Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Devi Purnama

A mom with 2 kids, living in a suburb in Jakarta.

Peraturan Sekolah

OPINI | 14 July 2010 | 12:27 Dibaca: 178   Komentar: 8   0

Kemarin sore, ketika aku sedang dzikir swhabis shalat maghrib..tiba2 :”brak…!…brak…!!! lalu :”buk…buk…buk…!!! malaikatku pulang Bimbel banting pintu dan banting2 kaki…marah…

Selesai shalat Isya aku dekati dia, dan bertanya:”ada apa sayang..pulang2 kok marah2?”

“Ade gak ngerti mam…kenapa sih skul harus urusin rambut..?”Ohhh..aku mengerti, pasti dia ditegur gurunya ruk mencukur rambutnyakarena mungkin dianggap terlalu panjang…

Aku bilang padanya memang ada aturan soal rambut, disekolah tak boleh lebih dr kerah kemejanya..Jawabnya adalah :” ya ..aturan itu gak lucu sama sekali..harus dicabut…kenapa gak urusin kepala Ade aja…urusin gimana bikin Ade tambah pintar, katanya..bhukan urusin rambut Ade, katanya..

Lalu saya bilang bahwa dia kelihatan lebih ganteng kalau rambutnya pendek..eh, dia malah bilang..emang ade gak boleh punya gaya sendiri..??

Aku jadi ingat sekitar 7 tahun yl, ada anakĀ  kls 3 smu tetangga saya yang kecelakaan, hamil dan…langsung dikeluarkan dari sekolah..Pada saat itu saya sangat gusar dan marah dg peraturan itu…OK, anak itu memang salah…tapi apakah kesalahan itu patut di hukum dg menutup masa depannya? Dan, apakah orang2 dewasa disekitar anak itu, dan para guru juga tidak ikut merasa bersalah membiarkan kecelakaan itu terjadi…Ingat peribahasa..It needs a whole village to create a man from a boy…kurang lebih begitulah…bagaimana masa depan anak perempuan itu dan anaknya kelak.krn pasangannya jelas kemudian menghilang..

1.Anak saya yg ingin diperbolejkan gondrong jelas ingin memperlihatkan jati dirinya, ingin memperlihatkan bahwa dia sdh dewasa dan punya keinginan sendiri…bukankah kita harus menghormatinya? dan mengawalnya agar dia tidak berlebihan? jangan sampai dia benci dan bingung dengan institusi sekolah…JanganĀ  sampai anak2 berfikir bahwa sekolah adalah penjara..

2.Anak gadis yg hamil itu…ok, dia salah…tapi dia berhak memperbaiki dirinya dg merawat bayi yg akan dilahirkannya sehingga dia tidak harus menambah dosa dengan menggugurkan kandungan, misalnya…Bila dia dikeluarkan ari sekolah, padahal hanya tinggal beberapa bulan lagi dia lulus smu…bagaimana dia akan merawat anaknya dan dirinya sendiri dengan ijazah smp?

Berilah dia kesempatan tuk memperbaiki kesalashannya, jangan malah semakin mendorongnya kejurang..Tuh semua orang berbuat salah, dan semua orang berhak memperbaiki kesalahannya..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: