Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Machrus Muafi

Navyk (baca: nafi’) berasal dari bahasa arab Nafi’ yang artinya bermanfaat. Saya lebih suka dipanggil selengkapnya

Berternak Musang

OPINI | 19 July 2010 | 10:34 Dibaca: 620   Komentar: 2   0

“Aku ini berternak ayam atau  musang?” kata Uconk, bos saya sambil terbahak. Menenteng tas punggung dan duduk di samping saya. Langsung bercerita tentang tujuh dari sepuluh anak ayam yang baru dibelinya, habis dimakan musang. Dirinya tidak berkeluh kesah. Ia belajar banyak.

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di halaman belakang rumahnya yang luas. Saya kurang tahu pasti ukurannya. Dua anaknya punya kolam renang pribadi, meski hanya dari batako yang ditutupi terpal. Berbagai jenis ikan dipelihara di beberapa kolam. Terakhir ia ingin memelihara ayam. 10 ayam itu dibelinya. Tiap sore ayam-ayam itu dikandangkan.

Musang sepertinya dapat menu baru. Hewan itu masih banyak  itu berkeliaran. Tiap malam musang berpesta, satu ayam pasti jadi korban di kandang. Itu berlangsung beberapa malam. “Gubrak!” Uconk yang saat itu masih bekerja di depan laptopnya, lari ke kandang ayam. Depan matanya seekor musang asyik memangsa ayam.“Kepalanya putus, kayak disembelih. Jangan-jangan musangnya juga baca bismillah juga,” ceritanya sembari terbahak.

Sambil menyeruput kopi buatan Soleh, office boy kantor kami, ia melanjutkan cerita. Tanpa senyum dan tawa. “Aku sadar karena aku tidak memelihara ayamku dengan baik, seharusnya aku tiap pagi memberi makan dan memerhatikan mereka. Aku biasa bangun siang dan langsung ngantor,” tutur dia. “Seharusnya saat ayam kedua atau ketiga aku sadar bahwa ayam tidak bisa lari saat di kandang. Ini menunggu tujuh untuk menyadarkanku,” tambahnya.

Sejak saat itu, tiga ayam yang tersisa tidak ia kandangkan. Tiap sore ayam-ayam itu mencari tempat paling aman di dahan-dahan pohon. “Mereka survive, apalagi ada satu ayam jago. Kalau ayam jago itu dimakan musang aku sembelih semua ayamku. Buat apa, mereka tidak bisa berkembang biak,” tegasnya.  Sejak saat itu juga ia tiap pagi memberi ayamnya. “Sesuatu yang dirawat sungguh-sungguh itu pasti bertumbuh, Vyk. Dalam hal apapun,” kata dia kepada saya.

Saya mengamini hal itu. Membuat atau membeli sesuatu itu mudah, merawatnya itu yang jauh lebih sulit.

Ssst, barusan ia cerita. Ayamnya bertelur enam butir.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 6 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 7 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Usia 30 Batas Terbaik Untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 7 jam lalu

Sepenggal Cerita dari Takabonerate Islands …

Hakim Makassar | 7 jam lalu

Demokrat Dukung Pilkadasung, PKS Kebakaran …

Revaputra Sugito | 7 jam lalu

4,6 Juta Balita Gizi Buruk-Kurang di …

Didik Budijanto | 7 jam lalu

‘Belgian Waffles’, Menggoyang …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: