Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hendra Sugiantoro

MENGALIR BUKAN AIR: Percikan Spirit Hidup

Pelajar dan Kebiasaan Membaca

OPINI | 29 June 2010 | 09:30 Dibaca: 128   Komentar: 0   0

BETAPA menggembirakan ketika menyaksikan siswa-siswa pelajar berkunjung ke perpustakaan. Tidak sekadar di perpustakaan sekolah, tapi juga mengunjungi perpustakaan kota/kabupaten dan perpustakaan daerah. Mereka mendaftar dan kemudian menjadi anggota perpustakaan. Di luar jam pelajaran sekolah, mereka begitu asyik mencari buku dan mencoba membacanya.

Fenomena tersebut patut kita syukuri. Kesadaran membaca dengan mengunjungi perpustakaan boleh jadi membutuhkan penanaman sikap dan perilaku. Tak banyak pelajar yang membiasakan diri berkunjung ke perpustakaan. Kadangkala pelajar itu datang ke perpustakaan dengan gurunya.

Yang jelas, kebiasaan membaca adalah perilaku positif yang semestinya bisa terinternalisasi pada diri pelajar. Perlu ditanamkan pada pelajar akan pentingnya membaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Buku atau bahan bacaan tidak sekadar menguatkan sisi intelektual, tapi juga dapat mengasah sisi afektif dan nurani pelajar. Amat berbeda perilaku pelajar yang suka membaca dengan pelajar yang tidak suka membaca. Kedewasaan berpikir dan bertindak salah satunya terbentuk dari kebiasaan membaca. Tentunya, membaca bahan bacaan yang bergizi.

Menjadi tugas guru agar bisa menyemangati pelajar untuk senang membaca. Membaca adalah hal positif. Tidak hanya membaca buku-buku teks pelajaran, tapi juga membaca buku-buku lainnya. Pelajar bisa mengatur waktunya selama 24 jam sehari. Dari 24 jam itu, pelajar bisa menjadwal kegiatan membaca, misalnya sehari membaca 1-3 jam. Pelajar tentu masih bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Ada waktu yang digunakan untuk mengkaji dan membaca buku-buku pelajaran sekolah, ada waktu yang dialokasikan untuk membaca buku dan bahan bacaan di luar mata pelajaran sekolah.

Kebiasaan membaca yang telah tertanam tentu akan berdampak baik. Membaca bahan bacaan dan buku tentu lebih bermanfaat bagi pelajar ketimbang waktunya dihabiskan di depan televisi yang cenderung kurang edukatif. Ada wawasan didapatkan, ada pengetahuan diperoleh, bahkan ada kebijaksanaan yang tertanam melalui buku-buku yang dibaca.

Ada tugas penting agar perpustakaan menjadi tempat tamasya mengasyikkan bagi pelajar. Di rumah, orang tua juga memberi teladan membaca. Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro

Koordinator Forum Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Main ke Jogja, Mari Mampir ke Youthphoria …

Widioke | | 01 November 2014 | 13:09

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Serunya Workshop Hijab Mazaya di Trans …

Efii Fitriyyah | | 01 November 2014 | 18:00

DIY = Do It Yourself, Cara Membuat Teh …

Gitanyali Ratitia | | 01 November 2014 | 17:24

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | | 01 November 2014 | 19:54


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | 8 jam lalu

I Love My Job and I Love My Small Team …

Adolf Isaac Deda | 9 jam lalu

Pemimpin untuk Kepentingan Bersama dan atau …

Adrian Mamahit | 9 jam lalu

Nangkring “Tokoh Bicara”: Bupati …

Kompasiana | 9 jam lalu

Puisi untuk Pergantianmu …

Salimun Abenanza | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: