Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mang Jamal

Manusia riang gembira, tinggal di Bandung, sayang anak, hobi ngakak :)

60 Tahun Pendidikan Seni Rupa Bandung

OPINI | 08 June 2010 | 06:54 Dibaca: 1553   Komentar: 7   1

60 Tahun Pendidikan Seni Rupa Bandung

Tahun 2007 ini pendidikan seni rupa Bandung yang berpusat di ITB genap berusia 60 tahun, dihitung dari masa perintisan yang dimulai pada 1947. Perintisan sekolah seni rupa Bandung itu usai Perjanjian Linggajati yang menghasilkan Republik Indonesia berbentuk Serikat (RIS), dan Jawa Barat “diserahkan” kepada Belanda yang kemudian membentuk Negara Pasundan dengan ibu kotanya Bandung. Saat itu masih banyak orang Belanda di Bandung, terutama mereka yang pernah ditawan pada masa pendudukan Jepang.

Bermula dari sekolah yang mencetak calon guru gambar dengan nama Universitaire Leergang voor de Opleiding van Tekenleraren yang selanjutnya menjadi Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar. Seluruh dosennya orang Belanda. Simon Admiral dan Ries Mulder bergabung pada 1948, mengajar seni lukis dan apresiasi seni. Tiga tahun kemudian, 1950, Sjafei Soemardja bergabung menjadi tenaga pengajar setelah belajar kesenirupaan di Belanda dan mendapat sertifikat guru gambar.

Nama Soemardja kemudian diabadikan menjadi nama galeri di Fakultas Seni Rupa dan Desain itu.
Pada masa kemerdekaan, Technische Hogeschol, nama ITB pada masa Belanda atau Dogyo Kaigaku pada masa pendudukan Jepang, digabung ke dalam Universitas Indonesia yang baru didirikan dan menjadi Fakultas Ilmu Teknik Universitas Indonesia. Balai Pendidikan Guru Gambar digabung ke fakultas itu.

Pendidikan seni rupa di Bandung sejak awal dikenal dengan gaya yang mengusung seni rupa Barat modern (misalnya gaya ekspresionisme, abstrak, dan kubisme) yang kemudian berkembang menjadi salah satu kubu atau mazhab dalam khazanah seni rupa Indonesia. Hal itu sebenarnya tampak wajar mengingat karakter Kota Bandung sendiri yang membarat. Guru-guru pertamanya orang Belanda, dan guru pribumi pertama Soemardja, Angkama Setjadipradja, Achmad Sadali, Mochtar Apin, Srihadi Sudarsono, Sudjoko, But Muchtar juga mendapat pendidikan Eropa Barat dan Amerika.

Dalam buku Pengantar Seni Rupa (2001) Sudjoko menceritakan secara ringkas kondisi Bandung pada awal kemerdekaan. Orang Bandung, misalnya, sangat tahu mana Belanda penjajah dan Belanda kawan. Belanda kawan dipandang sebagai agen kemajuan bagi orang Bandung. Salah seorang dari mereka adalah Ries Mulder, tentu saja karena perannya dalam mengembangkan pendidikan seni rupa modern khususnya di Bandung. Dialah terutama yang mentransformasikan ilmu seni rupa Barat kepada orang Indonesia. Mulder juga memiliki hubungan pertemanan yang luas dengan pribumi, selain dengan mahasiswanya yang tidak hanya di kampus, tetapi juga dengan seniman Bandung yang bukan eksponen Balai Pendidikan itu.

Di Bandung waktu itu terdapat dua tipe seniman, lulusan ITB (akademis) dan bukan. Tapi keduanya memiliki napas yang sama karena sama-sama sering bertemu dan berguru kepada Ries Mulder yang selain guru juga teman bagi semua seniman Bandung. Meskipun mengajari mahasiswanya seni rupa klasik dan modern Barat, Mulder sangat menghargai lukisan karya seniman Bandung termasuk yang di luar kampus, terutama yang bertema alam Indonesia yang cerah di banding alam Belanda yang suram.

Berbeda dengan kondisi di kota lain seperti Jakarta dan Yogyakarta, di Bandung tidak pernah ada perkumpulan seniman yang memusuhi seni rupa Barat, bahkan ketika politik condong ke Uni Soviet dengan paham seni rupa bernama realisme sosial sebagaimana kemudian ikut dipropagandakan oleh Sudjojono, Hendra, dan seniman Yogya lainnya yang memusuhi Barat sebagai imperialis dan kapitalis.
Sekitar tahun 1956, Balai Pendidikan Guru Gambar bergabung dengan arsitektur menjadi Bagian Arsitektur dan Seni Rupa. Adapun seni rupa terbagi ke dalam dua bidang studi yaitu pendidikan seni rupa dan seni lukis.

Pada 1959, Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik UI di Bandung berdiri sendiri menjadi Institut Teknologi Bandung yang diresmikan oleh Presiden Soekarno. Prasasti peresmian yang monumental itu sekarang terletak di tengah kampus ITB, di depan Plasa Widya Nusantara. Pada saat itu Bagian Seni Rupa terbagi menjadi Pendidikan Seni Rupa, Seni Lukis, dan Seni Interior. Seni Interior ini merupakan “oleh-oleh” Achmad Sadali sepulang belajar dari Amerika.

Pada 1960, Ries Mulder pulang ke negerinya ketika hubungan Indonesia-Belanda memburuk terkait masalah Irian Barat –waktu itu Indonesia menggelar operasi pembebasan Irian Barat dengan akibat lain pengusiran orang Belanda dari Indonesia termasuk yang tinggal di Bandung. Meskipun begitu, transformasi seni rupa Barat -sebagaimana ilmu teknik– terus berlangsung karena dosen-dosen muda Seni Rupa melanjutkan pendidikan ke Eropa dan Amerika.

Pengembangan terus berlangsung dan bidang studi terus bertambah. Pada 1963 dibuka bidang studi Seni Keramik, setahun berikutnya Seni Grafis dan Seni Patung. Di Seni Patung, selain But Muchtar dan Gregorius Sidharta terdapat dosen berdarah Jerman, Rita Weijman Widagdo yang menjadi warga Indonesia untuk turut mengembangkan pendidikan Seni Patung di Bandung.

Pada 1964, Pendidikan Seni Rupa berubah menjadi Komunikasi Seni Rupa, sedang pada 1965 Seni Interior berubah menjadi Arsitektur Interior setelah Widagdo, lulusan Stuttgart Jerman bergabung. Tahun 1973, Seni Rupa bersama Teknik Sipil, Arsitektur, Planologi Teknik Penyehatan (kemudian menjadi Teknik Lingkungan) dan Geodesi digabung ke dalam Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Seni Rupa menjadi departemen yang terdiri atas bidang studi Seni Lukis, Seni Keramik, Seni Patung, Seni Grafis, Desain Interior, Desain Produk, Desain Grafis dan Desain Tekstil. Pada 1984, Departemen Seni Rupa ditingkatkan menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Pendidikan Seni Rupa Murni (fine art) masih tetap terpusat di ITB dan UPI untuk pendidikan, sedangkan Desain yang merupakan seni terapan (applied art) menyebar di berbagai perguruan tinggi swasta Bandung seperti di Itenas, STISI, STDI, Unpas, Unikom, Widyatama, dan Maranatha.

Pendidikan Seni Rupa Bandung menggunakan prinsip bahwa seniman adalah pewaris kebudayaan dunia. Definisi kebudayaan Indonesia bersifat terbuka, mereka bukan hanya pewaris kebudayaan tradisional di nusantara tetapi juga kebudayaan dunia lainnya.

Museum pribadi
Bandung yang dalam kancah seni rupa Indonesia memiliki tempat sendiri yang khas, sayang sekali belum memiliki museum seni rupa yang memamerkan karya seniman Bandung untuk khalayak luas. Bandung yang pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika, yang dengan itu seharusnya menjadi kota kelas dunia tampaknya masih kekurangan ikon kebudayaannya, yaitu kehadiran museum seni rupa –khususnya seni rupa mazhab Bandung.

Untunglah beberapa seniman senior Bandung hideng. Melihat pemerintah kota masih kerepotan dengan urusan dasar kota seperti sampah, kemacetan lalu lintas, dan penghijauan, sementara pemprov Jabar baru sanggup membuat GaleriKita di kompleks Kantor Dinas Pariwisata Jabar Jalan R.E. Martadinata (Riau), mereka mendirikan museum pribadi masing-masing yang terbuka untuk umum. Sunaryo mendirikan Selasar Sunaryo di Bukit Pakar Timur Dago, Barli membangun Museum Barli di Jln. Ir. Sutami Setrasari, Popo Iskandar mendirikan Galeri Seni Popo Iskandar di Jln. Setiabudhi Ledeng, Heyi Ma`mun membuat kafe Warung Indung di Riau 66 yang berhiaskan lukisan karyanya, lalu seniman dari generasi ‘70-an, Nyoman Nuarta mendirikan NuArt Sculpture Park di Setrasari.***

Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas
Alumnus S-1 & S-2 Seni Rupa ITB.

——————
dimuat di Khazanah Pikiran Rakyat 22 Desember 2007

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 5 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 8 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Prof Lincolin Arsya... | 9 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 9 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: