
Dibaca: 348
Komentar: 36
3 dari 6 Kompasianer menilai Inspiratif
“sepertinya kita memang manusia-manusia iseng yang sudah gila,” itu bukan kata-kata seorang filosof atau seorang profesor, tapi itu kata seorang kompasianer yang menjejaki hidupnya dari komunitas ke komunitas. kalimat yang menggambarkan wajah anak-anak canting dalam sketsa kata-kata. kalimat itu tidak mutlak mengambarkan gila dalam makna umum, tapi gila dalam arti ke-abnormal-an yang mencoba melepaskan diri dari makna normal dalam kemapanan.
kegilaan ini yang membawa saya dan kawan-kawan kompasianer lain di jogja bergelut dengan pasir dan lumpur di muara kali opak, tertawa bersama kawan kecil di bantaran sungai pinggiran jogja, hingga naik turun perbukitan menembus daerah kering di wilayah terpencil di jogja. bertemu dengan banyak orang-orang hebat yang mengabdikan dirinya untuk sesuatu hal yang juga tidak normal. ada para pengawal mangrove, seorang ibu yang sudah mapan rela bergelut dengan anak-anak miskin kota, hingga seorang pemuda yang rela berjalan kaki naik turun bukit dan menembus desa untuk mengayomi anak-anak di pegunungan. bahkan para guru kejam yang “membunuh” muridnya dengan nilai.
perjalanan itu membawa saya pada sebuah pemahaman yang berbeda tentang dunia pendidikan. sebuah pemahaman bahwa setiap manusia memiliki penilaian tersendiri dengan arti konotasi dari kata “pintar”, siapa dan apa itu pintar. melihat dengan jelas bagaimana anak-anak desa di eksploitasi secara amat sangat kejam oleh guru dan orang tua. menjadikan angka adalah harta dan guru adalah dewa, serta kreatifitas dan kecerdasan lain diluar itu adalah sampah yang harus disingkirkan dan dibuang.
karena guru adalah dewa
diawali dari sebuah pertemuan di titik nol jogja dan dilanjutkan sebuah diskusi panjang di Taman Budaya, membawa kami dalam sebuah pergulatan dengan daerah yang sebenarnya hanya berjarak 1 Jam dari pusat kota jogja tapi memiliki kondisi yang amt sangat jauh. wajah pendidikan desa ini sama adalah sebuah tamparan maha keras untuk slogan jogja sebagai kota pendidikan. di desa S kecamatan Prambanan ini terlihat jelas sebuah “pertarungan” tidak imbang antara SD Inpres yang memiliki fasilitas berlebih dan ditunjang guru-guru bertitel sarjana dengan sebuah sanggar bermain berlanta tanah, berdinding bambu beratap terpal plasik warna biru yang dikelola oleh pendatang.
SD Inpres itu adalah satu-satunya Sekolah Dasar, dan menjadi sebuah sumber kebanggan para orang tua atas anaknya di desa itu. ya, sebuah sumber kebanggaan yang dimanfaatkan secara jeli oleh para guru sebagai sumber pendapatan tambahan. lihatlah anak-anak yang masih belia ini setiap harinya di jejali dengan segala macam tekanan dari guru. padahal di waktu yang sama apa yang dilakukan guru adalah sebuah pemenuhan atas kurikulum dan anak di kejar dengan nilai.
guru menjadikan dirinya sebagai monster dan dewa di waktu yang sama, dia menjadi monster di sekolah dengan deretan tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa dan di waktu yang sama, sang guru menjadi dewa penolong dengan mengadakan les di rumahnya, di luar waktu sekolah, maka hasilnya mudah di tebak, mereka yang mengikuti les di tempat sang guru mendapatkan jaminan nilai yang bagus. wajah-wajah guru seperti inilah yang sebenarnya membunuh para siswa yang masih di sekolah dasar ini. dan di saat yang sama doktrin-doktrin sesat perlahan ditiupkan kepada para orang tua di desa itu, bahwa gambaran anak pintar dan cerdas adalah mereka yang memiliki nilai raport yang besar.
angka dalam raport menjadi sebuah harta diam yang akan dipamerkan kepada tetangga oleh para orang tua, tapi sebuah kreatifitas dalam wujud karya seni sama sakali menjadi omong kosong. sehingga pemahaman bahwa mereka yang mampu mengerjakan 10 soal penjumlahan matematika lebih hebat dari seorang anak yang mampu membuat origami dan mereka yang memiliki nilai pelajaran 8 lebih cerdas dari seorang anak yang mampu mnulis cerita dam satu halaman penuh.
salah satu wujud monster guru SD itu muncul dengan jelas dalam gambaran seorang siswi bernama R, R adalah siswi cerdas yang dari kelas satu hingga kelas 4 selalu juara kelas. tapi kecelakaan kecil di halaman sekolah merubah hidupnya dalam sekejap. guru membunuhnya tanpa ampun, para guru SD Inpres ini menghancurkan jiwanya berkeping-keping. kecelakaan itu membuat R tidak bisa beranjak dari dipan tempat dia berbaring, disaat itu R diaksa untuk mengerjakan soal semester dengan diawasi bak tatapan singa mengincar kijang. dan itulah satu-satunya kunjungan sang guru ke rumanya.
atau bagaimana tangapan guru atas surat yang dikirim oleh orang tua untuk meminta sedkit pengertian phak sekolah akan kondisi R yang dua bulan tidak bisa bangun itu, dan tanggapan sekolah sungguh menggambarkan wajah monster dari guru. pihak guru malah menanggapinya dengan jawaban pendek “kecelakaan si R bukan terjadi karena kesalahan guru atau pihak sekolah”. itulah terkadang saya tidak faham sebenarnya apa yang di ajarkan pada seorang guru? inilah pertanyaan besar
kreatifitas itu sampah
“apa yang dikerjakan di SB itu, hanya gambar, nulis, boneka kertas, apa itu? tidak bermanfaat dan tidak ada hubungannya dengan pelajaran sekolah” itulah kalimat vulgar yang tersirat sangat jelas berisi penolakan atas sebuah sanggar bermain anak yang berisi penuh kreatifitas ari seorang tokoh masyarakat. pemahaman adalah sebuah dogma yang sulit di bantah, dan hanya bisa dijawab dengan sebuah pembuktian. hasil karya kawan-kawan kecil berupa tulisan, origami, gambar dan segala macam bentuk kesenian yang tidak pernah dinilai oleh angka itu bagi sebagian orang adalah omong-kosong.
deretan angka dalam raport adalah sebuah hal yang selalu di kejar, tidak ada yang salah dengan itu. tapi terlalu menilai segala hal dan kemampuan anak dengan mengesampingkan kemampuan akan-anak yang lain sangatlah menyesatkan. waktu anak-anak adalah waktu bermain, bukannya harus dikejar dengan tuntutan nilai, sehingga timbul pertanyaan besar dari angka dalam raport, “sebenarnya angka itu kebanggaan milik siapa, kebanggaan anak atau orangtua?”
ini adalah sebuah kekejaman dari dunia pendidikan Indonesia, terlalu lama wajah orang pintar Indonesia didominasi sketsa-seketsa kecerdasan Haibie, sehingga kebanyakan orang indonesia belum mampu menerima kemampuan yang dimiliki oleh Pramodya dan Affandi sebagia bagian dari kecerdasan seorang manusia. hal inilah yang menjadi pekerjaan tambahan bagi kita semua, bahwa orang yang menulis sama bahkan bisa lebih hebat dari mereka yang menjadi pilot.
jogja dan Indonesia tidak bisa melihat wajah pendidikannya di institusi pendidikan formal, tapi juga mereka juga yang di sanggar-sanggar penuh kreatifitas. ada banyak manusia berjuang di dunia pendidikan, walau tidak pernah berstatus “guru” dan bertarung dalam makna pengabdian . tapi banyak juga guru yang hanya menjadikan dirinya tangan-tangn kurikulum, dengan menjadi pengjar tanpa pernah menjadi pendidik.
sebagian hasil kreatifitas kawan kecil yang oleh sebagian warga dianggap omong-kosong
——————————–
maap karena satu dan lain hal, semua nama orang dan daerah disamarkan, untuk kepentingan yang lebih jauh. ada saatnya nanti kita semua akan tahu.