Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Imansyah Rukka

Jurnalis Majalah TROBOS & Aktivis Petani,

Kisah Teladan Orang-Orang Ikhlas

OPINI | 07 July 2010 | 01:08 Dibaca: 5393   Komentar: 20   7

Ditengah kehidupan yang serba kompleks ini ternyata masih ada orang-orang yang mempunyai keikhlasan yang luar biasa. Hal itu ditunjukkan dalam bentuk memberikan kepeduliannya kepada orang lain disaat orang lain sangat membutuhkan sebuah pertolongan. Sebut saja Ibu Nyami yang dalam kesehariannya hanya bisa mengais rezeki dari pagi hingga sore hari sebagai seorang pemulung jalanan yang ditemani oleh anaknya yang masih kecil dan sebuah gerobak tua. Siapa sangka dan siapa duga ia telah memberikan yang contoh terbaik dalam hidupnya ketika ia dipertemukan sengan seorang Ibu Tua sebayanya yang meminta tolong padanya agar membeli bunga kamboja seharga 30.000 rupiah dari Ibu Tua itu demi untuk membayar keperluan uang sekolah anaknya.

Lain pula halnya dengan Pak Roni yang kesehariannya hanya sebagai seorang pedagang buku gambar, buku cerita anak-anak, yang mengalami cacat fisik itu yakni kakinya yang puntung sebelah dengan semangatnya yang besar berkeliling kota Semarang hanya untuk berjuang hidup. Juga telah memberikan nilai-nilai keteladanan yakni keikhlasan yang begitu besar dalam hidupnya. Ketika Ia bertemu dengan seorang anak perempuan yang ingin menjual botol loakan padanya seharga 20.000 rupiah untuk membeli pakaian sekolah. Pak Roni menanyakan anak itu untuk apa ia menjual botol itu. Anak itu menjawab bahwa untuk membeli pakaian sekolah. Pak Roni pun merogoh kantongnya dan mengeluarkan semua uang yang di dapatnya itu. Lalu memberikan kepada anak itu.

Melihat dua kisah diatas yang di alami oleh Ibu Nyami dan Pak Roni bagi saya adalah sebuah kisah yang sangat mengharukan sekaligus menggelitik kita semua. Bahwa ternyata dalam kehidupan ini, khususnya di kota-kota besar masih ada sosok seperti Ibu Nyami dan Pak Roni yang punya kepedulian yang begitu besar kepada orang lain. Padahal pekerjaan yang ia jalani setiap harinya itu boleh di bilang masih jauh dari cukup atau pas-pasan. Apakah karena Ibu Nyami dan Pak Roni selalu ikhlas dalam menjalani hidup ini dan mensyukuri dengan apa yang mereka dapatkan dari hasil pekerjaaannya. Itu masalah lain. Namun, aktiualisasi nilai-nilai keikhlasan telah ia wujudkan dalam laku kehidupannya sehari-hari.

Jika ditelisik lebih jauh lagi, Ibu Nyami dan Pak Roni telah memahami persis apa arti sebuah keikhlasan dalam kehidupan ini. Baginya, hidup yang sementara ini ia manifestaskan dengan berbuat baik kepada orang lain. Hanya itu saja yang ada dalam benak mereka. Tidak ada yang lain. Selebihnya bagi mereka, tetap terus berjuang mengadu nasib untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Semua urusan itu ia serahkan kepada Tuhan. Manusia hanya bisa bergerak dan berikhtiar, Tuhan yang memberikan jawabannya dalam bentuk apa saja. Buktinya, mereka masih bisa bersyukur dengan apa yang di jalankannya itu sebagai anugrah Tuhan. Ia masih bisa mendapatkan rezeki setiap hari untuk bisa bertahan hidup.

Kisah-kisah keteladanan ini adalah merupakan sebuah gambaran pada kita semua bahwa itulah salah satu makna hidup manusia dalam dirinya. Yang menununtun dan membawanya ke dalam sebuah tuntunan kemuliaan. Ditengah semakin sulitnya kepekaan-kepekaan manusia kepada sesama. Memberikan sebuah contoh kisah keteladanan yang statusnya hanyalah sebagai seorang yang selama ini kita pandang sebelah mata, namun kenyataannya ia telah memberikan sebuah nilai-nilai keikhlasan dalam hidup ini. Suatu bukti bahwa status manusia seperti pangkat, jabatan, golongan, pendidikan, bukanlah segalanya dalam hidup ini. Yang segalanya adalah bagaimana mem-fungsikan “rasa” kepekaan kita dalam kehidupan ini. Karena dalam “rasa” itu sebenarnya disitulah sifat-sifat Tuhan selalu bersemayam.

Kisah cerita nyata ini saya angkat dari sebuah  acara “minta tolong” di RCTI.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 6 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 11 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 12 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 14 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengaruh Millieu Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Aku Pelari, Maka Aku Trendi …

Vita Sophia Dini | 8 jam lalu

Akankah El Clasico Ke 230 Menggenapkan …

Nino Histiraludin | 8 jam lalu

Kerja Perdana: Jadi Perawat Klinik di Banda …

Rinta Wulandari | 9 jam lalu

Intip Buku Kedua, Minggu, 26 Oktober 2014 …

Wijaya Kusumah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: