifat setiap orang dengan tepat, biasanya juga hafal nama-nama orang yang dikenalnya dan dia bisa mengetahui kesenangan dan ketidaksukaan orang itu.

Orang yang cerdas emosional itu dalam tingkat yang positif bisa menjadi pemimpin yang baik, bisa menjadi Presiden yang baik, menjadi Menteri yang baik, bisa menjadi Gubernur yang baik, bisa menjadi Bupati yang baik, bisa menjadi Direktur yang baik dan sebagainya dan bisa kaya raya. Namun sebaliknya dia bisa menjadi orang yang negatif dan merugikan orang lain, artinya bisa memanipulasi orang, menipu orang bahkan masyarakat.

Cerdas Spiritual Beda Dengan Sikap Religius

Kecerdasan spiritual lebih sering diartikan rajin salat, rajin beribadah, rajin ke masjid, rajin ke gereja, pokoknya yang menyangkut agama. Sampai saat ini kecerdasan spiritual masih banyak dipahami secara keliru. Kecerdasan spiritual itu artinhya kemampuan seseorang untuk memberi makna dalam kehidupan. Ada sebagian orang yang mengartikan kecerdasan spiritual itu sebagai kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasinya.

Kecerdasan spiritual itu menurut penelitian-penelitian di bidang neurology, punya tempat yang khusus di dalam otak. Ada bagian dari otak kita yang memiliki kemampuan untuk mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, misalnya untuk memahami Tuhan, memahami sifat-sifat Tuhan. Maksudnya adalah menyadari kehadiran Tuhan di sekitar kita dan untuk memberi makna dalam kehidupan. Orang yang cerdas secara spiritual di antaranya bisa dilihat ciri-cirinya adalah bisa memberi makna dalam kehidupannya.

Kecerdasan spiritual mampu memahami makna dan nilai tertinggi kehidupan. Mampu mengetahui tujuan fundamental kehidupan. SQ menjawab pertanyaan : ‘siapa saya’ ; ‘untuk apa saya dilahirkan’ ; ‘mau kemana saya’. SQ mampu mengatur diri dan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Ada aliran baru di dalam psikologi yang mengetrapkan terapi yang baru terhadap orang depresi. Dahulu orang depresi diobati dengan obat anti depresi seperti prozak. Sekarang orang depresi disuruh bekerja sosial dan banyak beramal dan banyak menolong orang lain. Dengan menolong dan beramal, orang depresi bisa menemukan bahwa hidupnya bermakna. Orang depresi diajarin kecerdasan spiritual. Pelan-pelan orang mulai tahu bahwa orang yang cerdas spiritual itu bukan orang yang paling rajin salatnya, yang sering umroh , yang rajin ke geraja dan pandai memberi kotbah. Orang cerdas spiritualnya adalah orang yang senang membantu orang lain, mempunyai kemampuan empati yang tinggi, juga terhadap penderitaan orang lain, dan bisa memilih kebahagiaan dalam hidupnya.

Bahwa ciri orang yang cerdas spiritual itu bisa dilihat diantaranya adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain, telah menemukan tujuan hidupnya, dia merasa memikul sebuah misi yang mulia, dia merasa terhubung dengan sumber kekuatan di alam semesta, dia merasa dilihat oleh Tuhan dan punya sense of humor yang baik.

Di Amerika, pelatihan-pelatihan kecerdasan spiritual sudah mulai populer dan ramai sekali. Orang Amerika merasa gersang hidupnya, walau harta yang dikumpulkan berlimpah, mereka tidak bisa menemukan kebahagiaan yang hakiki. Banyak orang Amerika mencari pelatihan kecerdasan spiritual agar mendapatkan kebahagiaan di dalam hidup.

Contohnya pada 27 Juni 2008, Gates mengundurkan diri dari sebagian besar jabatannya di Microsoft, dan mengkonsentrasikan diri pada kerja kedermawanan melalui yayasan filantropis yang didirikannya, Yayasan Bill &Melinda Gates.

Menurut Forbes, harta kekayaan Bill Gate ditahun 2010 adalah USD 53 milyar, orang kaya peringkat no 2 didunia. Menurut Washington Post, 90% dari hartanya disumbangkan untuk mendanai kegiatan sosialnya. Luar biasa. (USD 53 milyar = Rp 477 trilliun)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 4 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 7 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: