Kompasiana
Selasa, 07 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Husaini

Ureung Aceh yang ingin menatap dunia luas. Pengagum Hasan Tiro. Berminat untuk terus belajar tulis-menulis. Mengelola blog http://husaininurdin.wordpress.com/ dan http://kunjungiaceh.blogspot.com/

Ospek, Kenapa Mesti Dilarang?

OPINI | 28 July 2010 | 17:38 323 17 Nihil

Pro-kontra terhadap pelaksanaan orientasi pengenalan kampus (ospek) di Universitas Syiah Kuala ikut dilansir oleh koran Harian Aceh dua hari berturut-turut. Dikabarkan bahwa, pihak mahasiswa tetap berkomitmen untuk melaksanakan ospek pada tahun ajaran kali ini. Padahal sehari sebelumnya (Kamis, 12/7) diberitakan, pihak rektorat mengecam keras pelaksanaan ospek di kampus tersebut.

Pro-kontra pelaksanaan ospek di Unsyiah bukan lagi hal baru. Setidaknya semenjak tahun 2005, pelaksanaan ospek bagi mahasiswa baru di kampus ini sudah mulai menuai perkara. Karena bermasalah dengan pelaksanaannya sehingga ospek pada tahun 2005 ini ditiadakan dan berakhir dengan di-drop out-nya (diberhentikan sementara) sejumlah mahasiswa.

Juga ospek tahun 2006, pelaksanaan ospek sempat diwarnai bentrokan antar mahasiswa. Aksi ini terjadi di Fakultas Pertanian yang berakhir dengan penghancuran gedung Carniva.

Memang, pelaksanaan ospek tidak hanya diperdebatkan di kampus Unsyiah saja. Namun juga hampir di seluruh perguruan tinggi. Karena selama ini praktek ospek dinilai tidak luput dari aksi tindak kekerasan dan ajang balas dendam kakak leting terhadap adik letingnya. Namun, ospek telah menjadi sebuah tradisi di kampus dan sepertinya tidak sedikit juga hal positif dari sebuah kegiatan ospek.
Tradisi ospek di kampus telah dilaksanakan secara turun-temurun setiap masuk mahasiswa baru. Meskipun sebutan namanya kadang berbeda-beda; ada pekan ta’aruf, ordikmaru dan lain sebagainya, namun inti tetap sama yakni pengenalan kampus.

Lazimnya sebuah tradisi (adat) yang berlaku di sebuah kampung, sehingga ospek ini jarang dilewatkan oleh insan kampus. Bisa dikatakan bahwa ospek telah menjadi sebuah ritual tahunan di perguruan tinggi.

Nah, lalu mengapa ada pelarangan dari pihak rektorat terhadap pelaksanaan ospek tersebut? Padahal kampus Unsyiah telah melaksanakan ospek setiap tahun ajaran penerimaan mahasiswa baru. Dan mengapa di kampus tetangganya, IAIN Ar-Raniry, tidak ada pelarangan terhadap pelaksanaan ospek.
Bahkan tahun ajaran kali ini, pelaksanaan ospek di kampus IAIN Ar-Raniry telah berlangsung dengan tertib dan aman selama tiga hari berturut-turut. Meski dilaksanakan di kampus lama, ospek di kampus IAIN tidak diwarnai aksi kekerasan dan kericuhan.

Kalau memang IAIN bisa melaksanakan ospek dengan tertib, lalu mengapa pelaksanaan ospek di kampus Unsyiah dilarang? Apakah pihak mahasiswa di Unsyiah tidak mampu mewujudkan ospek yang tertib dan aman tanpa tindak kekerasan?

Semestinya, kalau kita mau jujur, ospek itu juga banyak manfaatnya. Banyak hal positif dari pelaksanaan ospek tersebut jika dibandingkan mudaratnya. Setidaknya bagi mahasiswa baru yang ikut serta dalam kegiatan ospek tersebut.

Dengan mengikuti ospek, mahasiswa baru itu akan mengetahui lebih banyak tentang kampusnya. Dengan demikian, mereka dapat menyusun sebuah perencanaan dan targetnya ke depan selama belajar di kampus. Ia mengetahui cara bagaimana beradministrasi di kampus; mengurus dan mengisi kartu rencana studi (KRS), tentang beasiswa, dan surat-surat keterangan lainnya. Ia juga bisa mengetahui organisasi-organisasi yang ada di kampus, mana yang sesuai dengan bakat dan minatnya, dan mana yang bagus bagi masa depannya.

Selain itu, mereka akan mengetahui tri darma perguruan tinggi. Sehingga seorang mahasiswa harus tahu apa tujuan dan tugas yang diembannya. Dengan mereka mengetahui tri darma perguruan tinggi, mereka akan mudah dalam menentukan arah dan tujuannya sebagai seorang mahasiswa.
Mereka akan saling mengenal. Mungkin itu adalah salah satu manfaat yang juga sangat berguna bagi mereka. Dengan saling kenal, mereka dapat berbagi pengalaman, tukar informasi, saling bantu-membantu dan bahu-membahu dalam kegiatan perkuliahan nantinya. Karena semua kita butuh bantuan orang lain.

Juga mengenal kakak letingnya. Sehingga mahasiswa baru itu akan menghormati kakak letingnya dan tidak akan segan lagi untuk bertanya kepada kakak letingnya khususnya perihal perkuliahan.
Dalam ospek biasanya mahasiswa baru juga diberikan pengetahuan tentang berorganisasi. Diajarkan manajemen organisasi dan etika berbicara di depan publik juga cara berorasi. Dan masih ada lagi hal-hal positif lainnya yang bisa bermanfaat bagi mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan ospek tersebut.

Namun, meskipun kegiatan ospek itu banyak manfaatnya, tidak jarang juga pelaksanaan ospek justru memberikan dampak buruk bagi mahasiswa baru. Mereka kerap mendapat perlakuan kasar tidak manusiawi, dianiaya oleh kakak letingnya, dan sejumlah tindak kekerasan lainnya.

Karena selama ini ospek itu sendiri terkesan dijadikan ajang balas dendam leting tua terhadap adik letingnya. Tak bisa dipungkiri, telah banyak kasus yang telah mencoreng pelaksanaan ospek bagi mahasiswa baru. Makanya kini pelaksanaan ospek menuai pro-kontra. Dimana semestinya ospek bertujuan untuk membimbing adik letingnya, justru disalahmanfaatkan oleh kakak leting. Ospek menjadi ajang intimidasi dan balas dendam. Apa yang dirasakannya dulu, ingin dibalasnya kepada generasinya itu.

Aksi balas dendam dan intimidasi sungguh tercela dalam pelaksanaan ospek di kampus. Aksi-aksi ini tergolong dalam tindakan premanisme di lingkungan kampus. Seperti kasus yang terjadi di kampus IPDN beberapa waktu lalu.

Dan sebenarnya, tindakan-tindakan tercela dalam pelaksanaan ospek bisa diminimalisir bahkan bisa dihindari. Salah satunya lewat terjunnya pihak rektornya ke tengah pelaksanaan ospek dengan ikut memantau langsung jalannya ospek dan bahkan ikut mengarahkan dan juga membimbingnya. Sehingga pihak rektorat tidak mesti takut dan khawatir munculnya tindak kekerasan dalam pelaksanaan ospek bagi mahasiswa baru.

Kalau memang pihak mahasiswa mau melaksanakan ospek, mengapa pihak rektorat justru melarangnya. Rasanya tak ada yang perlu dilarang seandainya semua kita mau berkomitmen untuk merubahnya. Agar image ospek yang kini sudah jelek bisa dirubah menjadi lebih baik. Semoga!

*dimuat di Harian Aceh


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012