Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Machrus Muafi

Navyk (baca: nafi’) berasal dari bahasa arab Nafi’ yang artinya bermanfaat. Saya lebih suka dipanggil selengkapnya

Berternak Musang

OPINI | 19 July 2010 | 10:34 Dibaca: 656   Komentar: 2   0

“Aku ini berternak ayam atau  musang?” kata Uconk, bos saya sambil terbahak. Menenteng tas punggung dan duduk di samping saya. Langsung bercerita tentang tujuh dari sepuluh anak ayam yang baru dibelinya, habis dimakan musang. Dirinya tidak berkeluh kesah. Ia belajar banyak.

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di halaman belakang rumahnya yang luas. Saya kurang tahu pasti ukurannya. Dua anaknya punya kolam renang pribadi, meski hanya dari batako yang ditutupi terpal. Berbagai jenis ikan dipelihara di beberapa kolam. Terakhir ia ingin memelihara ayam. 10 ayam itu dibelinya. Tiap sore ayam-ayam itu dikandangkan.

Musang sepertinya dapat menu baru. Hewan itu masih banyak  itu berkeliaran. Tiap malam musang berpesta, satu ayam pasti jadi korban di kandang. Itu berlangsung beberapa malam. “Gubrak!” Uconk yang saat itu masih bekerja di depan laptopnya, lari ke kandang ayam. Depan matanya seekor musang asyik memangsa ayam.“Kepalanya putus, kayak disembelih. Jangan-jangan musangnya juga baca bismillah juga,” ceritanya sembari terbahak.

Sambil menyeruput kopi buatan Soleh, office boy kantor kami, ia melanjutkan cerita. Tanpa senyum dan tawa. “Aku sadar karena aku tidak memelihara ayamku dengan baik, seharusnya aku tiap pagi memberi makan dan memerhatikan mereka. Aku biasa bangun siang dan langsung ngantor,” tutur dia. “Seharusnya saat ayam kedua atau ketiga aku sadar bahwa ayam tidak bisa lari saat di kandang. Ini menunggu tujuh untuk menyadarkanku,” tambahnya.

Sejak saat itu, tiga ayam yang tersisa tidak ia kandangkan. Tiap sore ayam-ayam itu mencari tempat paling aman di dahan-dahan pohon. “Mereka survive, apalagi ada satu ayam jago. Kalau ayam jago itu dimakan musang aku sembelih semua ayamku. Buat apa, mereka tidak bisa berkembang biak,” tegasnya.  Sejak saat itu juga ia tiap pagi memberi ayamnya. “Sesuatu yang dirawat sungguh-sungguh itu pasti bertumbuh, Vyk. Dalam hal apapun,” kata dia kepada saya.

Saya mengamini hal itu. Membuat atau membeli sesuatu itu mudah, merawatnya itu yang jauh lebih sulit.

Ssst, barusan ia cerita. Ayamnya bertelur enam butir.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pacitan - Beach of Glory …

Pradhany Widityan | | 26 March 2015 | 16:26

Belajar dari Penerapan BVKS Jepang bagi …

Gelora | | 26 March 2015 | 17:30

Ngefans Sih Ngefans, Tapi Mbok Ya …

Isti | | 26 March 2015 | 22:00

Berziarah ke Masjid Terindah di Dunia …

Mukti Ali | | 26 March 2015 | 18:45

Daftar dan Tonton KompasianaTV di …

Kompasiana | | 13 February 2015 | 14:17


TRENDING ARTICLES

Co-Pilot Bunuh Diri, Inilah Penyebab …

Della Anna | 5 jam lalu

Kenapa Justru Sopir TransJakarta Itu yang …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Menjadi Perawan Tua atau Istri Muda …

Dinda Kirana | 7 jam lalu

Pamali Ahok Tertohok dan Denny Indrayana …

Pebriano Bagindo | 8 jam lalu

Resmi Cerai, Rieke Diah Pitaloka Ramai …

Hasto Suprayogo | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: