Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bu Wi

Berdomisili di Yogyakarta dan bekerja di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1996. Lahir dengan nama selengkapnya

Bunga-bunga di Laboratorium

OPINI | 28 June 2010 | 03:20 Dibaca: 119   Komentar: 3   2

Have fun with science! (foto dokumentasi pribadi)

Have fun with science! (foto dokumentasi pribadi)

Jika Anda ditanya, siapa penemu struktur double-helix DNA, kira-kira apa jawaban Anda? Seandainya Anda tahu ataupun Anda menyempatkan diri googling dulu, kemungkinan besar jawabannya adalah Francis Crick dan James Watson. Kedua pria penerima hadiah Nobel ini memang menjadi selebritis tidak hanya di kalangan ilmuwan tetapi sampai ke luar komunitas ilmiah pula, berkat perumusan struktur DNA yang kemudian membuka jalan bagi ilmu-ilmu biologi molekuler selanjutnya.

Yang tidak banyak orang tahu, bahkan Si Sakti Google pun tidak menyebutkan saat kita masukkan kata kunci “DNA structure” adalah keberadaan orang ketiga yang berperan besar dalam perumusan struktur DNA tersebut. Si ‘misterius’ ini adalah ilmuwan cantik keturunan Inggris-Yahudi bernama Rosalind Franklin (1920-1958).

Rosaling Franklin, perempuan hebat di balik struktur DNA (Foto dari Wikipedia)

Rosalind Franklin, perempuan misterius di balik struktur DNA (foto dari Wikipedia)

Rosalind adalah doktor dengan keahlian di bidang biofisika, biologi, biokimia, dan keterampilan langka untuk melakukan eksperimen difraksi sinar X dan menginterpretasikan hasilnya, yang pada masa itu masih merupakan peralatan yang sangat hi-tech. Crick dan Watson memang jenius dalam hal membuat hipotesis tentang struktur DNA tersebut. Tapi dalam dunia ilmiah, hipotesis tanpa pembuktian sama saja dengan mimpi di siang bolong. Nah, Rosalind-lah yang jungkir-balik di laboratorium untuk memberikan bukti-bukti kuat bagi hipotesis Crick dan Watson.

Dalam publikasi ilmiahnya, Crick dan Watson tidak memberikan apresiasi yang selayaknya pada Rosalind. Pada jaman itu, memang sains sangat diskriminatif pada perempuan. Mereka seakan-akan adalah makhluk tembus pandang, yang karyanya diambil tapi namanya tak pernah disebut. Sampai dengan penganugerahan Nobel pada Crick dan Watson, nama Rosalind seakan terkubur di lab-nya yang gelap. Baru pada tahun 1964 dalam salah satu publikasinya, Watson mengakui kontribusi Rosalind. Mengapa Rosalind tetap tidak memperoleh penghargaan Nobel bahkan setelah kontribusinya diakui? Karena Rosalind keburu meninggal di tahun 1958 akibat kanker ovarium. Hadiah Nobel tidak bisa diberikan pada orang yang sudah mati.

Rosalind bernasib buruk dalam karir sains-nya, hanya karena dia perempuan yang terlahir di awal abad ke-20. Bagaimana nasib para perempuan dalam sains di abad ke 21 ini? Separuh abad setelah era Rosalind? Statistik menunjukkan bahwa dunia sains masih didominasi oleh lelaki. Lihat saja jajaran penerima Nobel. Dominasi pria pada daftar penerima Nobel merupakan indikasi bahwa pada level puncak pencapaian dalam sains, perempuan masih sangat langka.

Hal ini belum tentu karena masih ada diskriminasi kejam seperti yang dialami oleh Rosalind. Yang jelas diakui oleh komunitas peneliti dalam berbagai level di seluruh dunia, pekerjaan sebagai peneliti adalah pekerjaan yang sangat intensif, apalagi kalau mengejar reputasi top di tingkat internasional. Perempuan, yang secara alamiah memiliki ‘tanggung jawab lebih’ sebagai pemelihara keluarga, seringkali tidak bisa sprint terus-menerus sepanjang karir risetnya sebagaimana kolega-kolega pria mereka. Penyeimbangan karir riset dan keluarga adalah problem klasik perempuan-perempuan peneliti di seluruh dunia. Pada level bawah, jumlah perempuan peneliti masih setara dengan jumlah prianya, tapi pada tingkat yang lebih advanced, jumlah perempuan semakin berkurang.

Dari sisi teknis, seperti diilustrasikan dengan sempurna oleh ‘kisah Nobel tak sampai’ si Rosalind tadi, perempuan dikaruniai kelebihan kemampuan fokus pada detail dan ketelatenan yang sangat tinggi. Kedua hal ini adalah modal penting untuk melakukan riset yang memerlukan presisi dan akurasi tinggi di samping kemampuan berpikir out of the box. Jadi sebetulnya, jika pria dan wanita dapat menggabungkan kekuatan-kekuatan alamiah mereka, maka kemajuan ilmu pengetahuan akan menjadi semakin pesat.

Beberapa pihak telah melihat kecenderungan terseok-seoknya perempuan di jalur sains ini, sehingga dilakukan upaya-upaya untuk menyemangati perempuan-perempuan ini supaya tidak keburu meninggalkan gelanggang bahkan sebelum pertarungan yang sesungguhnya dimulai. Maksudnya bukan pertarungan melawan lelaki, tetapi dalam menghadapi tantangan problem-problem masyarakat modern yang semakin kompleks.

Sebuah perusahaan kosmetik besar di dunia, L’Oreal, bekerjasama dengan UNESCO, setiap tahunnya menyelenggarakan kompetisi riset untuk para peneliti perempuan dan science camp dengan kompetisi sains yang lebih sederhana untuk para remaja putri di bangku SMA. Berbeda dengan kebanyakan kompetisi sains yang sangat ‘low profile’ (yang tahu ya cuma komunitas ilmiah saja, yang sering diledek sebagai ‘kutubuku’ oleh para remaja yang merasa dirinya ‘keren’), perusahaan ini juga mempublikasikan para pemenang kompetisi sainsnya di media-media popular, layaknya pemenang Indonesian Idol. Hal ini adalah terobosan yang penting untuk mengubah cara pandang orang awam terhadap sains dan profesi peneliti. Ilmu pengetahuan itu tidak serem, hidup manusia akan jadi lebih mudah dengan ilmu pengetahuan, dan manusia-manusia yang disebut ilmuwan itu asyik juga hidupnya! Lebih penting lagi, orang-orang yang memilih profesi sebagai peneliti ternyata bisa hidup layak … dan bisa jadi top pula, sekalipun mereka tidak pandai bernyanyi ;-)

ABG ternyata tidak hanya tertarik coba-coba lipstik dan maskara, mereka coba-coba di laboratorium juga (foto dokumentasi pribadi)

ABG ternyata tidak hanya tertarik coba-coba lipstik dan maskara, mereka coba-coba di laboratorium juga (foto dokumentasi pribadi)

Main-main air jeruk untuk menyalakan lampu (foto dokumentasi pribadi)

Main-main air jeruk untuk menyalakan lampu (foto dokumentasi pribadi)

Percaya diri berdebat dengan juri (foto dokumentasi pribadi)

Percaya diri berdebat dengan juri (foto dokumentasi pribadi)

Memahami kekayaan alam Indonesia (foto dokumentasi pribadi)

Memahami kekayaan alam Indonesia (foto dokumentasi pribadi)

Cerita tentang impian masa depan (foto dokumentasi pribadi)

Cerita tentang impian masa depan (foto dokumentasi pribadi)

Siapa bilang ilmuwan tidak perlu tampil cantik? (foto dokumentasi pribadi)

Siapa bilang ilmuwan tidak perlu tampil cantik? (foto dokumentasi pribadi)

Media, yang biasanya mengejar artis, kali ini menginterview perempuan-perempuan ilmiah ;-) (foto dokumentasi pribadi)

Media, yang biasanya mengejar artis, kali ini menginterview perempuan-perempuan ilmiah ;-) (foto dokumentasi pribadi)

perikanan, teknik kimia, fisika, dan botani

Para "mantan ABG" di jalur sains, para pemenang For Women in Science L'Oreal, kiri ke kanan: perikanan, teknik kimia, fisika, dan botani (foto dokumentasi pribadi)

Tulisan ini didedikasikan untuk para perempuan ‘nekad’ yang berkarir di jalur sains yang demikian terjal berliku, juga untuk gadis-gadis remaja yang di usia sangat dini sudah jatuh cinta pada sains. Potongan syair “Beautiful Flower”, lagu soul India Arie, pas sekali menggambarkan perempuan-perempuan langka ini.

This is a song for

Every girl who’s

Ever been through something

She thought she couldn’t make it through, yeah

I sing these words because

I was that girl, too

Wanting something better than this

But who do I turn to?

Now we’re moving from the darkness into the light

This is the defining moment of our lives

Cause you’re beautiful

Like a flower

More valuable

Than a diamond

You are powerful

Like a fire

You can heal the world

With your mind and

There is nothing in the world that you cannot do

When you believe in you

Who are beautiful (yeah you)

Who are brilliant (yeah you)

Who are powerful (yeah you)

Who are resilient

This is a song for

Every girl who

Feels that she is not special

Cause she don’t look like a supermodel Coke bottle

The next time the radio tells you

To shake your money-maker

Shake your head and tell them

Tell them you’re a leader

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Main ke Jogja, Mari Mampir ke Youthphoria …

Widioke | | 01 November 2014 | 13:09

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

DIY = Do It Yourself, Cara Membuat Teh …

Gitanyali Ratitia | | 01 November 2014 | 17:24

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | | 01 November 2014 | 19:54


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | 8 jam lalu

I Love My Job and I Love My Small Team …

Adolf Isaac Deda | 9 jam lalu

Pemimpin untuk Kepentingan Bersama dan atau …

Adrian Mamahit | 9 jam lalu

Nangkring “Tokoh Bicara”: Bupati …

Kompasiana | 9 jam lalu

Puisi untuk Pergantianmu …

Salimun Abenanza | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: