Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Machrus Muafi

Navyk (baca: nafi’) berasal dari bahasa arab Nafi’ yang artinya bermanfaat. Saya lebih suka dipanggil selengkapnya

Berternak Musang

OPINI | 19 July 2010 | 10:34 Dibaca: 622   Komentar: 2   0

“Aku ini berternak ayam atau  musang?” kata Uconk, bos saya sambil terbahak. Menenteng tas punggung dan duduk di samping saya. Langsung bercerita tentang tujuh dari sepuluh anak ayam yang baru dibelinya, habis dimakan musang. Dirinya tidak berkeluh kesah. Ia belajar banyak.

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di halaman belakang rumahnya yang luas. Saya kurang tahu pasti ukurannya. Dua anaknya punya kolam renang pribadi, meski hanya dari batako yang ditutupi terpal. Berbagai jenis ikan dipelihara di beberapa kolam. Terakhir ia ingin memelihara ayam. 10 ayam itu dibelinya. Tiap sore ayam-ayam itu dikandangkan.

Musang sepertinya dapat menu baru. Hewan itu masih banyak  itu berkeliaran. Tiap malam musang berpesta, satu ayam pasti jadi korban di kandang. Itu berlangsung beberapa malam. “Gubrak!” Uconk yang saat itu masih bekerja di depan laptopnya, lari ke kandang ayam. Depan matanya seekor musang asyik memangsa ayam.“Kepalanya putus, kayak disembelih. Jangan-jangan musangnya juga baca bismillah juga,” ceritanya sembari terbahak.

Sambil menyeruput kopi buatan Soleh, office boy kantor kami, ia melanjutkan cerita. Tanpa senyum dan tawa. “Aku sadar karena aku tidak memelihara ayamku dengan baik, seharusnya aku tiap pagi memberi makan dan memerhatikan mereka. Aku biasa bangun siang dan langsung ngantor,” tutur dia. “Seharusnya saat ayam kedua atau ketiga aku sadar bahwa ayam tidak bisa lari saat di kandang. Ini menunggu tujuh untuk menyadarkanku,” tambahnya.

Sejak saat itu, tiga ayam yang tersisa tidak ia kandangkan. Tiap sore ayam-ayam itu mencari tempat paling aman di dahan-dahan pohon. “Mereka survive, apalagi ada satu ayam jago. Kalau ayam jago itu dimakan musang aku sembelih semua ayamku. Buat apa, mereka tidak bisa berkembang biak,” tegasnya.  Sejak saat itu juga ia tiap pagi memberi ayamnya. “Sesuatu yang dirawat sungguh-sungguh itu pasti bertumbuh, Vyk. Dalam hal apapun,” kata dia kepada saya.

Saya mengamini hal itu. Membuat atau membeli sesuatu itu mudah, merawatnya itu yang jauh lebih sulit.

Ssst, barusan ia cerita. Ayamnya bertelur enam butir.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 11 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 11 jam lalu

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Bait Rindu untuk Bapak …

Rizko Handoko | 7 jam lalu

PKB Inisiasi Aksi Walk Out di Sidang …

Nada Dwinov | 8 jam lalu

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri …

Odios Arminto | 8 jam lalu

Titik Pijat untuk Masuk Angin …

Radixx Nugraha | 8 jam lalu

Harapan Muhaimin Iskanddar Kandas …

Agus Salim | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: