Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Reflusmen

Merindukan Indonesia Makmur

Belajar dari Ayam Kampung

OPINI | 29 July 2010 | 22:32 Dibaca: 1603   Komentar: 8   2

Dagingnya enak, telurnya mengandung protein lebih banyak. Harganya lebih mahal dibanding Ayam Ras. Mengapa tidak dipelihara secara intensip seperti ayam negeri?.

Bicara ayam kampung, asosiasi KITA bisa kemana-mana, tergantung sudut pandang. Bisa positive, bisa negative. Rubah sudut pandang jadi positive agar kita jadi bahagia. Begitu yang ku dapat dari Louis Sastrawijaya si Motivator saat ikut Inhouse Traning beberapa waktu yang lalu dan yang kubaca dari buku 100% MOTIVATED! Karangannya. (Pelajaran ke 1).

Sisi positive dari Ayam Kampung adalah : dagingnya enak, telurnya mengandung protein lebih banyak. Harganya lebih mahal dibanding Ayam Ras. High risk, high return. Hidup itu jangan dibikin susah, kalau mau enak yaa mahal ! Begitu celoteh temanku waktu ngobrolin kuliner. Rasa bintang lima, harga kaki lima. Emang ada ? (Pelajaran ke 2)

Berangkat dari statement yang sederhana tentang kelebihan Ayam Kampung, melayang-layang dibenakku pertanyaan. Kok nggak dipelihara intensip seperti ayam negeri?. Daging dan telurnya mahal!. Akhirnya aku mencoba memelihara Ayam Kampung dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Begini ceritanya.

Ayam Kampung memperbanyak keturunan dengan cara mengerami telurnya. Telur menetas karena kehangatan. Oleh sebab itu sangkar bagian dalam kulapis dengan seng dan kemudian kumasukan rumput kering. Induk ayam senang bertelur disangkar yang empuk, bahkan ayam tetanggapun ikut bertelur disana. Semua telur yang dierami menetas, mungkin efek dari seng yang membawa kehangatan. Soal yang enak-enak, binatangpun suka, apalagi manusia (Pelajaran ke 3).

Setelah ayam menetas, aku teringat lagu waktu kecil : Anak ayam turun sepuluh, mati satu tinggal sembilan dstnya. Agar tidak mati, semua anak ayam aku masukan kedalam peti ukuran 1 x 1 x 1 meter. Induknya kumandiin agar kawin lagi supaya cepat bertelur (kata orang tuaku). Apa yang terjadi ? Didalam peti anaknya menjerit: cit-cit-cit (Seperti Anak ayam kehilangan induk. Kenyataan !). Satu minggu induknya merepet disamping peti karena kehilangan anaknya. Siapa yang mau kehilangan anak ? (Pelajaran ke 4)

Dalam peti kupasang bola lampu yang ditutupi dengan seng (seperti Kap lampu petromak). Dimalam hari semua anak ayam tidur dibawah kap tersebut mencari kehangatan. Makanya anak ayam tidur dibawah ketiak induknya, pernah lihat kan!

Kalau masa kecil sampai dewasa anda hidup di Metropolitan mungkin nggak pernah liat, percaya deh, aku nggak bohong he he he. Bahasa Tipce : (Pelajaran ke 5)

Setelah anak ayam berkembang menjadi sebesar burung Merpati, semuanya ku lepas ke alam bebas. Apa yang terjadi ? Sedih hatiku, mengapa kulepas?. Hanya dalam tempo satu hari, semua ayamku habis dimakan anjing dan kucing karena ayamku tidak pernah diajarkan membelah diri. Di dalam peti hidup dimanja dapat makan dan minum setiap hari. Mungkin ini bisa terjadi juga buat anak yang dimanja oleh orang tuanya. Berkaca dari itu, anda tidak boleh berharap banyak kepada pegawai baru untuk langsung tancap gas, perlu dibimbing dulu seperti anak ayam tadi ha ha ha. (Pelajaran ke 6).

Bagaimana dengan Induknya yang kumandiin, apa memang cepat kawin ? ha ha ha.

Ternyata dia bermesra-mesraan dulu dengan si Jago, si Jagopun tau bahwa si betina habis mengeram, belum bersih kali ya ! Masa nipas ?. Kalau manusia yang nggak kuat iman, mungkin sudah Poligami. Kalah sama ayam ha ha ha.

Ayam kampung itu tidak produktip bertelurnya, hanya 120 butir dalam setahun. Beda dengan ayam ras yang bertelur 260 buir per tahun (www.sentralternak.com). Inilah jawaban dari pertanyaan mengapa ayam kampung tidak dipelihara intensip. Cost and benefitnya nggak mecing. Alias rugi atau bahasa si tukang kredit, nggak feasible. (Pelajaran ke 7).

Ayam kampung kok dibahas ! Ada-ada wae he he he

*) merepet (bahasa melayu) = marah-marah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 17 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Aku Muak!!! [Lisal] …

Singgih Swasono | 10 jam lalu

Kalau di Tokyo Berada di Stasiun yang Salah …

Andre Jayaprana | 10 jam lalu

High Lifestyle, Low Happiness …

Azzahra Khairunnisa | 10 jam lalu

Is It Date? di Rumah Sakit? …

Irma Sri Nurwati Ut... | 10 jam lalu

Uang Penglaris …

Isti | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: