Artikel

Edukasi

Herdiansyah Hamzah

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Orang yang biasa-biasa saja, hanya sekedar berusaha berbagi dengan apa yang saya miliki untuk sesama. Kunjungi blog pribadi saya di http://www.herdiansyah.net

Wajah Dunia Pendidikan Otoriter


OPINI | 08 August 2010 | 18:59 Dibaca: 167   Komentar: 1   Nihil

Wajah buram sistem pendidikan Indonesia yang otoriter. Jangan hanya diam.

Wajah buram sistem pendidikan Indonesia yang otoriter. Jangan hanya diam.

Mega Ayu Karina, Rusdiana Islamiati, Devi Rizki, dan Anisah Nurul Hidayah, adalah 4 (empat) pelajar siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) asal Probolinggo, Jawa Timur yang mengalami nasib tragis. Keempat siswa tersebut dikeluarkan dari sekolah mereka di SMAN 2 Probolinggo, hanya karena protes mereka di situs jejaring social Facebook.

Seperti yang diberitakan, keempat pelajar tersebut memprotes beberapa kejadian janggal yang terjadi disekolah mereka, seperti hilangnya beberapa helm milik siswa, jok motor yang disilet, bahkan sepatu yang ditaruh di musala juga dirusak (disileti) (Sumber : Kompas). Alasan mengungkapkan protes difacebook, sebenarnya didasari oleh protes mereka sebelumnya yang tidak pernah ditanggapi oleh pihak sekolah.

Menurut Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Bidang Hubungan Masyarakat Muhamad Zaini, tindakan keempat siswanya tersebut sudah dianggap melampaui batas. “Mereka tidak saja memprotes berulang kali di Facebook, namun juga menghujat dengan kata-kata kotor,” jelas Zaini (Sumber : Yahoo News).

Kita tentu saja tidak boleh lupa akar permasalahan sebenarnya. Bahwa meski keempat pelajar tersebut dianggap mengeluarkan kata-kotor, namun mereka memiliki dasar yang cukup kuat untuk itu. Kata pepatah, semutpun akan merasa sakit jika diinjak, dan hal yang sama juga terjadi kepada pelajar tersebut. Protes yang sekian lama tidak ditanggapi, tentu saja memicu rasa marah dan tidak puas terhadap sekolah yang justru harusnya menjadi sandaran harapan mereka.

Namun dari kejadian tersebut membuktikan bahwa, praktek dominasi kekuasaan yang otoritarian, masih kental berlangsung di dalam dunia pendidikan Indonesia. Protes dan keluhan dihadapi dengan sanksi pemecatan, bahkan pertanyaan dan usulan dianggap masih terlalu tabu. Bukankah ini justru jauh dari muatan mendidik?

Sebagai dunia pendidikan yang ilmiah, seharusnya sekolah-sekolah di Indonesia lebih mampu menanamkan budaya egaliter dan demokratis kepada siswa dan pelajarnya, bukan justru bertangan besi seperti yang dialami keempat pelajar tersebut. Protes dan tuntutan seharusnya dimaknai sebagai kritikan demi kemajuan pendidikan kita.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: