Artikel

Edukasi

Asrilla Noor

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Perempuan biasa yang ingin berbagi gagasan dengan dunia. Tulisan saya yang lain bisa dilihat di www.zairahaes.wordpress.com dan www.rumahbangsa.wordpress.com. Salam ! Asrillanoor

Internet, HP dan TV


OPINI | 21 July 2010 | 17:11 Dibaca: 45   Komentar: 0   Nihil

…dari salah satu milis : maraknya game porno anak-anak…….

Kenyataan yang memprihatinkan.  Alvin dan Heidi Toffler, jauh-jauh di tahun 1970 sudah meneriakkan krisis yang akan terjadi akibat teknologi dan industri gelombang kedua. Salah satunya kerusakan moral akibat akses bablas teknologi. Sehingga salah satu himbauannya adalah : Kembalikan fungsi rumah sebagai wahana kegiatan utama bagi keluarga.

Siapa yang bisa mengontrol tayangan hari ini ? Siapa yang bisa mengendalikan anak-anak kita berinteraksi dan mengakses informasi dari luar rumah ? Internet, HP dan TV merupakan akses informasi tak berbatas yang bisa “dikunyah” oleh siapa saja. Lintas jenjang, lintas usia. Segala perundang-undangan yang membatasi akses menuju dunia maya sangat sulit diterapkan karena sistem kendali secara nasional tidak jalan. Apakah ada pihak yang bisa menghentikan menjamurnya kedai-kedai playstation dan warnet di mana-mana ? Apakah ada batasan usia pengguna jasa internet, hp dan TV ? Saya kira sampai hari ini tidak ada satu lembaga resmi maupun tidak resmi yang mampu menghalau anak-anak berusia dini mengakses internet, hp dan TV. Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan ?

Bagi saya, simbol dan wahana penting yang selama ini mulai dilupakan orang harus diberdayakan kembali. Namanya KELUARGA. Masyarakat industri dikondisikan menggeser seluruh aktivitas dari domain domestik ke domain publik, dari rumah keluar. Anak-anak dikirim ke sekolah-sekolah mahal (sekarang trendnya fullday) dan orang tua “pasrah bongko’an” dengan sistem yang diterapkan di sekolah-sekolah. Perawatan kesehatan bulat-bulat diberikan kepada pihak rumah sakit, cafe dan diskotik jadi tempat hiburan, dan hampir seluruh fasilitas keluarga sekarang berada di ranah publik.

Kapan lagi, seorang ayah bermain gitar sambil mendengarkan anak dan istrinya ikut bernyanyi ? Kapan lagi ayah dan ibu memeriksa pekerjaan rumah anak dan ikut berdiskusi menyelesaikan masalah dan bukan mengirim anak ke tempat les ketika nilai anak-anaknya menurun ? Momen yang sekarang sangat jarang ditemukan karena pendidikan di dalam keluargapun sudah dirampas oleh dunia industri. Sadarkah kita, bahwa selama ini kehidupan kita sudah dikondisikan (dikodekan) oleh produk-produk industri sehingga nilai-nilai kehidupan keluarga menjadi tidak bernilai lagi. Padahal penanaman nilai-nilai kehidupan keluarga merupakan akar pembentukan pribadi yang matang. Internalisasi nilai-nilai moral awal muncul di dalam keluarga.

Kita mungkin bisa meyakinkan diri, apabila proses internalisasi nilai-nilai moral berjalan di dalam keluarga, maka beranikanlah diri untuk menghadapi peradaban. Karena yakin bahwa kendali dan pengawasan ada di tangan kita sendiri. Buka mata, buka telinga dan buka hati. Mungkin kita bisa menjadi teladan buat anak-anak kita. Menanam suatu kebaikan, akan menuai buah kebaikan pula.

Tapi bila kita tidak lagi peduli, maka jangan heran bila kita mendengar hati kita berteriak karena sadar bahwa hidup kita sudah tergerus oleh zaman.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: