
Perempuan biasa yang ingin berbagi gagasan dengan dunia. Tulisan saya yang lain bisa dilihat di www.zairahaes.wordpress.com dan www.rumahbangsa.wordpress.com. Salam ! Asrillanoor
Dibaca: 861
Komentar: 1
Nihil
Keluarga sebagai merupakan institusi sosial terkecil yang membentuk masyarakat yang lebih besar. Dari keluargalah tumbuh generasi muda yang akan meneruskan pembangunan bangsa. Dari keluarga pulalah sesungguhnya pendidikan karakter pertama kali didapatkan. Ki Hajar Dewantara mengatakan mendidik anak adalah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita sekarang adalah buah dari pendidikan yang diterima dari orang tua kita pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada saat ini kita didik, akan menjadi warganegara kita kelak. Begitulah, sesungguhnya pendidikan dalam keluarga adalah dasar dari pendidikan karakter bangsa. Namun sejalan dengan kemajuan zaman dan teknologi, hampir seluruh kegiatan ekonomi pada periode industrialisasi digeser ke ruang publik. Manusia semakin sibuk di dalam ruang publik dan kehilangan waktu untuk mengurusi persoalan domestik termasuk pendidikan bagi keluarga khususnya anak. Hampir semua bentuk pendidikan digeser ke wilayah pendidikan formal bernama sekolah yang bahkan sudah dimulai sejak anak masih berusia sangat dini yang sesungguhnya lebih membutuhkan keberadaan keluarganya ketimbang sekolah. Berikut adalah liputan salah satu media cetak yang menyoroti persoalan pendidikan bagi anak.
SOROWAKO–Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter Divisi dari Indonesia Heritage Foundation, Dewi Utama Faizah mengimbau agar anak-anak jangan dikarbit. Sebab, ada kecenderungan orang tua menginginkan anaknya untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah, sehingga muncullah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa.
Namun, dikhawatirkan ada ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidatahuannya, ujar Dewi Utama Faizah sebagai pembicara tunggal dalam Seminar Pendidikan Early Ripe Early Rote (Anak-anak Karbitan) di Gedung Ontaeluwu, Sorowako,Rabu.
Seminar yang dihadiri ratusan ibu-ibu ini diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Inco (IKI) untuk memberikan wawasan dan pengetahuan terutama bagi ibu-ibu dalam mendidik anak-anaknya. Dalam seminar ini, Dewi banyak memberikan tips bagaimana mendidik anak sehingga terhindar sebagai anak-anak karbitan.
Menurut Dewi yang juga bekerja di Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional, banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tapi tidak menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.
“Harapan yang berlebihan, tekanan dari orang tua yang bertubi-tubi membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi miniatur orang dewasa. Di sisi lain media massa merangsang anak untuk cepat mekar seperti program TV yang tak pantas ditonton, yang memicu perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.” katanya.
Akibatnya kelak dapat menimbulkan gangguan kepribadian dan emosi pada anak Ketika menjadi dewasa, mereka menjadi dewasa yang kekanak-kanakan. Idealnya, anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. “Percayalah anak yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Setiap anak memilik potensi yang hebat, berbeda dan unik,” ujar Dewi. ant/ahi
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/95165/Anak_anak_Jangan_Dikarbit.
Masyarakat dewasa ini memiliki kecenderungan memberikan pendidikan yang unggul secara kognitif tapi mengesampingkan pendidikan karakter bagi anak. Sayangnya, industri pendidikan bukannya mengarahkan pada “jalan yang benar” namun sebaliknya justru memanfaatkan tren ini untuk kepentingan industri. Bila kita melihat ke masa lalu sebelum revolusi industri ataupun bahkan hingga hari ini pola hidup tradisional patembayan masih dijalani oleh masyarakat yang jauh dari peradaban industri, anggota keluarga berjumlah besar dan kehidupan berlangsung di sekitar rumah. Rumah adalah tempat kerja berlangsung. Si sakit dan orang-orang lanjut usia dirawat dan anak-anak dididik. Rumah adalah pusat hiburan keluarga. Dalam masyarakat sebelum revolusi industri bahkan masyarakat tradisional patembayan yang jauh dari pengaruh modernisasi industri, keluarga adalah pusat semesta sosial. Menurunnya peran keluarga sebagai sebuah institusi yang kuat dimulai ketika revolusi industri dan modernisasi industri memangkas semua fungsi keluarga. Kerja berpindah ke pabrik dan kantor. Rumah sakit menjadi sentral bisnis kesehatan. Sekolah menjadi prestis pendidikan yang diformalkan oleh negara. Bahkan orang-orang tua dikirim ke panti jompo. Ketika semua tugas keluarga tidak lagi diperankan oleh keluarga inti dan digeser ke ruang publik, yang terjandi kemudian adalah anggota-anggotanya tidak mampu lagi menunjukkan fungsinya sebagai sebuah unit, ikatan psikologis sangat mudah rapuh. Padahal kita semua menyadari bahwa keluargalah yang membangun pondasi utama karakter bangsa.
Kekeliruan paradigma hidup dunia industri ternyata mendapat ”perlawanan” dari sebagian masyarakat yang menyadari kesalahan ini. Alvin dan Heidi Toffler mengatakan bahwa masyarakat Gelombang Ketiga memberdayakan kembali rumah dan keluarga. Menghidupkan kembali fungsi-fungsi yang hilang dan kembali membangun rumah sebagai pusat bagi masyarakat. Dalam sisi pendidikan keluarga terdapat sistematika baru yang lebih terstruktur dibandingkan periode sebelumnya. Fenomena sekolah rumah atau yang terkenal dengan tren homeschooling adalah salah satunya. Namun, pendidikan keluarga tidaklah sekedar sekolah rumah yang me-nonformalkan lembaga sekolah dan membawa kontennya ke dalam rumah. Lebih dari itu, pendidikan keluarga adalah pembinaan dan pendidikan keluarga secara utuh sejak dua orang dipersatukan sebagai suami istri dan menjalankan fungsi sebagai keluarga. Penguatan pendidikan keluarga terletak pada interaksi dan komunikasi antara setiap anggota keluarga dalam membangun paradigma dan kehidupan yang lebih baik. Bila guru merupakan ujung tombak pendidik di sekolah, maka di rumah orang tua berperan sebagai ujung tombak pendidik anak-anaknya. Dengan kata lain, orang tua pendidik sekaligus menjadi role model bagi keluarganya. Oleh karena itu, orang tua mempunyai tugas untuk belajar terus menerus dan mengikuti perkembangan zaman agar dapat memberikan bekal yang memadai bagi anak-anaknya. Poin terpenting yang harus diletakkan oleh orang tua dalam menerapkan pendidikan keluarga adalah penerapan nilai-nilai budi pekerti.
Menurut Ki Hajar Dewantara, budi pekerti, watak atau karakter itulah bersatunya gerak fikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang lalu menimbulkan tenaga. Dengan adanya budi pekerti tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka, yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah esensi manusia yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.
Biasanya, pendidikan yang terjadi di dalam keluarga yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya bersandar pada cara kebiasaan atau tradisi dan seringkali amat dipengaruhi oleh perasaan yang kurang stabil. Oleh karena itu orang tua harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup dalam menerapkan pendidikan dalam keluarganya.Pendidikan yang teratur merupakan pendidikan yang bersandar pada pengetahuan. Itulah sebabnya, orang tua pendidik merupakan orang tua pembelajar karena mereka harus terus menerus mengasah kemampuan dan pemahaman terhadap dirinya dan keluarganya dan meletakkan paradigma berpikir yang benar bagi anak-anaknya. Dan ilmu yang paling penting harus dikuasai oleh para orang tua pendidik adalah ilmu pendidikan.
Apapun sebutannya, pendidikan ditujukan untuk perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik dan orang yang terdidik adalah orang yang mampu mengambil kebermanfaatan kehidupan bagi dirinya dan lingkungannya.
Perempuan Dan Pendidikan Keluarga
”Ibu Cerdas, Keluarga Sejahtera”. Mungkin jargon ini yang hendak penulis hantarkan dalam paparan berikut ini. Keluarga yang berorientasi pada pendidikan keluarga mutlak memiliki ibu yang cerdas. Mengapa ? Karena ibu tetap memegang peranan teramat penting bagi pola asuh dan pola didik anaknya, sekalipun ibu juga berkarya di ruang publik.
Dari zaman dahulu hingga saat ini, perempuan secara dominan memegang pengaturan keluarga. Termasuk mendidik anak-anaknya. Dapat dibayangkan bila perempuan yang berperan sebagai ibu tidak cukup memiliki pengetahuan dan pemahaman mendidik anak maka dapat dibayangkan generasi seperti apa yang akan tumbuh dan lahir sebagai generasi penerus bangsa. Perempuan mutlak dibekali pengatahuan dan keterampilan untuk mendidik keluarganya, karena ib merupakan ujung tombak utama dan pertama dalam mendidik seorang anak manusia. Sejak seorang anak dilahirkan maka tangan pertama yang ”mengajarkan” bayi untuk mengenal manusia adalah ibunya.
Salah satu faktor keberhasilan Jepang sebagai negara maju adalah peran ibu. Di Jepang, perempuan harus menuntut pendidikan tinggi, namun setelah menikah dan memiliki anak maka mereka wajib mendidik anak-anak mereka dan sebagian besar mengorbankan karirnya untuk mendidik generasi berikutnya sebagai manusia-manusia unggul dan mereka sangat berhasil. Ibu-ibu mereka mengajarkan bagaimana menghormati orang lain, cara makan yang sopan, cara berpakaian, cara berbicara dengan orang lain dan segala hal yang dibutuhkan oleh seorang anak yang hendak melangkah ke dunia yang lebih kompetitif. Bandingkan dengan ibu-ibu di Indonesia yang mungkin sangat sedikit yang dapat mengakses pendidikan tinggi. Akibatnya, kemampuan dan pengetahuan yang kurang tidak mampu melahirkan generasi unggul. Oleh karena itu, pendidikan keluarga berawal dari pendidikan orang tuanya, khususnya ibu.
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
Pada tahun 1961, atas prakarsa Jawatan Pendidikan Kejuruan, oleh Departemen P&K (saat itu-red) dibentuklah panitia yang terdiri dari wakil-wakil departemen dan organisasi swasta guna menyusun sebuah tata susunan pendidikan PKK, yang disesuaikan dengan perkembangan dalam bidang kehidupan manusia dalam masyarakat Indonesia yang sedang membangun. Panitia tersebut menghasilkan sebuah Rencdana Pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga yang materinya adalah ” Sepuluh Segi Kehidupan Keluarga”, yaitu :
Dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 10 tahun 1980 tentang Pembinaan Kesejahteraan Keluarga telah ditetapkan 10 segi kehidupan keluarga sebagai berikut :
Pembinaan Kesehatan Keluarga antara lain disebut pula dalam GBHN mengenai Peranan Wanita dalam Pembangunan Bangsa. Sayangnya, kebijakan ini sepertinya telah menguap dimakan masa dan rezim yang sudah berganti-ganti sehingga hari ini kita tidak lagi melihat pemerintah sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan keluarga yang menjadi landasan bagi pembentukan karakter generasi muda yang akan datang.
Namun, apapun yang terjadi dengan pemerintahan ini, rakyat tetap memiliki kebebasan yang hakiki untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesejahteraannya dengan kearifan yang dimiliki oleh rakyat sendiri. Rasanya, perjalanan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya masih harus melewati periode yang panjang…………………………………..