Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bang Aswi

Seorang penggila olahraga yang menggemari dunia kepenulisan. Seorang desainer yang mendukung lingkungan tempat tinggalnya kembali selengkapnya

Seorang Ibu yang Menangis

OPINI | 28 June 2010 | 09:18 Dibaca: 122   Komentar: 2   0

Kertas koran itu teronggok. Ia telah lusuh akibat campuran remasan dan airmata. Sedikit bergerak karena terpaan angin dari arah pintu yang terbuka lebar. Pada halaman yang terbuka, sedikit terbaca adanya berita tentang seorang oknum PNS yang tertangkap karena kasus korupsi. Lagi-lagi negara ini telah melahirkan generasi muka badak. Ingin badan besar tapi tak ingin sakit jika dicubit. Mencoba mematikan rasa sensitif di sekujur kulitnya, terutama di daerah wajah.

Sementara di teras, seorang ibu menangis. Airmatanya telah menganaksungai di wajahnya, hingga menetes tepat di bagian bawah dagunya. Tatapannya kosong, padahal pekarangan rumahnya adalah taman yang paling indah di kompleks perumahan itu. Dan jika kamu saat itu berada di dekatnya, jangan kaget kalau menyentuh kulitnya adalah seperti kamu membuka pintu lemari es dan membiarkan hawa di dalamnya menyebar ke kulitmu. Begitu dingin!

Koran yang lusuh itu adalah hasil perbuatannya. Tak lebih dari setengah jam yang lalu ia begitu bersemangat membaca koran, sama semangatnya setiap hari saat membuka lembaran demi lembaran koran langganannya. Itulah pekerjaan yang bisa dilakukannya untuk mengisi hari-harinya yang semakin senja. Dan koran itu pun lusuh, saat ia mengetahui kalau oknum PNS yang dimaksud adalah anaknya. Anak tersayangnya.

Seorang ibu menangis. Namun ia tidak menangisi kelakuan anaknya yang sudah pasti mencoreng-moreng keluarga besarnya. Biarlah itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Toh, ia bukan saja sudah baligh, tetapi juga sudah menjadi kepala keluarga di rumah tangganya sendiri. Sudah punya dosa yang harus ditanggung sendiri. Ia menangisi dirinya sendiri.

Ya, seorang ibu menangis karena dirinya sendiri. Ia seperti tersadar bahwa anaknya bisa seperti itu karena kelakuan dirinya sendiri. Ia sendiri yang telah membentuk anaknya menjadi seperti itu, melalui pendidikan sekolah yang tidak berkah. Seorang ibu menangis, saat ia melihat dirinya sendiri sedang mengantar anaknya masuk ke SD favorit. Ia menyuap pihak sekolah agar anaknya bisa masuk dengan selamat. Ia pun melakukannya lagi saat anaknya masuk ke SMP, SMU, dan perguruan tinggi favorit. Dan pada akhirnya, ia pun hanya bisa menangis.[]

Bang Aswi (28 Juni 2010)
Sebuah doa untuk anakku, Bintan, yang akan menapaki lingkungan baru di sebuah tempat bernama Sekolah Dasar. Semoga pendidikanmu berkah, Nak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 8 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 8 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 18 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: